Lawan Kanker Prostat Tanpa Merusak Organ Lain? Kenali Terapi Lutetium PSMA

Dinda Rachmawati

Kamis, 15 Mei 2025 | 21:52 WIB
Lawan Kanker Prostat Tanpa Merusak Organ Lain? Kenali Terapi Lutetium PSMA
Kanker prostat (pexels).

Suara.com - Kanker prostat selama ini menjadi momok bagi banyak pria, terutama ketika sudah menyebar ke organ lain dan tidak lagi merespons pengobatan konvensional. 

Namun, kemajuan teknologi kedokteran nuklir menghadirkan secercah harapan lewat terapi Lutetium PSMA, sebuah inovasi terapi radioaktif yang semakin menjadi pilihan bagi pasien kanker prostat stadium lanjut.

Apa yang menjadikan Lutetium PSMA begitu revolusioner? Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan terapi ini untuk menargetkan langsung sel kanker tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.

“Lutetium merupakan pengobatan kanker prostat yang dilakukan ketika hormonal terapi sudah tidak bisa digunakan kepada pasien,” jelas dr. Febby Hutomo, Sp. KN (K), FANMB, dokter spesialis kedokteran nuklir konsultan nuklir onkologi dari RS Siloam MRCCC Semanggi.

Lutetium-177, zat radioaktif yang digunakan dalam terapi ini, akan mengikat protein PSMA (Prostate-Specific Membrane Antigen) yang banyak ditemukan di permukaan sel kanker prostat. 

Setelah menyatu, Lutetium-177 memancarkan radiasi untuk menghancurkan sel kanker dari dalam, tanpa membahayakan organ lain.

“Organ-organ yang biasanya rusak dengan pengobatan lain seperti kemoterapi, penggunaan Lutetium ini tepat sasaran dan memiliki risiko lebih kecil dari terapi lain,” tambah dr. Febby.

Keunggulan ini menjadikan Lutetium PSMA sebagai terapi yang lebih aman dan minim efek samping, terutama dibandingkan dengan kemoterapi atau radiasi eksternal.

Efek samping yang mungkin terjadi biasanya bersifat ringan, seperti penurunan sel darah yang masih bisa ditangani dengan terapi suportif.

baca juga

Kapan Pasien Bisa Menjalani Lutetium PSMA?

Lutetium PSMA direkomendasikan untuk pasien dengan kanker prostat metastatik yang tidak lagi merespons terapi hormon, kondisi yang dikenal sebagai metastatic castration-resistant prostate cancer (mCRPC). 

Di tahap ini, kanker menjadi lebih agresif dan sulit dikendalikan dengan terapi standar. Sebelum menjalani prosedur ini, pasien akan melewati proses seleksi yang ketat, mulai dari pemeriksaan patologi anatomi, tes darah lengkap, hingga pemindaian PET PSMA.

“Perlu digarisbawahi bahwa patologi anatomi pasien harus jelas terlebih dahulu sebelum berlanjut ke PET PSMA untuk mengetahui sejauh mana penyebaran yang telah terjadi pada pasien,” jelas dr. Febby.

PET PSMA menjadi alat bantu penting karena mampu menunjukkan secara akurat lokasi dan intensitas ekspresi PSMA pada sel kanker. Jika hasilnya menunjukkan bahwa PSMA cukup tinggi, pasien dapat melanjutkan ke tahap terapi Lutetium.

Kolaborasi Tim Spesialis untuk Hasil Terbaik

Salah satu kekuatan utama dalam terapi ini adalah pendekatan tim multidisiplin. Di RS Siloam MRCCC Semanggi, terapi Lutetium PSMA melibatkan kolaborasi antara dokter spesialis urologi, patologi anatomi, kedokteran nuklir, hingga penyakit dalam konsultan onkologi.

Setiap spesialis memiliki peran penting, mulai dari mendiagnosis, merancang terapi, hingga memantau respons pasien. Kombinasi keahlian ini memastikan bahwa terapi dilakukan dengan aman, efektif, dan disesuaikan dengan kondisi unik tiap pasien.

Prosedur yang Aman dan Nyaman

Proses pemberian Lutetium dilakukan melalui infus di ruang khusus. Menariknya, meskipun menggunakan zat radioaktif, pasien tidak memerlukan isolasi setelah tindakan karena kadar radiasi yang tertinggal sangat rendah.

Setelah tindakan, pasien biasanya akan mendapatkan tiga siklus terapi dengan jeda 4–6 minggu di antaranya. Evaluasi hasil terapi biasanya dilakukan setelah siklus ketiga.

