Suka Lapar Mata? Ini Fakta Ilmiahnya

Vania Rossa | Firsta Nodia
Suka Lapar Mata? Ini Fakta Ilmiahnya
Ilustrasi lapar mata, makan berlebihan. (Shutterstock)

Lapar mata membuat seseorang cenderung ingin terus makan meski perut sudah tak mampu menampungnya.

Suara.com - Apakah Anda termasuk orang yang cepat tergiur ketika melihat makanan enak? Namun ketika sudah dibeli rasanya perut tak cukup untuk menampungnya. Jika ya, itu tandanya Anda mengalami lapar mata.

Peneliti senior Dr. Marc Tittgemeyer dari Max Planck Institute for Metabolism Research di Jerman mengungkap alasan dibalik lapar mata yang sering kita alami. Menurut Marc, setiap kita makan, tubuh memproduksi hormon dopamin dua kali, yakni ketika makanan menyentuh bibir dan mencapai perut kita.

Dosis ganda dopamin ini membuat keinginan kita untuk makan meningkat namun mengorbankan sinyal otak yang memberi tahu bahwa perut sudah kenyang. Hal ini membuat kita makan berlebihan dan mengarah pada obesitas.

"Dopamin menunda penyampaian sinyal 15 hingga 20 menit yang membuat kita merasa kenyang," imbuh dia.

Untuk mengarah pada kesimpulan ini, peneliti menganalisis 12 responden berusia rata-rata 56 tahun dengan BMI 25,57. Mereka diberi minuman milkshake yang lezat. Peneliti kemudian mengukur sinyal otak responden ketika mengonsumsi milkshake.

Menariknya, keinginan responden untuk mengonsumsi milkshake secara proporsional terkait dengan jumlah dopamin yang dilepaskan di area otak tertentu pada pencicipan pertama. Ketika dopamin dilepaskan berlebihan, maka sinyal rasa kenyang pun tertunda.

"Hasil penelitian kami menyoroti peran otak dalam memengaruhi pola makan manusia. Ketika seseorang akan menjalani diet, maka ia harus mempertimbangkan peranan dopamin untuk mengaburkan sinyal kenyang yang dirasakannya," tandas dia.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS