Generasi Milenial Rentan Alami Gangguan Mental, Kenali Pemicunya

Vania Rossa

Jum'at, 01 November 2019 | 11:39 WIB
Generasi Milenial Rentan Alami Gangguan Mental, Kenali Pemicunya
Ilustrasi gangguan mental pada milenial. (Shutterstock)

Suara.com - Data WHO menyebutkan setengah dari penyakit mental bermula sejak remaja, yakni di usia 14 tahun, dengan banyak kasus yang tidak tertangani sejak dini. Bunuh diri akibat depresi juga menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun. Ini berarti, milenial sangat berisiko mengalami gangguan mental.

Fakta ini tentu sedikit mengejutkan, mengingat usia milenial adalah saat seseorang ingin dan berkesempatan untuk menunjukkan eksistensi diri dan awal menentukan arah masa depan.

Lalu, apa sebenarnya yang memicu gangguan mental pada generasi milenial? Simak 5 pemicunya, seperti dikutip Suara.com dari rilis Sequis.

1. Perubahan fisik, emosional, psikologis, dan finansial

Ilustrasi perempuan berteriak. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan berteriak. (Shutterstock)

Pada usia milenial terjadi berbagai perubahan baik fisik, emosional, psikologis, finansial, dan lingkungan pergaulan. Perubahan ini adalah waktu transisi bagi mereka untuk menjadi pribadi yang matang.

Nah, yang jadi masalah, ketika mereka tidak siap pada perubahan-perubahan tersebut, hal ini tentu akan menggangu mental mereka. Misalnya saja, saat harus lulus dari sekolah dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi tetapi dihadapkan pada kesulitan finansial, tidak mampu menghadapi persaingan saat mencari pekerjaan, tidak mampu se-eksis teman sebayanya, dan masih banyak masalah lain yang dapat membuat jiwa milenial terguncang kemudian menutup diri.

Untuk itulah, pendampingan, perhatian, dan dorongan positif dari orangtua, keluarga, dan orang-orang terdekat sangat penting bagi remaja untuk membantu mereka menyiapkan masa depannya.

2. Tidak mampu beradaptasi pada kemajuan teknologi dan media sosial

(Shutterstock)
(Shutterstock)

Kemajuan teknologi menuntut kemampuan beradaptasi dari penggunanya. Tetapi sayangnya, tidak semua orang mampu mengejar pesatnya kemajuan teknologi di luar sana. Bagi milenial, misalnya, kemajuan teknologi seringkali tidak selalu digunakan dengan baik. Contohnya, mudah mendapatkan informasi tapi enggan melakukan verifikasi, menggunakan aplikasi yang tidak sesuai umur, mudahnya berkomunikasi dengan siapa saja secara privat, serta berbagi foto, video, dan konten yang dapat dijadikan materi untuk menjatuhkan seseorang.

baca juga

Kehadiran media sosial yang sesungguhnya bertujuan memudahkan koneksi sosial, pada kenyatannya lebih sering menampilkan dunia fatamorgana yang penuh kebahagiaan dan kemewahan. Belum lagi aneka filter yang berhasil membuat penampilan jadi jauh lebih menarik. Artinya, banyak hal yang tidak realistis dan semu dalam media sosial hanya demi membangun image, keperluan eksistensi sosial, atau kepentingan bisnis.

Nah, tuntutan berlebihan ini dapat mengakibatkan ketergantungan dan membuat sebagian milenial tidak percaya diri. Mereka kerap membandingkan dirinya dengan orang lain yang mereka lihat di media sosial, kemudian menjadi cemas atau menjadi pribadi yang manipulatif agar terlihat sempurna hingga menjadi depresi.

Pemicu gangguan mental berikutnya pada milenial....

3. Konsep perfeksionisme dalam diri milenial

Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)

Persoalan mental milenial tidak hanya soal keliru dan salah menggunakan teknologi dan media sosial. Ada juga konsep perfeksionisme yang sangat dekat dengan lingkungan milenial, yaitu ekspektasi tinggi terhadap dirinya dan pada berbagai hal di sekitarnya. Milenial ingin tampil sempurna, ingin terlihat bersinar dalam lingkungan pergaulannya, atau bahkan malu jika kondisi ekonomi keluarga tidak seperti lingkungan pergaulannya.

Seseorang dengan konsep perfeksionisme seperti itu biasanya akan berjuang keras untuk meraih kesempurnaan dan bisa bereaksi negatif terhadap kesalahan kecil. Mereka bisa mengkritik diri sendiri secara keras jika gagal melakukan sesuatu hal. Bisa jadi juga mereka akan mudah menyalahkan sekitar jika dianggap tidak mendukung rencananya atau jika sekitarnya melakukan kesalahan.

Hasil yang tidak sempurna bisa membuat mereka tidak puas, marah, mengomel, menggerutu, dan berteriak. Menuntut diri sendiri dan lingkungan untuk sempurna serta tidak siap menerima kekurangan maupun kesalahan membuat mereka menjadi pribadi yang tidak mampu untuk mengontrol emosi dan menjaga perasaan orang lain. Pada akhirnya, ketika dijauhi oleh sekitarnya, ia pun sulit menerima kenyataan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri.

Nah, persoalan perfeksionisme dalam masyarakat modern ini merupakan masalah serius. Tidak menutup kemungkinan perfeksionisme dapat menyebabkan gangguan mental, seperti kecemasan, stress, depresi, gangguan makan, dan bahkan bunuh diri.

Setelah mengenali apa saja yang menjadi pemicu gangguan mental pada milenial, kita semua harus menyadari dan berhenti menganggap orang dengan gangguan mental sebagai sosok yang aneh, hina, dan asing. Dukung mereka dengan sekadar menanyakan kabar, menjadi pendengar, tidak mendebat atau menghakimi opini mereka walaupun sanggahan mereka belum tentu benar, serta selalu gunakan kata yang positif.

Namun, jika gangguan mental terjadi secara terus menerus, yang ditunjukkan dengan gejala seperti sulit tertidur, sering marah walau pada hal sepele, merasa sedih terus menerus, dan merasa bahwa diri sendiri dan lingkungannya sudah tidak bisa mengatasinya, serta terjadi perubahan fisik, seperti berat badan naik atau turun drastis, maka sebaiknya keluarga memperhatikan perubahan tersebut dan memeriksakan pada psikolog atau psikiater. Jangan malu, karena kesehatan mental sama pentingnya seperti kesehatan fisik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pakar Sebut Generasi Milenial Sanggup Perbaiki Lingkungan, Apa Alasannya?

Pakar Sebut Generasi Milenial Sanggup Perbaiki Lingkungan, Apa Alasannya?

Lifestyle | Rabu, 30 Oktober 2019 | 20:57 WIB

Sering Dibandingkan, Apa Bedanya Generasi Milenial dan Gen Z?

Sering Dibandingkan, Apa Bedanya Generasi Milenial dan Gen Z?

Lifestyle | Rabu, 30 Oktober 2019 | 14:00 WIB

Keseringan Main Gadget, 7 Risiko Penyakit Ini Mengintai

Keseringan Main Gadget, 7 Risiko Penyakit Ini Mengintai

Health | Selasa, 22 Oktober 2019 | 14:10 WIB

Terkini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10 WIB

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:54 WIB

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:06 WIB

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:00 WIB

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 15:05 WIB

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:18 WIB

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 18:38 WIB

×