alexametrics

Tenaga Kesehatan Indonesia Dibayangi Ancaman Burnout Syndrome, Apa Itu?

Vania Rossa | Dini Afrianti Efendi
Tenaga Kesehatan Indonesia Dibayangi Ancaman Burnout Syndrome, Apa Itu?
Ilustrasi tenaga kesehatan mengalami burnout karena pandemi. (Dok. Elements Envato)

Pertambahan kasus Covid-19 tanpa henti berpotensi memicu burnout syndrome pada tenaga kesehatan.

Suara.com - Kasus Covid-19 terus melonjak di Indonesia dengan rata-rata kasus positif baru konsisten lebih dari 10 ribu selama beberapa hari terakhir. Bahkan, kematian di Indonesia tembus 300 orang per hari.

Pertambahan kasus ini pastinya bisa menyebabkan rumah sakit dan tenaga kesehatan kewalahan. Beberapa pasien bahkan datang dalam kondisi kritis dan bisa meninggal karena rumah sakit penuh.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengkhawatirkan pasien yang terus bertambah dan tanpa henti ini bisa membuat para tenaga kesehatan (nakes) mengalami burnout syndrome. Apa itu?

Menurut situs Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, burnout syndrome merupakan salah satu kondisi yang mempengaruhi status kesehatan seseorang, termasuk nakes.

Baca Juga: Terinspirasi Tenaga Kesehatan, Reebok Luncurkan Koleksi Sepatu Wonder Woman

Burnout syndrome adalah kondisi yang diakibatkan dari rasa stres kronis karena pekerjaan yang tidak kunjung selesai atau membuahkan hasil.

Kondisi ini biasanya memiliki tiga tanda, yakni perasaan kekurangan energi atau kelelahan, perasaan tidak bergairah, negatif atau sinis terhadap pekerjaan, serta berkurangnya profesionalitas kerja. Dalam hal ini, tenaga medis tidak lagi bisa bekerja profesional jika mengalami brunout syndrome.

Sementara itu mengutip Verywell Mind, petugas medis termasuk dokter, jadi salah satu pekerjaan yang berisiko tingggi mengalami burnout syndrome.

Data penelitian di 2019 dari National Physician Burnout, Depression, and Suicide Report menunjukkan bahwa 44 persen dokter mengalami burnout dalam pekerjaanya sehari-hari.

Ini bisa terjadi karena dokter mendapatkan beban dan risiko pekerjaan yang lebih berat, dibanding timbal balik gaya hidup yang bisa mereka dapatkan.

Baca Juga: Gawat! Tenaga Kesehatan Kelelahan Fisik dan Mental Selama Pandemi

Komentar