Sangat Menular, WHO Sebut Ini untuk Pencegahan dan Pengobatan Virus Marburg

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Jum'at, 13 Agustus 2021 | 06:37 WIB
Sangat Menular, WHO Sebut Ini untuk Pencegahan dan Pengobatan Virus Marburg
Ilustrasi pengobatan virus marburg. (Shutterstock)

Suara.com - Belum selesai dengan virus corona, kali ini dunia kembali harus menghadapi potensi wabah virus Marburg yang mirip dengan Ebola. Badan Kesehatan Dunia atau WHO memberi peringatan kepada dunia mengenai potensi infeksi virus Marburg atau MVD yang memiliki rasio kematian hingga 88 persen.

Virus ini pertama kali terdeteksi di salah satu kota di Jerman, Marburg. Namun wabah penyakit virus Marburg (MVD) juga ditemukan di Frankfurt, Jerman, dan di Beograd, Serbia pada tahun 1967.

Wabah besar yang terjadi secara bersamaan di dua negara itu menyebabkan pengenalan awal penyakit Marburg.

Infeksi MVD menular kepada manusia akibat adanya kontak yang terlalu lama di tambang atau gua yang dihuni oleh koloni kelelawar Rousettus.

Tetapi kemudian, infeksi Marburg bisa menular antar manusia melalui kontak langsung lewat kulit yang rusak atau selaput lendir dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. Juga dengan permukaan dan bahan, misalnya tempat tidur atau pakaian yang terkontaminasi dengan cairan tubuh tersebut.

Penyakit yang disebabkan oleh virus Marburg gejalanya bisa muncul secara tiba-tiba. Mulai dari demam tinggi, sakit kepala parah, dan malaise (tidak enak badan) yang parah. Gejala nyeri otot termasuk salah satu ciri umum.

Selain itu, diare berair yang parah, sakit perut dan kram, mual dan muntah dapat juga terjadi pada hari ketiga muncul gejala. Diare bisa bertahan selama seminggu.

Saat ini tidak ada vaksin atau perawatan antivirus yang disetujui untuk MVD. Namun, perawatan suportif, seperti rehidrasi dengan cairan oral atau intravena. Juga pengobatan gejala spesifik untuk meningkatkan kelangsungan hidup.

Ada antibodi monoklonal (mAbs) yang sedang dikembangkan dan antivirus mis. Remdesivir dan Favipiravir yang telah digunakan dalam studi klinis untuk Penyakit Virus Ebola (EVD) juga dapat diuji untuk MVD atau digunakan dalam penggunaan yang diperluas.

Pencegahan dan Pengendalian
Meski demikian, WHO menyebut bahwa pengendalian wabah bisa dilakukan dengan berbagai intervensi. Yaitu manajemen kasus, pengawasan dan pelacakan kontak, layanan laboratorium yang baik, penguburan yang aman, serta mobilisasi sosial.

Keterlibatan masyarakat adalah kunci untuk berhasil mengendalikan wabah. Meningkatkan kesadaran akan faktor risiko infeksi Marburg dan tindakan perlindungan yang dapat dilakukan individu adalah cara yang efektif untuk mengurangi penularan pada manusia.

Pesan WHO untuk mengurangi risiko penularan kelelawar ke manusia yang timbul dari kontak yang terlalu lama dengan tambang atau gua yang dihuni oleh koloni kelelawar buah.

Selama kegiatan kerja atau penelitian atau kunjungan wisata di tambang atau gua yang dihuni oleh koloni kelelawar buah, setiap individu harus mengenakan sarung tangan dan pakaian pelindung lain yang sesuai, termasuk masker.

Selama wabah, semua produk hewani (darah dan daging) harus dimasak dengan matang sebelum dikonsumsi.
Mengurangi risiko penularan dari manusia ke manusia di masyarakat yang timbul dari kontak langsung atau dekat dengan pasien yang terinfeksi, terutama dengan cairan tubuh mereka. Kontak fisik yang dekat dengan pasien Marburg harus dihindari.

Sarung tangan dan alat pelindung diri yang sesuai harus dipakai saat merawat pasien yang sakit di rumah. Mencuci tangan secara teratur harus dilakukan setelah mengunjungi kerabat yang sakit di rumah sakit, serta setelah merawat pasien yang sakit di rumah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fakta Virus Marburg: Kapan Pertama Kali Muncul dan Cara Penularannya

Fakta Virus Marburg: Kapan Pertama Kali Muncul dan Cara Penularannya

Health | Jum'at, 13 Agustus 2021 | 06:20 WIB

Rasio Kematian HInga 88 Persen, Begini Cara Penularan Virus Marburg

Rasio Kematian HInga 88 Persen, Begini Cara Penularan Virus Marburg

Health | Kamis, 12 Agustus 2021 | 18:10 WIB

WHO Ungkap Bahaya Virus Marburg dan 4 Berita Kesehatan Menarik Lainnya

WHO Ungkap Bahaya Virus Marburg dan 4 Berita Kesehatan Menarik Lainnya

Health | Rabu, 11 Agustus 2021 | 20:03 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB