Ini Mengapa Sirip Ikan Hiu Jadi Menu Istimewa Saat Imlek

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Rabu, 25 Januari 2017 | 14:09 WIB
Ini Mengapa Sirip Ikan Hiu Jadi Menu Istimewa Saat Imlek
Ilustrasi Sup Sirip Ikan Hiu. (Shutterstock)

Suara.com - Bagi masyarakat Tionghoa, pergantian tahun baru atau Imlek merupakan momen istimewa. Hal ini ditandai dengan perayaan yang meriah, lengkap dengan sajian kuliner yang istimewa.

Salah satu panganan khas Imlek yang tergolong mewah adalah sirip ikan hiu. Pakar kuliner dan budaya dari Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia, Aji Bromokusumo mengatakan, sirip hiu memang menjadi hidangan spesial pada momen-momen tertentu di kalangan masyarakat Tionghoa seperti pernikahan atau perayaan tahun baru.

Ia mengisahkan pada zaman dinasti Zhou, Song, dan Ming, di Cina, kaum dari kalangan menengah ke atas ingin menunjukkan kemampuan finansial atau kemakmurannya dengan menyajikan makanan super mahal pada perayaan tertentu, termasuk Imlek.

"Ada juga filosofi budaya Tionghoa kuno, dimana mereka percaya bahwa ada 8 hal yang mewakili kemakmuran, panjang umur, dan keemasan termasuk sirip ikan hiu," ujar Aji pada diskusi WWF Indonesia bertema #ImlekBebasHiu di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Selain mewakili unsur kemakmuran, tambah dia, ada kepercayaan masyarakat Tionghoa bahwa sirip ikan hiu memiliki berbagai manfaat kesehatan mulai dari meningkatkan kesehatan kulit, meningkatkan gairah seksual, menambah energi, mencegah penyakit jantung, hingga menurunkan kolesterol. Padahal, kata Aji, khasiat tersebut mungkin terjadi, karena kandungan kolagen dalam sirip ikan hiu.

"Sirip ikan hiu dianggap kaya kolagen padahal di ceker ayam juga ada kolagen, di cingur juga ada. Jadi, saya kira hanya mitos," jelasnya.

Pakar kuliner William Wongso berpendapat bahwa harga sirip hiu yang mahal menjadi alasan mengapa menu ini tergolong mewah ketika disajikan saat Imlek. Berdasarkan pengalamannya saat dijamu, ketika ada menu sirip ikan hiu maka bisa dipastikan bahwa penjamu merupakan golongan menengah atas.

"Kualitas paling atas itu sirip hiu utuh disajikan di meja. Jadi, memang ketika menyajikan menu ini kita bisa menilai posisi seseorang," tambahnya.

Namun yang menjadi masalah, populasi hiu di Indonesia semakin menipis. Setiap tahunnya, 100 juta hiu diburu untuk diambil siripnya sebagai hidangan di restoran.

baca juga

Pada dasarnya, kata Aji, ada menu alternatif lain yang bisa digunakan untuk mengganti menu sirip ikan hiu. Menurutnya hidangan khas Imlek haruslah mewakili tiga hal, yakni bisa berjalan di darat, terbang di udara, dan berenang di air.

"Menyajikan tiga hal di atas sebagai rasa syukur supaya usaha lancar. Bisa diwakili dengan bebek atau ayam, daging babi, dan ikan. Jadi nggak perlu sirip hiu," pungkas dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Yuk, Selamatkan Harimau Sumatera Bersama #DoubleTigers

Yuk, Selamatkan Harimau Sumatera Bersama #DoubleTigers

Lifestyle | Sabtu, 30 Juli 2016 | 07:00 WIB

Jakarta Kembali Dianugerahi National Earth Hour Capital 2016

Jakarta Kembali Dianugerahi National Earth Hour Capital 2016

News | Rabu, 22 Juni 2016 | 09:16 WIB

WWF Indonesia Kembangkan Green Ekonomi di Kalimantan Barat

WWF Indonesia Kembangkan Green Ekonomi di Kalimantan Barat

Bisnis | Senin, 06 Juni 2016 | 09:20 WIB

Terkini

7 Perusahaan Lagi Antre IPO Tahun Ini

7 Perusahaan Lagi Antre IPO Tahun Ini

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 08:42 WIB

Hilirisasi Agro Berpotensi Tambah PDB hingga 10 Kali Lipat, Ini Strateginya

Hilirisasi Agro Berpotensi Tambah PDB hingga 10 Kali Lipat, Ini Strateginya

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 08:39 WIB

7 Cara Memakai Air Mawar sebagai Setting Spray agar Makeup Tidak Crack

7 Cara Memakai Air Mawar sebagai Setting Spray agar Makeup Tidak Crack

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 08:36 WIB

Jenius Catat Transaksi Valas hingga Nabung Jadi Andalan Pengguna

Jenius Catat Transaksi Valas hingga Nabung Jadi Andalan Pengguna

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 08:35 WIB

Jateng Rawan Bencana, Wakil Ketua DPRD Usulkan Pelajaran Mitigasi Masuk Kurikulum Sekolah dari PAUD

Jateng Rawan Bencana, Wakil Ketua DPRD Usulkan Pelajaran Mitigasi Masuk Kurikulum Sekolah dari PAUD

Jawa Tengah | Kamis, 17 September 2026 | 08:22 WIB

Ada Menkeu Baru, Rencana Dividen BUMN Rp120 Triliun ke APBN Dinego Lagi

Ada Menkeu Baru, Rencana Dividen BUMN Rp120 Triliun ke APBN Dinego Lagi

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 08:21 WIB

10 Hal yang Sebaiknya Tidak Disampaikan lewat Telepon

10 Hal yang Sebaiknya Tidak Disampaikan lewat Telepon

Tekno | Kamis, 17 September 2026 | 08:20 WIB

QRIS Tembus 68 Juta Pengguna, Keamanan Transaksi Jadi Sorotan

QRIS Tembus 68 Juta Pengguna, Keamanan Transaksi Jadi Sorotan

Tekno | Kamis, 17 September 2026 | 08:09 WIB

Parliamentary Threshold Naik 5 Persen, Pengamat Sebut Kalkulasi Partai Menuju 2029 Berubah

Parliamentary Threshold Naik 5 Persen, Pengamat Sebut Kalkulasi Partai Menuju 2029 Berubah

News | Kamis, 17 September 2026 | 08:08 WIB

Review Cherophobia: Takut Bahagia Justru Menjauhkan Kita dari Kebahagiaan

Review Cherophobia: Takut Bahagia Justru Menjauhkan Kita dari Kebahagiaan

Your Say | Kamis, 17 September 2026 | 08:00 WIB

×