Awas, Miras Oplosan Bisa Berujung Kematian

Bimo Aria Fundrika

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 14:50 WIB
Awas, Miras Oplosan Bisa Berujung Kematian
Ilustrasi miras oplosan(thinkstock)

Suara.com - Minuman keras (miras) oplosan ternyata bukan hanya masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia. Sejumlah masyarakat di sejumlah negara dunia ternyata juga punya tantangan yang sama.

Dalam keterangannya, Dr Hossein Hassanian-Moghaddam, profesor di Universitas Ilmu Kedokteran Shahid Beheshti, berbagi pengalaman langsungnya sebagai dokter di Iran dalam menanggapi wabah keracunan metanol/miras oplosan.

“Iran adalah negara endemik keracunan metanol hari ini karena larangan alkohol. Banyak orang yang ingin minum alkohol pergi ke pasar gelap, di mana mereka menemukan minuman beralkohol buatan sendiri dan bahkan alkohol bermerek yang dikemas ulang," kata Hossein.

Ia melanjutkan bahwa banyak dari mereka tidak menyadari risiko keracunan. Pandemi COVID-19 telah meningkatkan permintaan alkohol, termasuk sanitiser untuk disinfektan, akibat informasi yang salah bahwa alkohol dapat mencegah atau menyembuhkan COVID-19.

Ilustrasi racun [Shutterstock/pzAxe]
Ilustrasi racun [Shutterstock/pzAxe]

Baik konsumsi minuman dan pembersih tangan yang terkontaminasi metanol telah menyebabkan lebih dari seribu kematian selama pandemi. Lima persen dari kematian ini disebabkan oleh misnformasi.”

Meskipun beban keracunan metanol/miras oplosan tinggi di negara berkembang, kesadaran akan penyakit ini, mulai dari diagnosis hingga pengobatan, masih sangat rendah dan berkontribusi pada kematian yang tinggi.

“Bahkan bagi saya sebagai seorang dokter, saya belum pernah mengikuti pelatihan tentang alkohol beracun sebagai mahasiswa kedokteran. Banyak dari kita [dokter] belum pernah melihat pasien mabuk selama pelatihan medis," kata dia.

Seringkali, wabah ini terjadi di negara berkembang yang menghadapi kekurangan kapasitas perawatan kesehatan. Kondisi ini berkontribusi pada keracunan metanol yang tidak dilaporkan terutama di Timur Tengah dan Asia.

"Sebagian besar pasien saya adalah di antara populasi muda, peminum pertama kali berusia sekitar 16 dan 17 tahun. Beberapa dari mereka sekarang buta. Di negara-negara di mana petugas layanan kesehatan tidak terlatih dalam mendiagnosis penyakit, hasilnya bisa menjadi tidak biasa dan dapat menyebabkan ketegangan jangka panjang pada sistem perawatan kesehatan publik. Dalam hal fase akut, itu bisa membunuh banyak orang.”

baca juga

Stigma dan prasangka adalah salah satu faktor yang berkontribusi pada kesalahan diagnosis dan hilangnya nyawa akibat keracunan metanol/miras oplosan, menurut Dr Chenery Lim, seorang dokter MSF yang telah bekerja di Asia Tenggara untuk menanggapi wabah keracunan metanol/miras oplosan.

“Ada stigma besar di balik hanya mengatakan itu keracunan alkohol. Tidak ada yang mengira bahwa pasien yang mereka temui sebenarnya adalah korban. Orang-orang sudah memiliki prasangka terhadap mereka yang mengonsumsi minuman ilegal, terutama di negara-negara yang ketat secara budaya atau agama," kata Lim.

Misalnya di Indonesia, di mana alkohol tidak diperbolehkan untuk dijual di pasar, sumber keracunan biasanya adalah alkohol yang diramu secara ilegal yang dapat dibeli dari “toko minuman” tanpa izin. Kesadaran yang rendah dan kemungkinan isolasi sosial menghalangi orang untuk mencari perawatan medis.

"Anda juga dapat melihat stigma di lingkungan rumah sakit. Di banyak rumah sakit, jika Anda harus memilih antara pasien yang minum alkohol versus pasien demam, mereka akan lebih memilih untuk merawat pasien demam terlebih dahulu karena yang satunya dinilai sebagai 'pemabuk," kata dia.

Bahkan, angka kematian 24 persen keracunan metanol cukup tinggi. Dibandingkan dengan penyakit lain yang dapat dicegah, tingkat kematian itu akan membuat para praktisi medis khawatir dan akan segera meminta tanggapan darurat.

Namun karena stigma dan prasangka yang tinggi, keracunan" metanol menjadi terabaikan dan sangat sedikit yang memusatkan perhatian padanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ribuan Botol Miras dan Obat Terlarang di Cianjur Gagal Dipakai Pesta

Ribuan Botol Miras dan Obat Terlarang di Cianjur Gagal Dipakai Pesta

Jabar | Sabtu, 21 Agustus 2021 | 08:30 WIB

Petugas Bea Cukai Amankan Penyelundup Rokok dan Miras di Dapur 12, Nilai Capai Rp500 Juta

Petugas Bea Cukai Amankan Penyelundup Rokok dan Miras di Dapur 12, Nilai Capai Rp500 Juta

Batam | Jum'at, 20 Agustus 2021 | 17:00 WIB

Polisi Gerebek Tempat Produksi Miras Palsu di Bandar Lampung, 6 Orang Ditangkap

Polisi Gerebek Tempat Produksi Miras Palsu di Bandar Lampung, 6 Orang Ditangkap

Lampung | Jum'at, 13 Agustus 2021 | 15:24 WIB

Terkini

Terungkap, Trik Warga Israel Bisa Lolos Masuk Bali Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik

Terungkap, Trik Warga Israel Bisa Lolos Masuk Bali Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:21 WIB

Insanul Fahmi Terpuruk dan Jualan Sayur, Wardatina Mawa: Tapi Semua Sudah Terlambat

Insanul Fahmi Terpuruk dan Jualan Sayur, Wardatina Mawa: Tapi Semua Sudah Terlambat

Entertainment | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:20 WIB

Bus Koridor 13 Mogok di Ciledug, Penumpang Turun Jalan Kaki

Bus Koridor 13 Mogok di Ciledug, Penumpang Turun Jalan Kaki

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:10 WIB

Tiga Pria NTT Ditangkap Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup, Alasannya Bikin Elus Dada

Tiga Pria NTT Ditangkap Usai Bakar Burung Hantu Hidup-hidup, Alasannya Bikin Elus Dada

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:05 WIB

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen

Sumsel | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:59 WIB

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:55 WIB

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:45 WIB

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Bola | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:35 WIB

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Riau | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:30 WIB

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:29 WIB

×