Politisi Partai Golkar, Jusuf Kalla, menyebutkan bahwa hasil survei elektabilitas terhadap bakal calon presiden tidak selalu mencerminkan hasil kemenangan pada Pilpres 2024.
Menurut, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 hasil survei hanya mencerminkan tren dinamika yang sedang berkembang.
Jusuf Kalla menyatakan bahwa hasil survei berbasis 1.200 responden dari total pemilih 205 juta orang tidak dapat dianggap sebagai gambaran yang sangat akurat.
"Hasil survei itu kan hanya menggambarkan tren yang sedang terjadi. Jadi belum tentu hal itu sama seperti di Pilpres nanti," ujarnya dikutip, Senin (31/7/2023).
Dia juga membandingkan situasi elektabilitas bakal calon presiden Anies Baswedan dengan Donald Trump, mantan Presiden AS, yang memiliki elektabilitas rendah namun berhasil terpilih sebagai Presiden AS ke-45 pada Pemilihan Presiden 2016.
Jusuf Kalla menegaskan bahwa elektabilitas Anies Baswedan sebelumnya juga pernah berada di posisi ketiga dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017, tetapi pada akhirnya dia berhasil memenangkan pemilihan tersebut.
Survei terbaru dari Lembaga Utting Research Australia menempatkan Anies Baswedan di posisi ketiga dengan suara 27 persen dibandingkan dengan Ganjar Pranowo 34 persen dan Prabowo Subianto 33 persen.
Survei ini dilakukan secara tatap muka pada 12-17 Juni 2023 dengan 1.200 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, menggunakan metode multi stage random sampling, dan memiliki margin of error sebesar 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. [ANTARA]
Baca Juga: Sekjen PDIP Sebut Bunga Merah dan Kuning Partai Golkar Simbol Baik, Sinyal Masuk Koalisi?