Pemerintah Diagnosis Covid-19 dengan Rapid Test, Apa Bedanya dengan Swab?

Risna Halidi, Dini Afrianti Efendi

Sabtu, 21 Maret 2020 | 07:05 WIB
Pemerintah Diagnosis Covid-19 dengan Rapid Test, Apa Bedanya dengan Swab?
Cara menguji Covid-19 menggunakan teknik swab hidung (YouTube/The New England Journal of Medicine)

Suara.com - Demi mendeteksi secara cepat virus SARS CoV 2 yang menyebabkan sakit Covid-19, pemerintah Indonesia memutuskan untuk membeli 1 juta kit alat pendeteksi virus corona jenis baru tersebut.

Tapi bukan metode PCR atau pengambilan sampel dengan swab lendir di mulut dan hidung, melainkan metode test yang menggunakan sampel darah.

Metode ini dikenal dengan istilah rapid test dan tidak memerlukan ruang pengetesan khusus seperti metode PCR yang membutuhkan laboratorium Biosafety Level (BSL) II.

Metode rapid test (Shutterstock)
Metode rapid test (Shutterstock)

"Untuk pemeriksaan massal kita akan melalui darah. Diambil sedikit kemudian dilakukan pemeriksaan dengan alat kit, hingga kemudian dalam waktu kurang dari 2 menit akan bisa kita selesaikan hasilnya," ujar Jubir Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto di Graha BNPB, Jumat (20/3/2020).

Meski sensitivitas atau ketepatan deteksi lebih rendah dibanding metode PCR , metode rapid test dianggap cukup signifikan dalam mendeteksi kasus positif Covid-19.

Selanjutnya untuk penegasan kembali, pemerintah mengaku akan melakukan metode PCR sebagai 'second opinion' dari hasil rapid test yang dinyatakan positif.

"Apabila positif akan kita tindaklanjuti dengan pemeriksaan PCR, untuk memeriksakan positif yang sesungguhnya. Karena bisa saja positif ini terjadi pada orang yang sudah sembuh pada penyakit ini akan tunjukkan positif," ungkap Yurianto.

Ia melanjutkan, hasil positif Covid-19 dari metode rapid test bisa terjadi pada pasien Covid-19 yang sudah sembuh. Sementara hasil negatif rapid test juga bisa terdeteksi pada pasien positif Covid-19 yang baru terinfeksi.

Itu terjadi akibat kadar zat immunoglobulin, sejenis protein sebagai antibodi sistem imun yang belum terbentuk sempurna atau lambat mendeteksi kondisi tubuh.

baca juga

"Oleh karena itu orang yang sembuh (Covid-19) pasti positif. Tetapi bisa saja, pada kasus yang terinfeksi bisa hasilnya negatif. Ini disebabkan karena memang respon immunologinya belum terbentuk, dan ini butuh waktu 6 sampai 9 hari (setelah terinfeksi)," jelas Yurianto.

Meski risiko false positive begitu tinggi, lelaki yang juga menjabat sebagai Dirjen P2P Kemenkes tersebut mengatakan bahwa metode rapid test menjadi pilihan terbaik dan tercepat guna menemukan dan memutus mata rantai penularan Covid-19.

"Tetapi ini penapisan terbaik dilakukan pemeriksaan secara massal, sehingga secara cepat bisa menemukan potensi positif yang ada di masyarakat," katanya.

Bantu Pemerintah, Lakukan Isolasi Mandiri

Ilustrasi Santai Sambil Baca Buku. (Shutterstock)
Ilustrasi isolasi mandiri (Shutterstock)

Bagaimana cara rakyat membatu usaha pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19? Meski tidak semua bisa melakukannya, tapi menjaga diri dengan melakukan isolasi mandiri merupakan jawaban terbaik.

Achmad Yurianto mengatakan isolasi mandiri atau self isolation di kediaman masing-masing, bisa menjadi usaha tepat mengindari virus bagi orang yang sehat sekaligus mengenali gejala dan respon virus bagi yang terinfeksi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hati-hati, Gunakan Alat Makan yang Sama Bisa Tertular Virus Corona Covid-19

Hati-hati, Gunakan Alat Makan yang Sama Bisa Tertular Virus Corona Covid-19

Lifestyle | Jum'at, 20 Maret 2020 | 17:15 WIB

Kacau! Lelaki Ini Terinfeksi Covid-19 Gara-gara Jalan Bareng Selingkuhan

Kacau! Lelaki Ini Terinfeksi Covid-19 Gara-gara Jalan Bareng Selingkuhan

Lifestyle | Jum'at, 20 Maret 2020 | 19:50 WIB

Temuan Baru, Masalah Pencernaan Bisa Jadi Tanda Infeksi Corona Covid-19

Temuan Baru, Masalah Pencernaan Bisa Jadi Tanda Infeksi Corona Covid-19

Health | Jum'at, 20 Maret 2020 | 16:15 WIB

Terkini

Huntap Belum Rampung, Aceh Minta PLN Lanjutkan Pasokan Listrik untuk Korban Banjir

Huntap Belum Rampung, Aceh Minta PLN Lanjutkan Pasokan Listrik untuk Korban Banjir

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:20 WIB

Kabut Asap Kepung Makassar, Masker Gratis Mulai Dibagikan ke Sekolah-sekolah

Kabut Asap Kepung Makassar, Masker Gratis Mulai Dibagikan ke Sekolah-sekolah

Sulsel | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:17 WIB

Warna Pakaian Pembawa Hoki Menurut Feng Shui, Intip Outfit Wanita Terbaik untuk 12 Shio

Warna Pakaian Pembawa Hoki Menurut Feng Shui, Intip Outfit Wanita Terbaik untuk 12 Shio

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:17 WIB

Konflik Arab Saudi-Houthi Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Konflik Arab Saudi-Houthi Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:15 WIB

Akhiri Teror Puluhan Tahun, Benteng Gajah 138 Km Way Kambas Siap Diresmikan Prabowo

Akhiri Teror Puluhan Tahun, Benteng Gajah 138 Km Way Kambas Siap Diresmikan Prabowo

Lampung | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:14 WIB

AI Bisa Deteksi Anomali Mesin dan Analisis Cara Kerja Karyawan, Ini Solusi NEC Indonesia

AI Bisa Deteksi Anomali Mesin dan Analisis Cara Kerja Karyawan, Ini Solusi NEC Indonesia

Tekno | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Perkawinan Anak di Daerah Tembus 12 Persen, Remaja Perempuan Harus Dilibatkan saat Buat Kebijakan

Perkawinan Anak di Daerah Tembus 12 Persen, Remaja Perempuan Harus Dilibatkan saat Buat Kebijakan

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:04 WIB

Kabut Asap Karhutla Picu Ribuan Kasus ISPA di Palembang

Kabut Asap Karhutla Picu Ribuan Kasus ISPA di Palembang

Foto | Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Proyeksi Teknikal IHSG Hari Ini dan Arus Dana Asing

Proyeksi Teknikal IHSG Hari Ini dan Arus Dana Asing

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:55 WIB

80 Saham Dikuasai Banyak Pihak, Ini Daftar Lengkapnya

80 Saham Dikuasai Banyak Pihak, Ini Daftar Lengkapnya

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:55 WIB

×