Heboh Guru SMA Doktrin Anti-Jokowi, Psikolog: Ini Bahaya

Ade Indra Kusuma
Heboh Guru SMA Doktrin Anti-Jokowi, Psikolog: Ini Bahaya
Ilustrasi simbol anti hate speech atau ujaran kebencian. [Shutterstock]

Banyaknya ujaran kebencian, berita bohong dan sentimen bernada SARA (suku, ras dan agama), berdampak besar pada pola pikir maupun sikap generasi muda.

Suara.com - Oknum guru SMAN 87 Jakarta bikin geger lantaran diduga melakukan ujaran kebencian dan mendoktrin siswanya untuk anti-Jokowi. Meski melalui pihak sekolah sang guru berinisial N dikabarkan telah meminta maaf, namun aduan para orangtua yang keberatan dengan aksi guru tersebut kadung viral.

Dalam aduannya orangtua murid menyebut beberapa siswa SMAN 87 lainnya dikumpulkan sang guru N, lalu ia menunjukkan video gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Sang guru N menyebut banyaknya korban bergelimpangan akibat gempa adalah salah dari Presiden Jokowi.

Dari sinilah aduan bermunculan kalau tindakan guru N tersebut dianggap telah melakukan ujaran kebencian doktrin anti-Jokowi.

Menyikapi kasus ini, Psikolog anak dan remaja Erna Marina Kusuma M.Psi. C. Ft, menjelaskan seorang anak akan mendapat pengetahuan dari lingkungannya. Keluarga dan sekolah merupakan tempat utama di mana anak mendapat pendidikan dan wawasan.

"Ini bahaya ya, sekolah dan pendidikan di rumah wajib berjalan berkesinambungan dan mendukung satu sama lain," seru Erna saat dihubungi Suara.com, Kamis (11/10/2018) melalui Whatsapp.

"Karena sekolah dan rumah merupakan tempat utama anak mendapat pendidikan maka perlu di perhatikan pembinaan karakter anak. Jika sejak kecil anak sudah menerima hal hal yang negatif maka akan mengembangkan karakter yang negatif pula," lanjutnya.

Banyaknya konten negatif yang menyebar di media sosial, banyaknya ujaran kebencian, berita bohong dan sentimen bernada SARA (suku, ras dan agama), berdampak besar pada pola pikir maupun sikap generasi muda.

"Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri dan masa usia kelompok dimana anak lebih dekat dengan guru dan teman sekolah atau kelompok bermainnya di banding keluarga. Jika remaja di sekolah mendapat informasi yang negatif apalagi yang menekankan rasis dan sebagainya, maka mereka akan dengan mudah menyerap informasi sebagai wujud solidaritas. Karena itu perlu di hindari hal yang negatif dalam pengajaran,"

"Seorang anak remaja yang sering terpapar hate speech, itu bisa memiliki sikap yang intoleran terhadap orang-orang. Ujaran kebencian memiliki dampak yang besar bagi anak-anak muda untuk bertindak intoleransi dan diskriminasi," beber Erna.

Jadi pantaskah ujaran kebencian disebar oleh oknum-oknum di sebuah sekolah SMA?

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS