Loyalis Anies Baswedan, Andi Sinulingga, mengomentari pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin soal lembaga survei.
Mulanya, Cak Imin menyoroti hasil survei yang selalu berbeda-beda. Menurutnya, hal itu disebabkan karena perspektif pertanyaan yang disampaikan kepada responden.
Oleh karena itu, jika muncul perdebatan hasil survei bisa dipesan, Cak Imin blak-blakan mengatakan bahwa hasil tersebut bisa dipesan.
"Kenapa hasil survei selalu berbeda-beda? Jawabannya tergantung dari sisi mana pertanyaan yang disampaikan ke responden. Apa bisa pesan hasilnya ? Ya pasti bisa, tergantung perspektif pertanyaannya," kata Cak Imin melalui akun Twitter @cakiminow, Kamis (8/6).
Menanggapi hal tersebut, Andi menilai kredibilitas lembaga survei semakin terpuruk dan survei telah menjelma menjadi ladang bisnis besar dengan pangsa pasar yaitu ambisi para politisi.
“Bisa dipahami kenapa kredibilitas lembaga survey terpuruk. Survey dah jadi bisnis gede, pasarnya adalah ambisi para politisi,” ujar Andi, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter @AndiSinulingga pada Jumat (9/6/2023).
Para politisi siap membayar mahal hanya untuk memoles citra dirinya. Bahkan, rela melakukan tindak pidana korupsi demi ambisinya.
“Politisi siap bayar mahal demi citra diri, duit enteng, bisa korupsi. Surveyor itu pedagang, jual jasa konsultan juga, kadang jadi pengamat, semua di borongnya,” ujar Andi.
Sementara itu baru-baru ini Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyangkal tuduhan Rocky Gerung bahwa lembaga survei itu tipu-tipu. Pasalnya, bukan hanya partai politik, bahkan lembaga internasional pun meminta survei dari lembaga survei.
“Kalau lembaga-lembaga survei itu tipu-tipu seperti kata Rocky, tidak mungkin partai-partai, lembaga-lembaga internasional, dll meminta survei ke kami. Masak elite politik mau aja kena tipu hehe,” ujar Burhanuddin di akun Twitter @BurhanMuhtadi pada Rabu (7/6/2023).