Industri Farmasi Perlu Berubah agar Lebih Ramah Lingkungan, WHO Desak Peran Regulator

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:10 WIB
Industri Farmasi Perlu Berubah agar Lebih Ramah Lingkungan, WHO Desak Peran Regulator
Ilustrasi obat-obatan (dok.Pexels/ Bastian Riccardi)

Suara.com - Ketika membicarakan perubahan iklim, industri farmasi mungkin bukan sektor yang langsung terlintas. Padahal, sektor kesehatan secara global menyumbang sekitar 5 persen emisi gas rumah kaca. Jejak tersebut muncul sepanjang siklus hidup produk farmasi, mulai dari manufaktur, distribusi dan penggunaan hingga pembuangan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), emisi sektor kesehatan meningkat 77 persenantara 1995 dan 2019. Dalam periode yang sama, emisi yang berkaitan dengan konsumsi global juga meningkat sekitar 49 persen.

Kondisi ini mendorong WHO menyusun kerangka kerja yang ditujukan bagi regulator obat dan produk kesehatan untuk membantu menekan emisi industri farmasi, tanpa mengorbankan inovasi, ketahanan pasokan, maupun akses pasien terhadap obat.

Kerangka kerja tersebut menempatkan regulator sebagai salah satu aktor penting dalam mendorong perubahan industri farmasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

Direktur Departemen Regulasi dan Prakualifikasi WHO, Dr. Rogério Gaspar, mengatakan dekarbonisasi industri farmasi bukan lagi sekadar persoalan kemungkinan, tetapi bagaimana perubahan tersebut dapat dilakukan dengan cepat dan adil.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah dekarbonisasi industri farmasi itu mungkin. Tantangan sebenarnya adalah seberapa cepat dan adil kita dapat mewujudkannya,” kata Rogério, dikutip dari Sustainability Magazine, Rabu (12/8).

Menurut dia, perangkat regulasi yang telah tersedia dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lingkungan yang mendorong inovasi sekaligus memperkuat keberlanjutan sistem farmasi.

Tiga pilar perubahan

Kerangka kerja WHO tersebut dibangun di atas tiga pilar yang ditujukan untuk membantu regulator memasukkan pertimbangan lingkungan ke dalam proses pengawasan produk farmasi.

baca juga

Pertama, meningkatkan literasi iklim regulator. WHO mendorong agar aspek keberlanjutan dimasukkan ke dalam program pelatihan regulasi yang sudah ada. Dengan pengetahuan tersebut, regulator diharapkan dapat lebih memahami sumber emisi terbesar dalam siklus hidup produk farmasi dan rantai pasoknya.

Pendekatan ini penting karena regulator tidak hanya berperan memastikan obat aman, bermutu dan efektif. Mereka juga dapat memengaruhi bagaimana industri mengembangkan dan memproduksi produk tersebut.

Kedua, menyelaraskan pengukuran dan pelaporan emisi. Perbedaan metode pengukuran emisi dapat menyulitkan perbandingan kinerja lingkungan antarprodusen maupun negara.

Karena itu, WHO mendorong penggunaan standar data bersama, pemetaan sumber emisi terbesar, serta mekanisme pelaporan emisi secara sukarela. Penyelarasan tersebut diharapkan dapat menciptakan aturan yang lebih konsisten sekaligus mengurangi beban administratif bagi industri dan regulator.

Ketiga, memanfaatkan jalur regulasi untuk mendorong inovasi. Regulator didorong membuka ruang dialog lebih awal dengan produsen yang mengembangkan teknologi atau produk dengan dampak lingkungan lebih rendah.

Dengan pendekatan tersebut, mekanisme regulasi yang sudah ada dapat digunakan untuk mendukung teknologi berkelanjutan tanpa mengurangi pengawasan terhadap standar kualitas, keamanan dan efektivitas obat.

Ketika regulasi bertemu teknologi digital

Salah satu contoh yang disebut WHO berasal dari Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan uji coba informasi produk elektronik pada periode 2023–2025. Dalam skema tersebut, informasi yang sebelumnya dicetak pada kemasan atau lembar kertas dapat diakses secara digital melalui kode QR.

Perubahan ini berpotensi mengurangi kebutuhan kertas, pencetakan dan distribusi informasi produk.

Pada saat yang sama, konsumen dapat memperoleh informasi obat secara lebih mudah melalui perangkat digital.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam sistem regulasi tidak selalu harus menghasilkan aturan baru yang kompleks. Penyesuaian terhadap cara informasi disampaikan juga dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan akses terhadap informasi produk.

Jangan sampai dekarbonisasi mengurangi akses obat

Namun, upaya mengurangi emisi industri farmasi memiliki tantangan yang lebih kompleks dibandingkan sekadar menurunkan jejak karbon.

Obat merupakan bagian penting dari sistem kesehatan. Karena itu, perubahan menuju produksi yang lebih ramah lingkungan tidak boleh membuat harga obat semakin sulit dijangkau atau mengganggu ketersediaannya.

WHO menekankan bahwa transisi menuju nol emisi bersih perlu mempertimbangkan keterjangkauan obat, ketahanan rantai pasok dan pemerataan akses.

