957 Orang Terinfeksi, Ini 5 Fakta tentang KLB Hepatitis A di Pacitan

Vika Widiastuti, Rosiana Chozanah

Rabu, 03 Juli 2019 | 15:07 WIB
957 Orang Terinfeksi, Ini 5 Fakta tentang KLB Hepatitis A di Pacitan
Ilustrasi Hepatitis A. (shutterstock)

Suara.com - Kasus Kejadian luar biasa (KLB) Hepatitis A di Pacitan telah menyedot perhatian banyak pihak. Hingga Senin (1/7/2019) kemarin dilaporkan jumlah warga yang terinfeksi virus Hepatitis A di Pacitan, Jawa Timur, sudah mencapai 957 orang.

Kasus ini awalnya dilaporkan Puskemas Sudimoro ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan pada 15 Juni 2019 setelah adanya delapan kasus yang diduga hepatitis A. 

Untuk mengetahui kasus ini lebih detail, berikut telah Suara.com rangkum dari berbagai sumber terkait kasus hepatitis A di Pacitan.

1. Hepatitis A bisa sembuh

Hepatitis A bisa disembuhkan. Menurut healthline, pasien hepatitis A akan pulih sepenuhnya dalam hitungan minggu atau beberapa bulan dan biasanya tidak ada konsekuensi jangka panjang yang negatif akibat virus ini. 

Tubuh biasanya akan membangun kekebalan terhadap penyakit ini setelah tertular virus hepatitis A. Sistem kekebalan tubuh yang sehat akan mencegah mencegah berkembangnya penyakit Jika Anda terpapar kembali. 

Kenali penyebab dan cara pengobatan Hepatitis A. (shutterstock)
Kenali penyebab dan cara pengobatan Hepatitis A. (shutterstock)

2. Cincau dan air diduga jadi penyebabnya

Dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengatakan, Tim Gerak Cepat Kemenkes, Dinkes Provinsi Jawa Timur, BBTKL-PP Surabaya, Dinkes Kabupaten Pacitan dan Puskesmas Sudimoro segera melakukan penyelidikan epidemiologi.

Hasilnya, wabah hepatitis A yang tersebar di sembilan puskesmas di Pacitan diduga menular melalui kontaminasi air dan makanan.

baca juga

"Bisa dari air karena di sana ada yang namanya Sungai Sukorejo, yang membelah daerah kejadian Hepatitis A ini dan atau penjual makanan yang menjajakan dagangannya ke beberapa desa di sana. Serta adanya tradisi makan bersama yang juga bisa diedarkan melalui satu desa ke desa yang lain," jelas dia dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Senin (1/7/2019).

Ia melanjutkan, warga di daerah yang terkena wabah ternyata banyak yang mengonsumsi jangelan atau cincau yang dijajakan pedangan keliling saat Ramadan lalu.

"Sementara media yang digunakan berupa air yang diduga mengunakan air yang tidak dimasak, tetapi perlu dilakukan analisis epidemiologi lebih lanjut terkait hal ini," ujarnya lagi.

Dilansir dari healthline, selain lewat makanan dan air minum, virus hepatitis A ini juga menyebar melalui kontak pribadi dengan orang yang terinfeksi. Seseorang yang menderita hepatitis A dapat dengan mudah menularkan penyakit ini ke orang lain yang tinggi serumah. 

3. Lingkungan wabah hepatitis A banyak limbah

Ternyata di sepanjang aliran sungai banyak limbah rumah tangga yang mengalir ke sungai. Air sungai tersebut didistribusikan melalui mobil tangki untuk dijual ke masyarakat di mana air tersebut digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih.

Secara geografis, daerah yang mengalami KLB hepatitis A ini adalah daerah pegunungan yang sedang mengalami musim kemarau sehingga kesulitan mendapatkan air bersih.

Untuk mengurangi pola penularan, kata dr. Anung, Kemenkes telah melakukan sejumlah upaya, di antaranya pengamanan sumber air bersih melalui kaporisasi sumber air bersih.

4. Cuci tangan penting untuk pencegahan

Untuk mencegah terinfeksi virus hepatitis A, seorang akademisi dan praktisi kesehatan, Prof. Ari Fahrial Syam, menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang teratur dan bergizi serta istirahat cukup.

Selain itu, cuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan dan setelah keluar dari toilet juga penting. Terlebih jika penyakit ini menular melalui makanan dan minuman. Selain itu, orang yang merawat pasien hepatitis A harus menjaga daya tahan tubuhnya dengan baik. 

Bukan itu saja, vaksin juga penting dilakukan untuk mencegah penularan virus hepatitis A. Dilaporkan Healthline, vaksin dilakukan dalam dua suntikan, terpisah 6-12 bulan.

Lalu, jika Anda mengunjungi tempat penularan hepatitis A, lebih baik jalani vaksin dua minggu sebelum bepergian. Biasanya dibutuhkan dua minggu setelah suntikan pertama bagi tubuh Anda untuk mulai membangun kekebalan terhadap hepatitis A.

Namun, jika Anda tidak bepergian selama sekitar satu tahun, lebaih baik mendapatkan kedua suntikan sebelum pergi.

5. Musim pancaroba berisiko meningkatkan jumlah pasien

Menurut Prof. Ari Fahrial Syam, jumlah kasus penyakit hepatitis A ini bisa meningkat di akhir musim kemarau dan di awal musim penghujan seperti yang sedang terjadi saat ini.

