Ahli Hukum Tata Negara, Refly Harun, menyoroti perihal bakal calon presiden dari PDI Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo yang dinilai lemah dalam hal diplomasi internasional.
Menurut Refly, perihal diplomasi internasional ini lah yang menjadi titik lemah Ganjar di antara tiga kandidat calon presiden yang ada yaitu bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.
“Kita tidak melihat track record Ganjar di kancah internasional. Diplomasi internasional. Jadi menurut saya justru inilah titik lemah Ganjar Pranowo di antara tiga calon yang disebut-sebut,” ujar Refly, dikutip Suara Liberte dari kanal YouTube pribadi pada Kamis (8/6/2023).
Oleh karena itu, calon wakil presiden yang tepat untuk Ganjar adalah orang yang memiliki pemahaman terkait dunia internasional.
“Kalau dia misalnya menjadi capres, ya dia harus cari pasangan yang paham tentang peta internasional. Sekaligus bisa menutupi kelemahannya,” ujar Refly.
Karena jika tidak, maka Indonesia bisa menjadi bulan-bulanan dunia internasional karena tidak memiliki wawasan terkait politik global.
“Karena kalau tidak Indonesia akan jadi bulan-bulanan dalam diplomasi internasional karena ketidakpahaman atau wawasan yang sempit dari pemimpinnya. Plus problem bahasa,” ujar Refly.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto sempat mempersoalkan penolakan Ukraina atas proposal damai yang diajukan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.
Ia meyakini jika nanti Ganjar Pranowo menyodorkan proposal serupa sebagai pemimpin negara, maka tidak akan terjadi penolakan.
“Dan kalau Pak Ganjar, kalau Pak Ganjar bersikap, tidak akan terjadi kekeliruan ada penolakan proposal, itu tidak ada. Karena ini tradisi bangsa,” kata Hasto di Sekolah Partai PDIP, Jakarta Selatan, Rabu (7/6/2023).