Terobosan Baru untuk Atasi Kanker Paru Ada di Indonesia

Ririn Indriani, Risna Halidi

Sabtu, 07 Oktober 2017 | 11:13 WIB
Terobosan Baru untuk Atasi Kanker Paru Ada di Indonesia
Ilustrasi kanker paru. (Shutterstock)

Suara.com - Seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, kanker bukan lagi penyakit tunggal yang berdiri sendiri melainkan merupakan sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh kerusakan program kematian sel otomatis atau apoptosis.

Perlu Anda ketahui bahwa sel-sel di tubuh manusia seperti sel darah, kulit, dan rambut memiliki umur terbatas dan secara berkala akan mati dan digantikan sel baru. Namun pada sel abnormal, yang kemudian disebut sel kanker, program 'bunuh diri' sel ini tidak berjalan, sehingga sel menjadi imortal dan akan terus tumbuh, tapi tidak memiliki fungsi sebagaimana mestinya.

Spesialis Patologi Anatomi dari RSK Dharmais, dr. Evalina Suzana menjelaskan bahwa definisi baru penyakit kanker ini seiring dengan ditemukannya pengobatan terbaru untuk kanker. Pada 2000-an, misalnya, mulai ditemukan mutasi genetik yang menyebabkan pertumbuhan kanker tidak terkendali.

"Dari situ mulai dipelajari bahwa kanker itu bukan satu jenis penyakit, tetapi kumpulan penyakit. Ada ribuan jenis kanker bahkan untuk satu jenis sel kanker yang sama. Misalnya pada kanker paru, jika ditelusuri sampai tingkat seluler bahkan molekular, ada ribuan jenisnya,” jelas dr. Evalina dalam acara diskusi “Pemeriksaan PD-L1 untuk Imunoterapi pada Kanker Paru,” yang digelar Forum Ngobras di Jakarta, Jumat, (6/10/2017).

Salah satu temuan terbaru dalam mekanisme kerja sel kanker di tingkat molekuler adalah ditemukannya reseptor pada sel kanker yang dapat mengelabui sel imun tubuh (sel-T) sehingga tidak dapat mengenali sel kanker.

Di permukaan sel-T ini, ada molekul PD-1 (program death-1) yang berfungsi mematikan sel musuh (sel kanker). Namun ternyata, sel kanker pandai menumbuhkan PD-L1 (program death-Ligand 1) yang berikatan dengan PD-1 pada sel T sehingga sel-T tidak mampu mengenali sel kanker untuk dihancurkan.  

Untuk mencegah PD-1 dan PD-L1 ini berikatan, Evalina mengatakan 'harus diputus interaksinya'. Maka dari itu, peneliti kemudian mengembangkan obat yang kemudian dikenal dengan imunoterapi.

Pembrolizumab adalah terapi kanker pertama dengan konsep imunoterapi yang sudah masuk ke Indonesia. Temuan baru di bidang imunoterapi ini adalah terobosan penting dalam terapi kanker, terutama kanker paru.

"Selama ini pengobatan kanker paru hanya mengandalkan bedah, kemoterapi, radioterapi. Memang sebelumnya sudah ada terapi target yang juga bersifat sangat individual. Artinya, setiap penderita kanker mengalami kerusakan DNA berbeda sehingga terapinya berbeda," jelas Evalina lagi.

Sebelum pasien kanker paru diputuskan untuk melakukan imunoterapi, pasien harus melakukan pemeriksaan biomarker PD-L1, untuk menunjukkan bahwa sifat sel kanker memiliki PD-L1, yang merupakan target dari imunoterapi pembrolizumab, serta mendukung hasil terapi. Jika PD-L1 terbukti positif, maka sel kanker akan merespon dengan baik pengobatan pembrolizumab.

Hasil penelitian menunjukkan, lebih dari 50 persen pasien kanker paru yang diberikan pembrolizumab memiliki harapan hidup panjang.

"Pembrolizumab disebut pengobatan imunoterapi karena cara kerjanya mengaktifkan kembali sel imun sehingga dapat mengenali dan menghancurkan sel-sel kanker. Sifat imortal sel kanker dibebaskan dengan obat ini, sehingga program kematian sel oleh sistem imun akan bekerja normal kembali," jelas Evelina.