Hal ini menjadi semakin penting bagi negara berpenghasilan rendah dan menengah. Persyaratan keberlanjutan yang semakin ketat tidak seharusnya justru menjadi hambatan bagi produsen dari negara-negara tersebut untuk masuk dan bertahan di pasar.

Direktur Jenderal Badan Obat-obatan Afrika, Dr. Delese Mimi Darko, melihat regulator sebagai pihak yang ikut merancang sistem tempat industri berkembang.

“Dengan menanamkan keberlanjutan ke dalam kerangka kerja peraturan kita, kita dapat mendukung inovasi, memperkuat manufaktur lokal, dan membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh,” ujarnya.

Dekarbonisasi membutuhkan kerja lintas negara

Kerangka kerja WHO menunjukkan bahwa pengurangan emisi industri farmasi tidak hanya bergantung pada keputusan perusahaan untuk mengubah proses produksinya.

Regulator juga memiliki ruang untuk memengaruhi arah inovasi melalui standar, pengawasan, mekanisme pelaporan dan dialog dengan industri.

Namun, perubahan tersebut membutuhkan dukungan yang lebih luas, termasuk peningkatan kapasitas, transfer teknologi, pembiayaan berkelanjutan dan kerja sama internasional.

Dengan pendekatan tersebut, keberlanjutan tidak ditempatkan sebagai tambahan di luar sistem regulasi farmasi, tetapi menjadi bagian dari cara industri mengembangkan, memproduksi dan mendistribusikan obat.

Pada akhirnya, tantangannya bukan hanya membuat industri farmasi menghasilkan lebih sedikit emisi. Transisi tersebut juga harus memastikan bahwa obat yang lebih ramah lingkungan tetap aman, efektif, terjangkau dan tersedia bagi mereka yang membutuhkannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Kurangi Konsumsi Produk Hewani Dapat Menekan Jejak Lingkungan Makanan?

Mengapa Kurangi Konsumsi Produk Hewani Dapat Menekan Jejak Lingkungan Makanan?

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:30 WIB

200 Truk Kontainer di Tanjung Priok Diuji Emisi Demi Kejar Udara Bersih Pelabuhan

200 Truk Kontainer di Tanjung Priok Diuji Emisi Demi Kejar Udara Bersih Pelabuhan

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:41 WIB

Mulai 2027, Perusahaan Tak Bisa Lagi Sembunyikan Jejak Emisi Karbon

Mulai 2027, Perusahaan Tak Bisa Lagi Sembunyikan Jejak Emisi Karbon

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 15:45 WIB

Terkini

BRI Tulungagung Genjot Ekspansi AgenBRILink demi Perluasan Akses Keuangan Warga

BRI Tulungagung Genjot Ekspansi AgenBRILink demi Perluasan Akses Keuangan Warga

Bri | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:10 WIB

BRImo Catat 49,7 Juta Pengguna, Volume Transaksi Capai Rp4.166 Triliun hingga Juni 2026

BRImo Catat 49,7 Juta Pengguna, Volume Transaksi Capai Rp4.166 Triliun hingga Juni 2026

Kalbar | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:10 WIB

Industri Farmasi Perlu Berubah agar Lebih Ramah Lingkungan, WHO Desak Peran Regulator

Industri Farmasi Perlu Berubah agar Lebih Ramah Lingkungan, WHO Desak Peran Regulator

Health | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:10 WIB

BRImo Capai 49,7 Juta Pengguna dengan Volume Transaksi Rp4.166 Triliun hingga Juni 2026

BRImo Capai 49,7 Juta Pengguna dengan Volume Transaksi Rp4.166 Triliun hingga Juni 2026

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:09 WIB

LG Siapkan Robot Humanoid Generasi Baru Pakai AI NVIDIA, Bakal Dipamerkan 2027

LG Siapkan Robot Humanoid Generasi Baru Pakai AI NVIDIA, Bakal Dipamerkan 2027

Tekno | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:08 WIB

Bersama Danantara, BRImo Tembus 49,7 Juta Pengguna dengan Transaksi Rp4.166 Triliun

Bersama Danantara, BRImo Tembus 49,7 Juta Pengguna dengan Transaksi Rp4.166 Triliun

Sumsel | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:07 WIB

Feng Shui Rumah Kontrakan: 8 Cara Menata Rumah Sewa agar Terasa Lebih Nyaman dan Harmonis

Feng Shui Rumah Kontrakan: 8 Cara Menata Rumah Sewa agar Terasa Lebih Nyaman dan Harmonis

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:02 WIB

Trik Rahasia Cek Motor Bekas Korban Banjir sebelum Deal: Ini 5 Opsi yang Murah

Trik Rahasia Cek Motor Bekas Korban Banjir sebelum Deal: Ini 5 Opsi yang Murah

Otomotif | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:01 WIB

Sekjen Parpol Koalisi Kumpul Tanpa PDIP, Utut: Bagian dari Dinamika Politik

Sekjen Parpol Koalisi Kumpul Tanpa PDIP, Utut: Bagian dari Dinamika Politik

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:00 WIB

Prabowo Dorong 30 Ribu Koperasi Aktif untuk Perkuat Ekonomi Rakyat

Prabowo Dorong 30 Ribu Koperasi Aktif untuk Perkuat Ekonomi Rakyat

Video | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 14:00 WIB

×