Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya

Dinda Rachmawati Suara.Com
Jum'at, 02 Januari 2026 | 06:34 WIB
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
ilustrasi beberapa karyawan sedang meeting di ruang meeting, tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, hingga paparan informasi digital yang tiada henti sering membuat pikiran terasa penuh dan sulit dikendalikan. Kondisi ini, jika dibiarkan, dapat memengaruhi kesehatan mental maupun fisik seseorang (www.pexel.com/Pavel Danilyuk)
Baca 10 detik
  • Pria usia produktif di Indonesia jarang berobat karena keluhan dianggap sepele, menunda penanganan masalah kesehatan fisik dan psikologis.
  • Data menunjukkan prevalensi masalah kesehatan seperti disfungsi ereksi dan tekanan mental berat pada pekerja di perkotaan.
  • Platform Sjati menawarkan layanan kesehatan pria berbasis data, terkurasi, dan terstandardisasi untuk mengatasi stigma pencarian bantuan.

Untuk kebutuhan obat resep, pengguna tetap harus melalui konsultasi telemedisin dengan dokter berizin, sementara AI hanya berperan membantu penyaringan awal dan pengumpulan informasi.

“Fokus kami di Sjati bukan sekadar menjual produk, melainkan memberikan kendali kembali kepada pria atas kesehatan mereka,” kata Delonix. 

Ia menegaskan bahwa ekosistem yang dibangun mencakup teknologi skrining, rantai pasok farmasi yang terverifikasi, serta edukasi yang dirancang agar pria bisa memahami kondisi tubuhnya sendiri tanpa rasa takut atau stigma.

Di tengah maraknya produk kesehatan pria yang tidak terstandarisasi, komitmen pada regulasi dan keamanan menjadi faktor krusial. 

Sjati menekankan kepatuhan pada BPOM, mekanisme autentikasi produk untuk mencegah barang palsu, serta sistem rekam medis elektronik yang terenkripsi agar dokter dapat memantau kondisi pengguna secara berkelanjutan.

Pengguna juga diberi ruang untuk melaporkan efek samping dan mendapatkan penyesuaian terapi bila diperlukan, sehingga proses perawatan tidak berhenti pada satu transaksi.

Lebih jauh lagi, yang sedang diupayakan bukan hanya layanan, tetapi perubahan cara pandang. “Di Sjati, kami juga turut mendorong percakapan yang lebih terbuka dan terinformasi mengenai kesehatan pria, termasuk kesehatan seksual, sebagai isu yang umum dialami dan layak ditangani secara bertanggung jawab,” tutup Delonix. 

Dalam dunia yang menuntut pria untuk selalu tangguh, keberanian untuk mencari bantuan justru menjadi bentuk kekuatan baru yang selama ini jarang dibicarakan, tetapi semakin penting bagi generasi pria modern di Indonesia.

Baca Juga: Self-Love Bukan Egois tapi Cara Bertahan Waras di Tengah Tuntutan Hidup

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI