- Dokter Ivan menyatakan dua puluh persen ibu hamil berencana normal berpotensi caesar karena masalah persalinan mendadak.
- Penyebab utama caesar meliputi ukuran bayi terlalu besar akibat diabetes kehamilan dan gangguan kemajuan persalinan.
- Penyebab lain tindakan caesar adalah posisi bayi tidak normal, komplikasi plasenta, serta kebutuhan tindakan keselamatan segera.
3. Kondisi bayi butuh tindakan segera
Operasi caesar juga dapat dilakukan ketika dokter menemukan kondisi yang membuat persalinan pervaginam atau lahiran normal berisiko bagi bayi.
WHO menjelaskan bahwa caesar dapat diperlukan ketika persalinan pervaginam berpotensi membahayakan ibu atau bayi, misalnya pada persalinan yang berlangsung terlalu lama, tanda gawat janin, atau posisi bayi yang tidak normal.
Karena itu, rencana persalinan normal tidak berarti ibu harus memaksakan persalinan pervaginam dalam kondisi yang sudah tidak aman.
4. Posisi bayi atau komplikasi kehamilan
Bayi dengan posisi sungsang atau melintang dapat membuat persalinan pervaginam tidak menjadi pilihan paling aman dalam kondisi tertentu.
Di sisi lain, komplikasi seperti plasenta previa bisa menjadi alasan kuat untuk melakukan operasi caesar. ACOG menempatkan kondisi tertentu, termasuk plasenta previa dan ruptur uteri, sebagai keadaan ketika caesar dapat menjadi metode persalinan yang paling aman.
Ivan menekankan, peluang persalinan normal tetap dapat diupayakan sejak masa kehamilan dengan menjaga kondisi kesehatan ibu dan mengendalikan faktor risiko yang masih bisa dimodifikasi.
“Intinya kita berharap buat setiap, semua ibu hamil itu bisa melahirkan normal. Tapi pada kondisi-kondisi yang bisa dicoba untuk diperbaiki, seperti tadi saya bilang, jangan sampai keberlebihan, atau barangkali ibunya kurang terawat selama proses kehamilan yang menyebabkan risiko untuk persalinan yang susah, itu yang memang kita encourage terus,” pungkas Dr. Ivan.
Meski persalinan pervaginam memiliki sejumlah perbedaan dalam paparan mikrobiota awal dibandingkan persalinan caesar, bukan berarti bayi yang lahir melalui operasi caesar pasti memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan setelah kelahiran adalah kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact), termasuk melalui metode Kangaroo Mother Care (KMC) pada kondisi yang sesuai. Pendekatan tersebut dapat mendukung berbagai aspek perawatan bayi, termasuk membantu mempertahankan suhu tubuh dan mendukung proses menyusui.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Bunda Parenting Convention 2026 yang diselenggarakan RSIA Bunda Jakarta melalui kolaborasi dokter spesialis dan subspesialis, penerapan Family Integrated Care (FICare) dan KMC di Neonatal Intensive Care Unit (NICU), serta edukasi sejak masa antenatal hingga masa tumbuh kembang anak.