3. Menaiki Tangga Tebu Wulung
Dalam prosesi ini, anak akan didampingi oleh orang tua untuk menaiki tangga tujuh tangga dari batang tebu yang memiliki makna sebagai dukungan keluarga untuk anak dalam menjalani hari-harinya ke depan.
Tradisi ini juga memiliki harapan agar kelak anak tidak mudah menyerah dalam meraih cita-citanya.
4. Masuk Kurungan
Prosesi ke-4 adalah memasukkan anak ke dalam sangkar atau kurungan ayam, lalu diberikan berbagai benda untuk dipilih oleh si anak.
Kurungan ayam bermakna menggambarkan kehidupan nyata yang akan dimasuki oleh anak kelak jika dewasa.
Sedangkan benda dalam kurungan yang diambil oleh anak memiliki arti profesi apa yang bakal ia jalani kelak ketika dewasa.
5. Memandikan Anak
Jika merunut pada sejarah tradisi Tedak Siten, pada saat prosesi memandikan anak, air yang digunakan harus diambil oleh kedua orang tua langsung dan pada waktu tertentu, yaitu sekitar pukul 10-12 malam.
Baca Juga: Profil Thierry Henry dan Jejak Karirnya Menjadi Pemain Sepak Bola
Setelah air diambil, kemudian didiamkan atau diembunkan hingga keesokan hari. Lalu, anak akan dimandikan oleh orang tuanya dengan air tersebut yang diberi bunga.
Proses ini memiliki makna agar kelak anak dapat membanggakan keluarga dan dirinya sendiri.
6. Memberikan Udhik-udhik
Udhik-udhik adalah uang logam yang dicampur dengan bermacam-macam bunga. Dalam prosesi ini, udhik-udhik akan disebar dan dibagikan kepada anak-anak serta orang dewasa yang hadir.
Proses ini bermakna agar kelak si anak dapat menjadi sosok yang dermawan dan mudah berbagi dengan orang lain.
Secara khusus, prosesi tradisi Tedak Siten di setiap daerah memiliki beberapa perbedaan pelaksanaan. Meski begitu, perbedaan tersebut tetap tidak menghilangkan maksud serta tujuan dari diadakannya tradisi itu.