Indotnesia - Bika ambon merupakan jenis kue yang berwarna kuning dengan bentuk pipih dan permukaannya terlihat seperti pori-pori kulit manusia. Meski menyandang nama ambon, makanan satu ini ternyata bukan berasal dari nama ibu kota Provinsi Maluku, lho.
Biasanya, kita mudah menemukan kue bika ambon di sejumlah daerah dalam acara hajatan, lebaran atau rapat sebagai suguhan untuk tamu.
Selain itu, kue yang biasanya tersaji dengan potongan persegi ini juga kerap dijual bersamaan dengan ragam jajanan tradisional di pasar.
Saat dimakan, bika ambon memiliki citarasa legit dengan teksturnya yang kenyal di lidah serta aroma harum pandan menyengat.
Kerap jadi kudapan ringan untuk menemani waktu minum teh, bika ambon menyimpan berbagai sejarah dan asal usul nama yang menarik sebagai panganan nusantara Indonesia.
Sejarah Nama Bika Ambon
Memiliki nama ambon, kue ini tidak berasal dari Ambon tetapi justru merupakan makanan khas Ibu Kota Medan, Sumatera Utara.
Dilansir dari laman resmi Dinas Pariwisata Kota Medan, nama bika dalam kue ini terinspirasi dari kue khas Melayu Bika atau Bingka yang kemudian dimodifikasi dengan tambahan pengembang dari bahan Nira atau tuak Enau.
Seiring perkembangan jaman, bika ambon tidak hanya berwarna kuning, namun memiliki varian warna sesuai rasa seperti durian, keju, pandan, dan coklat.
Baca Juga: Daftar 15 Situs Judi Online yang Diblokir Kominfo
Berdasarkan catatan sejarah, bika merupakan salah satu peninggalan Portugis di Maluku yang diperkenalkan oleh penduduk setempat.
Namun, belum ada sumber kredibel yang bisa menjelaskan bagaimana kue tersebut dibawa atau diperkenalkan oleh orang Ambon ke Medan dan mengapa disebut sebagai bika ambon.
Sedangkan berdasarkan sejumlah cerita di masyarakat Medan, bika ambon diberi nama demikian karena tempat pertama kali dijual dan populernya terletak di Jalan Ambon Sei Kera Medan.
Selain itu, ada pula sumber lain menyebut bahwa bika ambon disebut demikian karena berasal dari warga Ambon yang merantau ke Malaysia dengan membawa kue bika, lalu singgah di Medan dan menjual panganan tersebut.
Cerita selanjutnya, dikatakan bahwa saat masa penjajahan Belanda ketika masih ada di Tanah Deli, seorang Tionghoa mencoba membuat kue di rumahnya yang tidak jauh dari kawasan Jalan Majapahit, Medan.
Setelah matang, ia meminta pembantunya, seorang pria asal Ambon untuk mencoba kue tersebut. Ia lantas menyukai kue itu dan memakannya dengan lahap. Cerita tersebut lantas jadi latar belakang mengapa panganan khas Medan itu disebut bika ambon.
Tak hanya berdasarkan sejumlah cerita yang dipercayai oleh masyarakat, ada pula yang menganalisa sejarah penamaan bika ambon berdasarkan bahasa.
Masih menurut Dinas Pariwisata Kota Medan, Ambon bukanlah istilah yang menyatakan nama jalan tempat panganan bika ambon populer atau cerita sejarah lainnya, tetapi istilah tersebut dalam bahasa Medan memiliki arti lembut.