Jangan Membentak atau Berteriak Pada Anak, Ini Dampak Jangka Panjangnya

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 29 Januari 2021 | 11:49 WIB
Jangan Membentak atau Berteriak Pada Anak, Ini Dampak Jangka Panjangnya
Ilustrasi ibu marah pada anak. (Shutterstock)

Suara.com - Anak memiliki sisi yang sangat sensitif saat mendengar ucapan orang lain. Terkadang, saat orang tua sedang dalam suasana hati yang buruk atau kesal sering membentak dan berteriak kepada anak.

Padahal, berteriak atau membentak anak akan memberikan dampak negatif kepada anak hingga dewasa.

Saat berteriak mungkin anak akan lebih mendengar apa yang orang tua katakan. Namun, sebenarnya hal tersebut akan membuat mereka mengabaikan ucapan orang lain dan sulit untuk disiplin.

Berdasarkan penelitian, berteriak dapat membuat anak menjadi lebih agresif secara fisik dan verbal. Berteriak akan membuat anak takut dan merasa tidak aman.

Di samping itu, berteriak atau membentak anak dapat menjadi pelecehan emosional jangka panjang, terutama jika disertai kata-kata yang kasar. Hal ini dapat membuat anak mengalami kecemasan serta harga diri yang rendah. Berikut dampak jangkka panjang yang akan ditimbulkan dari membentak dan berteriak kepada anak, di antaranya:

1. Membuat perilaku anak menjadi buruk

Ketika anak sering dibentar akan membuat dirinya memiliki kebiasaan yang buruk. Penelitian menunjukkan, hal itu sebenarnya bisa menciptakan lebih banyak masalah dalam jangka panjang. Berteriak justru dapat membuat perilaku anak semakin buruk.

Ilustrasi anak diperintah paksa oleh orang tua
Ilustrasi anak dibentak orangtua.

Orang tua saat berteriak atau membentak anak memang pada awalnya bertujuan agar anak menjadi disiplin. Namun, rupanya hal itu meningkatkan risiko perilaku buruknya. Hal ini karena ia mendapat perlakuan yang kurang baik. Oleh karena itu, ia melakukan hal yang sama.

2. Mempengaruhi otak anak

baca juga

Teriakan dari orang tua sangat berpengaruh terhadap otak anak. Hal ini sangat mempengaruhi cara anak memproses informasi dari peristiwa negatif yang dialaminya. Sebuah studi membandingkan pemindaian MRI otak orang-orang yang memiliki riwayat pelecehan verbal orang tua di masa kanak-kanak dengan mereka yang tidak memiliki riwayat pelecehan.

Ditemukan perbedaan fisik yang mencolok di bagian-bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses suara dan bahasa. Mereka yang sering dibentak oleh orang tua mengalami kerusakan pada saraf otak.

3. Berteriak bisa menyebabkan depresi

Ketika mendapat teriakan dari orang tua anak bisa menjadi sakit hati, takut, dan sedih. Apalagi, jika mereka mendapat pelecehan verbal, hal itu akan membuatnya menjadi depresi dan mengalami gangguan psikologis saat tumbuh dewasa.

Anak yang sering mendapat teriakan dan pelecehan verba dari orang tua akan mudah membuatnya depresi. Jika dibiarkan hal ini dapat berkembang menjadi tindakan yang merusak diri sendiri, seperti penggunaan narkoba atau peningkatan aktivitas seksual yang berisiko.

4. Berteriak berpengaruh pada kesehatan fisik

Ilustrasi perempuan berteriak ketakutan. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan berteriak. (Shutterstock)

Tidak hanya masalah pada otak, berteriak juga mempengaruhi kesehatan fisik anak. Adanya stres dan depresi karena pelecehan verbal yang dilakukan orang tua membuatnya malas untuk melakukan berbagai hal, seperti berolahraga, makan.

Hal ini juga bisa didasari rasa takut yang berlebih dalam dirinya. Kondisi itu yang menyebabkannya dengan mudah terserang berbagai penyakit yang mengganggu kesehatan fisik.

5. Berteriak bisa menyebabkan sakit kronis

Berhubungan dengan kesehatan fisik, anak yang sering dibentak jika dibiarkan secara terus-menerus akan mengalami penyakit kronis yang membahayakan dirinya. penyakit-penyakit tersebut di antaranya, artritis, sakit kepala parah, masalah punggung dan leher, dan nyeri kronis lainnya.

Beberapa dampak di atas tidak hanya terjadi saat anak mengalaminya. Namun, bisa juga berdampak jangka panjang yang mempengaruhi masa depan anak. Untuk itu, orang tuas harus bisa mengontrol emosi agar tidak membentak anak.

Usahakan untuk mencari cara lain jika ingin memberitahu suatu hal yang benar. Jika terlanjur membentakknya, jangan pernah lupa untuk meminta maaf untuk menunjukkan rasa kasih sayang terhadap anak.

(Penulis: Fajar Ramadhan)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral Pasien Covid-19 Kelaparan, Aksi Perawat di Wisma Atlet Banjir Pujian

Viral Pasien Covid-19 Kelaparan, Aksi Perawat di Wisma Atlet Banjir Pujian

Banten | Rabu, 20 Januari 2021 | 10:02 WIB

Bikin Merinding, Viral Pasien Covid-19 Teriak Kelaparan di Wisma Atlet

Bikin Merinding, Viral Pasien Covid-19 Teriak Kelaparan di Wisma Atlet

Surakarta | Rabu, 20 Januari 2021 | 09:35 WIB

Menghebohkan Wisma Atlet, Viral Pasien Covid-19 Teriak Kelaparan

Menghebohkan Wisma Atlet, Viral Pasien Covid-19 Teriak Kelaparan

Hits | Rabu, 20 Januari 2021 | 07:13 WIB

Terkini

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:53 WIB

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:22 WIB

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:17 WIB

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Video | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Jakarta | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 21:57 WIB

×