Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga

Bimo Aria Fundrika

Senin, 18 Mei 2026 | 14:59 WIB
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
Dampak polusi udara pada anak. (Dok: Istimewa)
baca 10 detik
  • Ilmuwan Jerman menemukan bahwa empat persen polusi udara di kota Leipzig terdiri dari partikel mikroplastik berbahaya.
  • Sebagian besar polusi mikroplastik tersebut berasal dari abrasi ban kendaraan yang terhirup masyarakat setiap hari di perkotaan.
  • Paparan jangka panjang mikroplastik berisiko meningkatkan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker paru-paru bagi warga perkotaan.

Suara.com - Di jalan-jalan padat kota besar, polusi udara selama ini identik dengan asap kendaraan, debu, atau emisi industri. Namun, penelitian terbaru di Jerman menunjukkan ada ancaman lain yang selama ini nyaris tak terlihat: partikel plastik mikroskopis yang beterbangan di udara dan terhirup setiap hari.

Riset yang dipimpin ilmuwan dari Leibniz Institute for Tropospheric Research dan Carl von Ossietzky University of Oldenburg menemukan bahwa sekitar 4 persen polusi partikulat di udara perkotaan ternyata terdiri dari mikroplastik. Yang paling mengejutkan, sekitar dua pertiga partikel tersebut berasal dari gesekan ban kendaraan di jalan raya.

Dikutip dari SciTechDaily, temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment ini memberi perspektif baru bahwa krisis plastik tidak hanya mencemari sungai dan lautan, tetapi juga ikut memenuhi udara yang dihirup masyarakat setiap hari.

Ilustrasi mikroplastik. (Dok. Pexels)
Ilustrasi mikroplastik. (Dok. Pexels)

Untuk memahami kondisi tersebut, para peneliti mengambil sampel udara di kawasan Torgauer Strasse, Leipzig, salah satu jalan dengan lalu lintas padat di Jerman. Menggunakan alat pemantau kualitas udara berstandar Eropa, mereka menyaring udara selama dua pekan dan menganalisis kandungan partikelnya menggunakan teknologi laboratorium khusus.

Hasilnya menunjukkan partikel mikro dan nanoplastik tersebar di udara perkotaan dalam jumlah yang terukur. Partikel paling dominan berasal dari abrasi ban kendaraan, disusul plastik jenis lain seperti PVC, polyethylene, dan PET yang umum ditemukan dalam kemasan sehari-hari.

Peneliti utama, Ankush Kaushik, mengatakan studi ini menjadi salah satu penelitian pertama di Jerman yang mampu memetakan jenis dan ukuran partikel plastik di udara secara detail.

“Penelitian ini memberi gambaran bagaimana mikro dan nanoplastik menjadi bagian dari paparan polusi harian masyarakat perkotaan,” ujarnya.

Meski massanya kecil, dampaknya terhadap kesehatan dinilai tidak bisa dianggap sepele. Peneliti memperkirakan warga yang tinggal di kawasan dengan lalu lintas padat seperti Leipzig dapat menghirup sekitar 2,1 mikrogram partikel plastik setiap hari.

Partikel berukuran sangat kecil itu dinilai berbahaya karena mampu masuk lebih dalam ke saluran pernapasan hingga paru-paru. Selain plastik itu sendiri, partikel tersebut juga dapat membawa zat beracun lain seperti logam berat dan senyawa kimia berbahaya.

baca juga

Berdasarkan model epidemiologi yang digunakan peneliti, paparan jangka panjang mikroplastik di udara berpotensi meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 9 persen dan kanker paru-paru hingga 13 persen.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan polusi udara kini tidak lagi hanya soal asap kendaraan atau emisi pabrik. Di balik meningkatnya mobilitas dan penggunaan plastik global, kota-kota besar juga menghadapi ancaman polusi baru yang belum sepenuhnya diatur dalam kebijakan kesehatan maupun kualitas udara.

Hingga kini, World Health Organization maupun Uni Eropa belum memiliki standar khusus terkait batas aman mikroplastik di udara. Salah satu alasannya karena penelitian mengenai dampak kesehatan partikel plastik di atmosfer masih tergolong baru dan terus berkembang.

Namun, para peneliti menilai hasil studi ini menjadi alarm penting bagi pemerintah dan perencana kota. Mereka menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik saja tidak cukup menyelesaikan persoalan polusi udara jika abrasi ban kendaraan tetap diabaikan.

“Sekitar dua pertiga mikroplastik berasal dari abrasi ban. Ini menunjukkan bahwa masalah polusi partikel tidak bisa diselesaikan hanya dengan beralih ke kendaraan listrik,” ujar Prof. Hartmut Herrmann dari TROPOS.

Ke depan, peneliti mendorong adanya pemantauan mikroplastik sebagai bagian dari sistem kualitas udara perkotaan. Selain itu, mereka juga meminta regulasi yang lebih serius untuk menekan sumber polusi plastik di jalan raya.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap sampah plastik di laut, studi ini menunjukkan bahwa sebagian plastik ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Ia berubah menjadi partikel sangat kecil, lalu kembali masuk ke tubuh manusia lewat udara yang dihirup setiap hari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 12:13 WIB

Mudah dan Cepat, JKN Bantu Amalia Sehat

Mudah dan Cepat, JKN Bantu Amalia Sehat

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 10:12 WIB

Keamanan Moskow Rusia Jebol, Serbuan Ratusan Drone Ukraina Lumpuhkan Fasilitas Logistik

Keamanan Moskow Rusia Jebol, Serbuan Ratusan Drone Ukraina Lumpuhkan Fasilitas Logistik

News | Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB

Terkini

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Sport | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

×