Rencana Ketua Umum PSSI Erick Thohir membuat aturan pengurangan poin bagi klub yang suporternya membuat rusuh mendapat dukungan. Asalkan PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) komitmen dengan aturan serta perkuat sosialisasi kepada klub dan para suporter.
Sekretaris Jenderal Presidium Nasional Suporter Sepakbola Indonesia (PNSSI) Richard Ahmad Supriyanto mengatakan, rencana aturan pengurangan poin kepada klub yang suporternya rusuh menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terkhusus buat suporter.
Namun, Richard meminta aturan yang akan diterapkan itu harus sudah disampaikan dalam manager meeting dan juga dikuatkan dengan sosialisasi baik berupa workshop dan lainnya.
“Kalau saya sih melihatnya begini, itu pembelajaran buat siapapun buat teman-teman suporter termasuk klub bahwa memang kalau itu sudah ada dalam aturan rule of the gamenya atau regulasinya yang sudah disampaikan dalam manager meeting dan juga di workshop Panpel dan seterusnya. Kalau itu sudah menjadi pemberlakuan harus komit,” kata Richard, kemarin.
Menurut Richard, dari kejadian rusuh di dua pertandingan lanjutan Liga 1 BRI yakni di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Stadion Brawijaya, Kediri menjadi catatan tersendiri bagi klub dan penyelenggara untuk lebih ketat dalam penerapan aturan.
Apalagi, kata Richard, banyak suporter tidak mengetahui aturan larangan suporter menonton langsung klub kesayangan mereka di kandang lawan. Untuk itu, sosialisasi dari PSSI, PT LIB dan juga klub harus dilakukan lebih intens lagi.
Klub agar berkomunikasi dengan fansnya siapapun itu fansnya karena kan begini, ada beberapa kita kroscek ternyata tidak ada komunikasi, ataupun sebaliknya ternyata memang manajemen klubnya tidak komunikasi dengan fansnya,” ujarnya.
“Nah yang kita khawatirkan adalah di Indonesia kan banyak fans, kalau satu mungkin akan lebih mudah kalau ada 3, 4, 5 fans ini yang harus berjibaku untuk merealisasikan atau mensosialisasikan terkait putusan manajer meeting itu,” tambahnya.