Rektor Universitas Paramadina Profesor Didik J Rachbini menyoroti orang-orang yang memiliki deposito di atas semiliar rupiah hingga Rp5 miliar di Indonesia meningkat selama pandemi Covid-19. Ia menyebut, kesenjangan ini terlihat sangat tinggi di tengah masyarakat.
Prof Didik mencontohkan, orang yang memiliki deposito lebih dari Rp5 miliar selama krisis Covid-19 jumlahnya meningkat dari 45 menjadi 52%. Artinya ada sekitar 0,02% orang dalam bank itu.
"Mereka itu menguasai separuh dari aset bank. Kalau ditambah yang punya deposito Rp2 miliar ke atas maka jumlahnya menjadi 62% orang. Ditambah lagi yang Rp1 miliar ke atas menjadi 66% atau 2/3," terang Prof Didik dalam paparannya dalam diskusi daring, dikutip Liberte Suara, Kamis (27/7/2023).
Sementara itu, ujar Prof Didik, orang-orang yang memiliki tabungan sebesar Rp1 juta sampai Rp50 juta hanya berada di angka 12%, jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS).
Lebih lanjut, ia mengkritisi data BPS yang tidak mencerminkan kondisi riil dan cenderung tidak bisa digunakan untuk mengambil keputusan-keputusan strategis.
Rasio Gini atau tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat yang dirilis oleh BPS mengalami peningkatan menjadi 0,388 poin, dari sebelumnya 0,381 pada September 2022 atau meningkat 0,007 poin. Angka ini juga meningkat 0,004 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2022 yang sebesar 0,384.
Rektor Universitas Paramadina itu menyebut, ketimpangan gini rasio oleh BPS sepertinya tidak bermakna apa-apa dan karena itu sebaknya tidak usah menjadi acuan oleh para akademisi. Angka 0,37-0,38 dari gini rasio oleh BPS yang tertera di publik adalah angka yang menipu
“Itulah beda jauhnya data BPS dengan data di bank. Tidak punya makna banyak dalam melihat kesenjangan dan cenderung ‘menipu’ dalam ranah ekonomi politik. Sudah saatnya data BPS itu ‘dibuang’ karena tidak bisa dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan ekonomi politik,” jelasnya.
Baca Juga: Dewi Perssik Sindir Saipul Jamil Sok Suci Usai Dirinya Dituding Test Drive Sebelum Menikah