“Perawatan untuk pasien sebetulnya dirawat karena kondisi umumnya, bukan karena paparan radiasinya. Hal ini perlu dijelaskan terlebih dahulu,” tegas dr. Febby.

Ia menambahkan bahwa efek samping seperti anemia atau gangguan sumsum tulang belakang memang bisa muncul, namun hal itu bukan disebabkan oleh radiasi, melainkan oleh kondisi klinis pasien yang memang sudah berat.

Peluang Hidup Lebih Panjang dan Berkualitas

Sejumlah studi telah membuktikan bahwa Lutetium PSMA dapat memperpanjang harapan hidup pasien mCRPC. 

Bahkan, jika terjadi kekambuhan, terapi ini masih bisa diulang dengan jeda waktu 6–8 minggu, memberikan fleksibilitas yang sangat penting bagi pasien dengan kanker stadium lanjut.

“Jadi efek dari Lutetium PSMA ini rata-rata kita dapat melihatnya setelah 3 siklus (dalam 1 siklus waktunya 6-8 minggu),” pungkas dr. Febby.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gejala Kanker Prostat Bisa Muncul Lewat Urine, Ini 6 Tandanya!

Gejala Kanker Prostat Bisa Muncul Lewat Urine, Ini 6 Tandanya!

Lifestyle | Kamis, 15 Mei 2025 | 14:29 WIB

Waspada! Kanker Usus Kini Ancam Anak Muda, Bukan Lagi Penyakit Lansia

Waspada! Kanker Usus Kini Ancam Anak Muda, Bukan Lagi Penyakit Lansia

Health | Selasa, 13 Mei 2025 | 18:35 WIB

Ada Kista di Payudaranya, Berlliana Lovell Jalani Operasi di Korea

Ada Kista di Payudaranya, Berlliana Lovell Jalani Operasi di Korea

Entertainment | Selasa, 13 Mei 2025 | 14:42 WIB

Terkini

Dipimpin Dasco, DPR Gelar Rapat Khusus Bahas RUU Perlindungan Ketenagakeraan Malam Ini

Dipimpin Dasco, DPR Gelar Rapat Khusus Bahas RUU Perlindungan Ketenagakeraan Malam Ini

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:29 WIB

Mitos Ikan Pembersih: Sapu-Sapu Monster Invasif Penghancur Ekosistem

Mitos Ikan Pembersih: Sapu-Sapu Monster Invasif Penghancur Ekosistem

Your Say | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:20 WIB

Jawab Kedaruratan Persalinan di Jakarta, Layanan Medis 24 Jam Tanpa Jeda Diperkuat

Jawab Kedaruratan Persalinan di Jakarta, Layanan Medis 24 Jam Tanpa Jeda Diperkuat

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:17 WIB

GBK Membara Timnas Indonesia vs Thailand, Kembang Api hingga Koreografi Bikin Merinding

GBK Membara Timnas Indonesia vs Thailand, Kembang Api hingga Koreografi Bikin Merinding

Bola | Senin, 05 Oktober 2026 | 20:12 WIB

Lupakan Masa Lalu! XngHan&Xoul Semangat Gapai Masa Depan di Lagu High Beam

Lupakan Masa Lalu! XngHan&Xoul Semangat Gapai Masa Depan di Lagu High Beam

Your Say | Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50 WIB

Ajukan Rencana Produksi 2027, PTBA Minta Izin Gunakan Perusahaan Afiliasi sebagai Kontraktor

Ajukan Rencana Produksi 2027, PTBA Minta Izin Gunakan Perusahaan Afiliasi sebagai Kontraktor

Bisnis | Senin, 05 Oktober 2026 | 19:49 WIB

China Mulai Kurangi Insentif Mobil Listrik, Harga EV Terancam Naik

China Mulai Kurangi Insentif Mobil Listrik, Harga EV Terancam Naik

Otomotif | Senin, 05 Oktober 2026 | 19:48 WIB

Yusril Belum Terima Laporan Pesta Sabu di Rutan Depok, Siapkan Penertiban Lapas

Yusril Belum Terima Laporan Pesta Sabu di Rutan Depok, Siapkan Penertiban Lapas

Jabar | Senin, 05 Oktober 2026 | 19:44 WIB

Perawatan Armada Rampung! 7 Rangkaian KRL SF12 Kembali Beroperasi di Lintas Bogor Mulai Besok

Perawatan Armada Rampung! 7 Rangkaian KRL SF12 Kembali Beroperasi di Lintas Bogor Mulai Besok

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38 WIB

Pakar UGM Usul Badan Independen Kelola Aset Hasil Tindak Pidana

Pakar UGM Usul Badan Independen Kelola Aset Hasil Tindak Pidana

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 19:34 WIB

×