Politikus Partai Ummat, Helmi Felis, mengomentari perihal pemanggilan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Siti Nurbaya memenuhi panggilan presiden tersebut di Istana Negara, Jakarta pada Jumat (16/6/2023). Hal tersebut tertera dalam keterangan tertulis Deputi Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Machmudin.
Pemanggilan tersebutdiduga berkaitan dengan buruknya kualitas udara di DKI Jakarta yang belakangan disorot. Diketahui ibu kota negara tersebut menempati peringkat tiga teratas kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Berdasarkan data IQAir, kualitas Udara di Jakarta mencapai AQI US 141. Posisi pertama ditempati oleh Menneapolis, Amerika Serikat dengan AQI US 191. Adapun posisi kedua ditempati oleh Doha, Qatar, dengan AQI US 149.
Menanggapi hal tersebut, Helmi menyebut memburuknya kualitas udara di DKI Jakarta terjadi usai Anies Baswedan tidak lagi menjabat.
“Anies tak lagi menjabat, kualitas Udara Jakarta kembali memburuk,” ujar Helmi, dikutip Suara Liberte dari akun Twitter @HelmiFelis_ pada Sabtu (17/6/2023).
Rendahnya kualitas udara DKI Jakarta membuat masyarakat merindukan sosok Anies yang sempat memimpin Jakarta selama satu periode.
“Bahkan diperingkat ke 3 kualitas terburuk di dunia. Semua merindukan Anies Baswedan di Jakarta,” sambung loyalis Anies Baswedan itu.
Dikutip dari CNN, Siti Nurbaya disebut memberikan pemaparan soal kesiapan penanganan polusi udara. Dia menjelaskan soal alat pengukur kualitas udara yang saat ini dimiliki pemerintah.
"Menteri LHK melaporkan COP28 yang akan dilaksanakan di UEA pada akhir tahun dan juga melaporkan tentang alat-alat monitoring polusi udara yang dimiliki," ucapnya.