IDAI : Kalau Angka Kematian Bayi Tidak Turun, Salahkan BPJS!

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Kamis, 02 Agustus 2018 | 18:01 WIB
IDAI : Kalau Angka Kematian Bayi Tidak Turun, Salahkan BPJS!
Ilustrasi bayi baru lahir. (Shutterstock)

Suara.com - Indonesia masih menghadapi kasus kematian ibu dan bayi baru lahir yang cukup tinggi, tapi di tengah upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi saat proses persalinan, BPJS Kesehatan justru mengeluarkan aturan yang menyebutkan bahwa bayi baru lahir dalam kondisi sehat yang melalui persalinan caesar maupun normal dibayar dalam satu paket persalinan.

Sedangkan bayi yang lahir dengan membutuhkan penanganan khusus hanya akan dijamin jika sebelum lahir didaftarkan terlebih dahulu sebagai anggota BPJS Kesehatan. Menanggapi hal ini, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Aman Pulungan SpA (K), mengatakan peraturan ini sangat mendiskriminasi bayi yang baru lahir.

"Kita lihat di Undang-Undang setiap orang berhak hidup dan mempertahankan kehidupannya. Ini bayi baru mau hidup tidak dikasi hak. Bagaimana mau melanjutkan kehidupan kalau anak tidak mendapat hak untuk hidup. Cuma di Indonesia bayi belum lahir sudah terdiskriminasi," ujar dr Aman ketika ditemui di sela-sela konferensi pers yang dihelat PB Ikatan Dokter Indonesia, Kamis (2/8/2018).

Aman mengatakan, saat pelantikan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek sempat menanyakan upaya yang bisa dilakukan IDAI dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Hingga akhirnya program Wajib Kerja Dokter Spesialis pun disahkan oleh Presiden Joko Widodo dengan mengalokasikan dokter-dokter spesialis untuk mengabdi di pelosok Indonesia.

Namun dengan adanya aturan baru BPJS Kesehatan ini, ia pesimis angka kematian ibu dan bayi baru lahir bisa ditekan. Pasalnya, aturan ini menyulitkan para dokter memberikan penanganan sesegera mungkin karena masalah administrasi.

"Negara harus menanggung semua ini agar menurunkan angka kematian bayi. Mereka punya hak untuk hidup. Hidup tapi cacat karena penanganan telat, siapa yang bayar. Kalau IDAI tidak bisa menurunkan angka kematian bayi salahkan BPJS," ujarnya tegas.

Sebagai perbandingan, angka kematian bayi di Indonesia masih berada pada angka 23,3 per 1000 bayi lahir. Padahal di negara lain seperti Brunei kasus kematian bayi hanya 9 per 1000 kelahiran, Malaysia 7 per 1000 kelahiran, dan Singapura 2 kasus dari 1000 bayi yang lahir.

"Vietnam yang baru selesai perang saja 15 per 1000 kelahiran. Bisa dibayangkan kita tidak akan pernah menurunkan angka kematian bayi kita di Indonesia kalau peraturan ini ditegakkan," tandas dia.

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

BPJS Batasi Kuota Operasi Katarak, Perdami Buka Suara

BPJS Batasi Kuota Operasi Katarak, Perdami Buka Suara

Health | Kamis, 02 Agustus 2018 | 16:58 WIB

BPJS Terapkan Aturan Baru, Ikatan Dokter Indonesia Menyayangkan

BPJS Terapkan Aturan Baru, Ikatan Dokter Indonesia Menyayangkan

Health | Kamis, 02 Agustus 2018 | 12:45 WIB

Wapres: BPJS Tak Mengharapkan Anda Sakit

Wapres: BPJS Tak Mengharapkan Anda Sakit

News | Minggu, 29 Juli 2018 | 08:43 WIB

Terkini

Ahmad Doli Kurnia Diseret dalam Isu Munaslub Golkar 29 November, Tegaskan Tak Tahu Menahu

Ahmad Doli Kurnia Diseret dalam Isu Munaslub Golkar 29 November, Tegaskan Tak Tahu Menahu

News | Sabtu, 07 November 2026 | 10:03 WIB

Tampung 20.300 Meter Kubik Air, Embung Batu Bangkong Jadi Andalan Cegah Banjir

Tampung 20.300 Meter Kubik Air, Embung Batu Bangkong Jadi Andalan Cegah Banjir

Foto | Sabtu, 07 November 2026 | 10:00 WIB

Estetika Kehancuran dan Perenungan di Serial Love, Death & Robots Volume 4

Estetika Kehancuran dan Perenungan di Serial Love, Death & Robots Volume 4

Your Say | Sabtu, 07 November 2026 | 10:00 WIB

Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan

Asosiasi Industri Makanan dan Minuman: Rupiah Mengkhawatirkan

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 09:56 WIB

"Saya Sangat Marah Sekali!" Ungkapan Kekecewaan Jokowi Usai Mendiang Orang Tuanya Turut Dituding

"Saya Sangat Marah Sekali!" Ungkapan Kekecewaan Jokowi Usai Mendiang Orang Tuanya Turut Dituding

Video | Sabtu, 07 November 2026 | 09:55 WIB

BP BUMN Perkuat Permodalan DSI Sebagai Perantara Ekspor Tunggal

BP BUMN Perkuat Permodalan DSI Sebagai Perantara Ekspor Tunggal

Bisnis | Sabtu, 07 November 2026 | 09:40 WIB

Tanggapan Kapolda Riau soal Laporan Konten TikTok yang Catut SF Hariyanto

Tanggapan Kapolda Riau soal Laporan Konten TikTok yang Catut SF Hariyanto

Riau | Sabtu, 07 November 2026 | 09:22 WIB

Siapa Dumatno? Sosok yang Disinggung Jaksa dalam Sidang Ijazah Jokowi

Siapa Dumatno? Sosok yang Disinggung Jaksa dalam Sidang Ijazah Jokowi

News | Sabtu, 07 November 2026 | 09:13 WIB

Parfum Kahf Paling Enak Warna Apa? Ini 5 Varian dengan Karakter Aroma Berbeda

Parfum Kahf Paling Enak Warna Apa? Ini 5 Varian dengan Karakter Aroma Berbeda

Lifestyle | Sabtu, 07 November 2026 | 09:10 WIB

Kisah Pilu Wanita di Tulang Bawang Tertipu Pria Idaman di Aplikasi Kencan, Uang Rp110 Juta Ludes

Kisah Pilu Wanita di Tulang Bawang Tertipu Pria Idaman di Aplikasi Kencan, Uang Rp110 Juta Ludes

Lampung | Sabtu, 07 November 2026 | 09:10 WIB

×