- Dokter Putri Nugraheni menyatakan bahwa obesitas dan gangguan kesehatan mental memiliki hubungan timbal balik yang saling memperburuk.
- Studi menunjukkan orang dengan obesitas berisiko 55 persen lebih tinggi mengalami depresi seiring waktu berjalan.
- Dokter Christopher Andrian menjelaskan bahwa pengelolaan obesitas memerlukan strategi jangka panjang menyeluruh karena dipengaruhi sistem biologis tubuh.
Suara.com - Obesitas selama ini kerap dikaitkan dengan pola makan dan kurangnya aktivitas fisik. Padahal, persoalan berat badan ternyata tidak sesederhana itu. Di balik perubahan angka pada timbangan, ada berbagai faktor biologis, psikologis, hingga sosial yang turut memengaruhi kondisi seseorang.
Salah satu hal yang masih jarang disadari adalah hubungan dua arah antara obesitas dan kesehatan mental. Keduanya dapat saling memengaruhi, bahkan membentuk lingkaran yang membuat seseorang semakin sulit keluar dari kondisi tersebut.
Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan peradangan atau inflamasi sistemik yang dapat terjadi pada tubuh seseorang dengan obesitas.
Inflamasi yang berlangsung terus-menerus diketahui menjadi salah satu faktor risiko depresi. Artinya, seseorang dengan obesitas dapat memiliki kerentanan lebih tinggi mengalami gangguan suasana hati.
Selain faktor biologis, keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik juga dapat berpengaruh. Padahal, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental, membantu mencegah kecemasan dan depresi, serta mengurangi risiko perburukan kondisi tersebut.
“Jadi kalau kita sudah ada cemas, sudah ada depresi, aktivitas fisik itu mencegah perburukannya. Dan juga kalau belum ada cemas atau depresi, mencegah terjadinya,” jelas dr. Putri.
Di sisi lain, hubungan tersebut juga bisa berjalan sebaliknya. Kondisi kesehatan mental yang terganggu dapat memengaruhi kebiasaan makan dan aktivitas sehari-hari sehingga meningkatkan risiko obesitas.
Ketika mengalami stres, kecemasan, atau depresi, sebagian orang cenderung mencari cara cepat untuk memperbaiki suasana hati. Salah satu mekanisme koping yang sering muncul adalah stress eating, yakni kecenderungan makan lebih banyak sebagai respons terhadap tekanan emosional.
Pada saat bersamaan, depresi dapat menurunkan motivasi seseorang untuk berolahraga. Stres juga dapat memengaruhi hormon dan proses biologis tubuh yang membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang.
Kondisi tersebut akhirnya membentuk lingkaran yang saling berkaitan. Kesehatan mental yang menurun dapat memicu kebiasaan yang meningkatkan berat badan, sementara obesitas dan stigma yang menyertainya dapat memperburuk kondisi psikologis.
Stigma Berat Badan Bisa Memperburuk Kondisi Mental
Persoalan obesitas juga tidak bisa dilepaskan dari pandangan masyarakat terhadap bentuk tubuh. Komentar negatif, diskriminasi, hingga penilaian bahwa seseorang mengalami obesitas karena kurang disiplin dapat menambah beban psikologis.
Bahkan, stigma tersebut bisa membuat seseorang merasa malu untuk mencari bantuan medis.
Hubungan dua arah ini juga terlihat dalam meta-analisis terhadap 15 penelitian jangka panjang yang melibatkan sekitar 58.000 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa orang dengan obesitas memiliki kemungkinan 55 persen lebih tinggi mengalami depresi seiring waktu. Sebaliknya, orang dengan depresi memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami obesitas.
Sementara itu, studi ACTION APAC Indonesia menemukan hanya 30 persen responden dengan obesitas yang pernah mendiskusikan berat badan mereka dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 43 persen responden menganggap penurunan berat badan merupakan tanggung jawab pribadi.
Menurut dr. Putri, pengalaman setiap orang dengan obesitas tidak selalu sama. Karena itu, kondisi tubuh seseorang tidak seharusnya menjadi dasar untuk menilai karakter maupun kesehatan mentalnya.
“Orang dengan obesitas dapat menghadapi stigma, tekanan psikologis, dan pengalaman sosial yang memengaruhi kesejahteraannya. Sebaliknya, kondisi kesehatan mental tertentu juga dapat memengaruhi pola tidur, aktivitas, nafsu makan, dan perilaku sehari-hari. Setiap orang dengan obesitas memiliki pengalaman yang berbeda. Kondisi tubuh seseorang tidak dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental, karakter, maupun kualitas dirinya,” ujarnya.
Pengelolaan Obesitas Perlu Pendekatan Menyeluruh
Selain faktor psikologis, mekanisme biologis juga berperan dalam pengaturan berat badan. Dokter spesialis gizi klinik, dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan bahwa otak mengatur perilaku makan melalui sejumlah sistem, termasuk pengaturan rasa lapar dan kenyang, respons terhadap kenikmatan makanan, serta pengambilan keputusan.
Karena itu, obesitas tidak tepat jika hanya dianggap sebagai persoalan kurangnya kedisiplinan.
“Tubuh memiliki sistem biologis yang mengatur rasa lapar, kenyang, dan penggunaan energi. Bahkan setelah berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar sehingga mempertahankan hasil menjadi lebih menantang. Itu sebabnya pengelolaan obesitas membutuhkan strategi jangka panjang yang disesuaikan dengan kondisi setiap individu,” jelas dr. Christopher.
Pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi penanganan obesitas. Namun, pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan dukungan tambahan seperti pendampingan psikologis dan perilaku, terapi obat, hingga bedah bariatrik sesuai kebutuhan klinis.
Salah satu pilihan terapi obat adalah glucagon-like peptide-1 receptor agonist (GLP-1 RA), yang bekerja menyerupai hormon alami pemberi sinyal kenyang untuk membantu mengurangi rasa lapar.
Penggunaannya harus berdasarkan resep dan pemantauan dokter dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, serta kemungkinan efek samping.
Pentingnya pendekatan menyeluruh ini turut menjadi perhatian Novo Indonesia melalui kampanye Hidup Lebih Ringan. Kampanye tersebut mengajak masyarakat memahami obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks, bukan sekadar persoalan angka di timbangan.
Melalui platform edukasi NovoCare.id, masyarakat juga dapat mengakses informasi tervalidasi mengenai obesitas, kalkulator BMI, serta informasi untuk menemukan dokter spesialis secara daring maupun tatap muka.
Pada akhirnya, perjalanan mengelola obesitas bukan hanya tentang menurunkan berat badan. Kesehatan mental, dukungan lingkungan, dan pendampingan tenaga kesehatan juga menjadi bagian penting agar seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih sehat tanpa dibebani stigma.