Tetapi, karena penyakit ini menular melalui makanan atau minuman serta kontak langsung, masyarakat tidak perlu khawatir jika hanya bertemu dengan penderita.

Jadi, tidak ada larangan khusus untuk masyarakat yang ingin mengunjungi Pacitan. Dr. Anung hanya mengimbau, diusahakan bepergian dalam keadaan sehat, serta tetap mengutamakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jelang Lawan Inggris, Norwegia Diserang Wabah Flu: Bagaimana Kabar Haaland?

Jelang Lawan Inggris, Norwegia Diserang Wabah Flu: Bagaimana Kabar Haaland?

Your Say | Kamis, 09 Juli 2026 | 17:00 WIB

Wabah Misterius Menyerang AS! 145 Orang Korban Diare Akut di 20 Negara Bagian

Wabah Misterius Menyerang AS! 145 Orang Korban Diare Akut di 20 Negara Bagian

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 06:00 WIB

Canggih, Lampu Kabin Mobil Hyundai Bisa Musnahkan Bakteri: Begini Cara Kerjanya

Canggih, Lampu Kabin Mobil Hyundai Bisa Musnahkan Bakteri: Begini Cara Kerjanya

Otomotif | Jum'at, 26 Juni 2026 | 14:59 WIB

Alarm Bahaya Wabah Ebola, IPMG Percepat Transfer Riset Farmasi di Indonesia

Alarm Bahaya Wabah Ebola, IPMG Percepat Transfer Riset Farmasi di Indonesia

News | Rabu, 27 Mei 2026 | 12:10 WIB

Tragedi Ebola Kongo: Disangka Virus Hoaks Hingga Kehilangan Seluruh Keluarga

Tragedi Ebola Kongo: Disangka Virus Hoaks Hingga Kehilangan Seluruh Keluarga

News | Senin, 25 Mei 2026 | 13:12 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Rumah Sakit Ebola di Kongo Dibakar Keluarga Pasien Terjangkit, Dilarang Bawa Jenazah Keluar RS

Rumah Sakit Ebola di Kongo Dibakar Keluarga Pasien Terjangkit, Dilarang Bawa Jenazah Keluar RS

News | Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:03 WIB

WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo Darurat Internasional, Risiko Kematian 32,5 Persen

WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo Darurat Internasional, Risiko Kematian 32,5 Persen

Health | Rabu, 20 Mei 2026 | 13:13 WIB

Waspada Penyakit Virus Ebola: Kenali Gejala Awal dan Langkah Pencegahannya

Waspada Penyakit Virus Ebola: Kenali Gejala Awal dan Langkah Pencegahannya

Health | Selasa, 19 Mei 2026 | 09:56 WIB

Kesaksian Penumpang Kapal MV Hondius Karantina Massal 42 Hari karena Hantavirus

Kesaksian Penumpang Kapal MV Hondius Karantina Massal 42 Hari karena Hantavirus

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:53 WIB

Terkini

3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming

3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming

Tekno | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:49 WIB

Polisi Tangkap 2 Terduga Pelaku Perampokan Pembunuhan Bos Konter HP Royal Phone Ambarawa

Polisi Tangkap 2 Terduga Pelaku Perampokan Pembunuhan Bos Konter HP Royal Phone Ambarawa

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:49 WIB

Picu Spekulasi, Tulisan Season 3 di Trailer Film Solo Leveling Kini Dihapus

Picu Spekulasi, Tulisan Season 3 di Trailer Film Solo Leveling Kini Dihapus

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:49 WIB

Nikmatnya Sambal Pencit: Kuliner 'Survival' Low Budget yang Kini Jadi Menu Populer Restoran

Nikmatnya Sambal Pencit: Kuliner 'Survival' Low Budget yang Kini Jadi Menu Populer Restoran

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:40 WIB

Tamparan Rp100 Ribu: Ironi Anak Guru di Blitar dalam Pusaran Perundungan

Tamparan Rp100 Ribu: Ironi Anak Guru di Blitar dalam Pusaran Perundungan

Jatim | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:33 WIB

Siasat BI Lampung Jaga Harga Cabai Tak Pedas di Akhir Tahun

Siasat BI Lampung Jaga Harga Cabai Tak Pedas di Akhir Tahun

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:25 WIB

Wamenkop Soroti Pelamar Kerja Membludak di Bekasi, Kopdes Merah Putih Jadi Jawaban?

Wamenkop Soroti Pelamar Kerja Membludak di Bekasi, Kopdes Merah Putih Jadi Jawaban?

News | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:23 WIB

10 Sifat Buruk Zodiak Gemini yang Jarang Diketahui

10 Sifat Buruk Zodiak Gemini yang Jarang Diketahui

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak: Perlawanan Perempuan di Tengah Sunyinya Sumba

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak: Perlawanan Perempuan di Tengah Sunyinya Sumba

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:05 WIB

8 Sunscreen Spray SPF 50 untuk Kulit Usia Matang, Praktis Bantu Cegah Tanda Penuaan

8 Sunscreen Spray SPF 50 untuk Kulit Usia Matang, Praktis Bantu Cegah Tanda Penuaan

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:02 WIB

×