Untuk itu, lanjut Evalina, saat ini pemeriksaan PD-L1 sudah menjadi standar diagnostik untuk kanker paru. "Jika ditemukan pasien kanker paru, maka periksalah jenis sel kankernya. Jika jenis sel kanker paru bukan sel kecil, maka segera lakukan tes PD-L1. Saat ini tes PD-L1 sudah menjadi standar diagnostic untuk  kanker paru, sebagai syarat pemberian imunoterapi."

Sebagai kelanjutan standar diagnostic tes PD-L1, saat ini sedang berlangsung pelatihan di 14 center patologi anatomi di rumah sakit kelas A (tersier) di seluruh Indonesia antara lain RSCM, RS Persahabatan, RS Fatmawati, RS Adam Malik Medan,  RS Sanglah Bali, RS dr Soetomo Surabaya, RS dr. Kandou di Manado, RS dr Karyadi Semarang, RS dr Sardjito Yogyakarta, juga RS Hasan Sadikin Bandung . "Diharapkan dalam sebulan sampai dua bulan ini rumah sakit tersebut sudah bisa melakukan tes PD-L1," ujar Evalina.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru

Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru

Health | Selasa, 08 Agustus 2017 | 12:34 WIB

Obat Baru Kanker Ini Punya Efek Samping Tak Terduga

Obat Baru Kanker Ini Punya Efek Samping Tak Terduga

Health | Senin, 24 Juli 2017 | 11:12 WIB

Imunoterapi, Metode Terkini Atasi Kanker Paru

Imunoterapi, Metode Terkini Atasi Kanker Paru

Health | Jum'at, 16 Juni 2017 | 14:27 WIB

Terkini

Dear Bakom RI! Ini Santapan Lamine Yamal Biar Gesit, Apa Ada di Menu MBG?

Dear Bakom RI! Ini Santapan Lamine Yamal Biar Gesit, Apa Ada di Menu MBG?

Bola | Senin, 28 September 2026 | 21:06 WIB

Motul Pamerkan Teknologi Pelumas McLaren di Grand Prix Italia

Motul Pamerkan Teknologi Pelumas McLaren di Grand Prix Italia

Otomotif | Senin, 28 September 2026 | 21:05 WIB

Prabowo Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa Atas Berpulangnya Guruh

Prabowo Takziah ke Kediaman Megawati, Sampaikan Belasungkawa Atas Berpulangnya Guruh

News | Senin, 28 September 2026 | 21:00 WIB

Menko Polkam Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Karhutla

Menko Polkam Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Karhutla

Video | Senin, 28 September 2026 | 21:00 WIB

Bakom RI Sebut Lamine Yamal Saat Bicara MBG, Publik: Takut Nanti Yamal Keracunan

Bakom RI Sebut Lamine Yamal Saat Bicara MBG, Publik: Takut Nanti Yamal Keracunan

News | Senin, 28 September 2026 | 20:55 WIB

Bukan Lagi Sekadar Glowing, Tren Kecantikan Kini Fokus pada Struktur Kulit

Bukan Lagi Sekadar Glowing, Tren Kecantikan Kini Fokus pada Struktur Kulit

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 20:43 WIB

Dari 49 ke 14 Tahun, Temuan 400 Ribu Data Invalid Ubah Peta Antrean Haji

Dari 49 ke 14 Tahun, Temuan 400 Ribu Data Invalid Ubah Peta Antrean Haji

News | Senin, 28 September 2026 | 20:39 WIB

Belanja Bulanan di Alfamidi Dapat Susu Gratis dari BRI, Ini Caranya

Belanja Bulanan di Alfamidi Dapat Susu Gratis dari BRI, Ini Caranya

Bri | Senin, 28 September 2026 | 20:37 WIB

Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, GEMAS Hadirkan 2 Saksi Pendamping Korban Orba

Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, GEMAS Hadirkan 2 Saksi Pendamping Korban Orba

News | Senin, 28 September 2026 | 20:32 WIB

Babak I Indonesia vs Malaysia: Haye Kartu Merah, Lini Depan Mandul, Paes Gemilang

Babak I Indonesia vs Malaysia: Haye Kartu Merah, Lini Depan Mandul, Paes Gemilang

Bola | Senin, 28 September 2026 | 20:26 WIB

×