- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui panduan Healthy Diet menekankan empat prinsip utama pola makan sehat, yakni kecukupan gizi (adequacy), keseimbangan (balance), moderasi (moderation), dan keberagaman (diversity).
- Dr. Diana Sunardi menyatakan orang tua wajib memahami komposisi, nilai gizi, dan porsi produk pangan secara utuh.
- Julia R. Wijaya menjelaskan setiap bahan pangan memiliki fungsi spesifik terhadap tekstur, rasa, dan karakteristik produk.
Suara.com - Memilih makanan sehat tidak cukup hanya dengan melihat satu kandungan atau bahan yang tercantum pada kemasan. Komposisi, nilai gizi, porsi konsumsi, hingga fungsi setiap bahan dalam produk pangan perlu dipahami secara menyeluruh agar masyarakat dapat menentukan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan gizi keluarga.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui panduan Healthy Diet menekankan empat prinsip utama pola makan sehat, yakni kecukupan gizi (adequacy), keseimbangan (balance), moderasi (moderation), dan keberagaman (diversity).
Pentingnya pemahaman tersebut menjadi salah satu perhatian dalam peringatan World Food Day 2026 bertema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”. Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar seminar dan lokakarya interaktif untuk meningkatkan literasi pangan, termasuk pemahaman mengenai nutrisi, keamanan bahan pangan, serta cara membaca label produk.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), mengatakan orang tua perlu membiasakan diri membaca informasi nilai gizi dan komposisi produk secara utuh, terutama dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menurutnya, penilaian terhadap produk pangan tidak seharusnya hanya berfokus pada satu bahan tertentu. Komposisi keseluruhan, kandungan gizi, porsi konsumsi, serta peran produk dalam pola makan sehari-hari juga perlu dipertimbangkan.
“Evaluasi terhadap suatu produk perlu mempertimbangkan keseluruhan komposisi, nilai gizi, porsi konsumsi, serta perannya dalam pola makan sehari-hari. Pendekatan ini membantu masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan membuat keputusan yang lebih tepat berdasarkan informasi yang utuh,” jelas Diana.
Memahami Fungsi Bahan dalam Produk Pangan
Selain kandungan gizi, setiap bahan dalam produk olahan memiliki fungsi yang dapat memengaruhi tekstur, rasa, kestabilan, dan karakteristik produk. Karena itu, memahami fungsi bahan pangan juga menjadi bagian penting dari literasi pangan.
Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), Julia R. Wijaya, Ph.D., menjelaskan bahwa satu bahan tidak selalu dapat menggantikan seluruh fungsi bahan lainnya dalam formulasi produk.
Ia mencontohkan gula yang tidak hanya memberikan rasa manis, tetapi juga berkontribusi terhadap karakter fisik produk, seperti tekstur dan body. Sementara itu, pemanis buatan dapat memberikan rasa manis, tetapi tidak otomatis menggantikan fungsi gula lainnya.
Dalam kondisi tertentu, maltodekstrin dapat digunakan untuk membantu membentuk karakteristik fisik produk. Bahan ini merupakan karbohidrat hasil pengolahan pati yang memiliki fungsi berbeda dari gula sederhana.
Menurut Julia, maltodekstrin dapat digunakan dalam formulasi berbagai produk pangan, termasuk minuman dan pangan fungsional, untuk mendukung karakteristik seperti mouthfeel, kelarutan, serta sebagai pembawa vitamin dan mineral.
Pemahaman mengenai fungsi bahan tersebut membantu masyarakat melihat produk pangan secara lebih utuh, bukan sekadar menilai baik atau buruknya berdasarkan satu komponen.
Melalui peningkatan literasi pangan berbasis sains, masyarakat diharapkan lebih cermat membaca label, memahami komposisi produk, dan merujuk pada sumber informasi yang kredibel. Dengan demikian, keputusan memilih pangan sehat dapat didasarkan pada informasi yang menyeluruh serta disesuaikan dengan kebutuhan gizi keluarga.