Indotnesia - Yuni Shara sempat membuat sejumlah warganet kaget saat dirinya mengaku sebagai anak pantura. Hal itu ditulisnya di kolom keterangan foto yang diunggahnya lewat akun Instagram pribadi @yunishara36.
Foto yang diunggahnya tersebut diduga diambil saat Yuni Shara sedang berhenti di kawasan sekitar Pantura.
Membaca keterangan foto itu, ada seorang warganet yang menyebut bahwa artis berusia 50 tahun itu merupakan idola para supir truk, apalagi saat dirinya mengaku sebagai anak pantura.
Pasalnya, Pantura dikenal sebagai jalur alternatif bagi supir truk muatan sekaligus memiliki banyak rest area atau kawasan tempat pemberhentian yang luas dan ramah di kantong.
Berbicara tentang Pantura, tak lepas dari keterkaitannya sebagai primoda alternatif jalur mudik penduduk Jawa yang menghubungkan Cilegon-Jakarta-Semarang-Surabaya-Banyuwangi.
Pantura atau dikenal dengan Jalur Pantura merupakan singkatan dari Pantai Utara Jawa dengan nama resmi Jalan Nasional Rute 1.
Jalan raya ini memiliki panjang sekitar 1.316 km yang terbentang sejajar dengan pantai utara Jawa.
Jadi salah satu jalan raya legendaris yang ada di Indonesia, Jalur Pantura memiliki sejarah panjang sejak masa Hindia Belanda hingga akhirnya kini eksistensinya mulai meredup setelah adanya tol Cipali.
Baca Juga: Malam Satu Suro, Tahun Baru Jawa yang Dikenal Sakral Banyak Pantangan
Dilansir dari Suara.com, Jalur Pantura merupakan transformasi dari Jalan Raya Pos, yaitu jalur yang dibuat saat masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels periode 1808-1811.
Menurut catatan sejarah, Jalan Raya Pos dibangun karena terinspirasi dari infrastruktur negara Paris yang dinilai Daendels begitu rapi dalam menghubungkan 25 kota di Eropa serta terpesona dengan jalan trans-Nasional Paris-Amsterdam.
Ketika proses pembuatan Jalan Raya Pos akhirnya dilaksanakan, Daendels membebankan pembangunan kepada para Bupati yang jalannya dilewati jalur tersebut dengan menggunakan tenaga kerja rodi.
Sebagaimana diceritakan dalam buku Jalan Raya Pos Jalan Raya Daendels (2005) yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, kerja rodi pembangunan jalan itu mengakibatkan banyak pekerja tewas karena kelelahan dan diserang penyakit malaria.
Pantura Bertransformasi
Seiring berjalannya waktu, jalan raya yang membentang dari Anyer hingga Panarukan yang juga dikenal dengan Jalan Daendels itu mulai bertransformasi menjadi jalan yang akrab disebut sebagai Jalur Pantura.
Perubahan fisik dan fungsi jalan tersebut mulai terlihat signifikan, terutama setelah dilakukan revitalisasi pascakrisis ekonomi dunia pada 1930.
Setelah lebih dari 200 tahun, Jalur Pantura jadi jalan alternatif bagi sejumlah kendaraan besar seperti truk muatan dan bus untuk melintasi Jawa.
Geliat aktivitas perekonomian pun terus berkembang hingga sekitar tahun 2000-an Jalur Pantura jadi jalan primadona penduduk Jawa, khususnya ketika musik mudik Lebaran.
Sayangnya, sejak tok Cikopo-Palimanan (Cipali) mulai beroperasi pada Juni 2015, volume kendaraan yang melintas di Jalur Pantura mulai berkurang karena banyak yang beralih menggunakan tol.
Bagi sejumlah orang, tol dinilai lebih cepat sampai ke tempat tujuan meskipun harus mengeluarkan uang untuk melewatinya.