Viral Buket Isi Masker untuk Hadiah Valentine, Takut Kena Corona Covid-19?

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Viral Buket Isi Masker untuk Hadiah Valentine, Takut Kena Corona Covid-19?
Buket masker untuk merayakan Hari Valentine viral di media sosial. (Dok. Twitter)

Di Hong Kong, buket berisi masker laris manis menjadi kado untuk Hari Valentine. Beneran?

Suara.com - Viral Buket Isi Masker untuk Hadiah Valentine, Takut Kena Corona Covid-19?

Perayaan Hari Valentine biasanya diisi dengan pemberian hadiah berupa cokelat, makan malam romantis, atau buket bunga. Khusus yang terakhir, perkembangan wabah virus Corona Covid-19 rupanya memiliki dampak besar.

Karena virus masih mewabah dan masker sangat langka ditemui, maka sebuah ide inovasi unik dicetuskan masyarakat Hong Kong, yakni dengan membuat buket bunga valentine tapi bukan berisi bunga sungguhan melainkan masker.

Di media sosial, foto-foto buket bunga yang berisi masker, tisu basah, tisu toilet, hingga cairan pembersih dan antiseptik mewarnai perayaan Hari Valentine. Mengutip laman Channel News Asia, buket ini seolah mengatakan kepada pasangan, 'aku mencintaimu' dengan menjaga kesehatan pasangan dan melindungi dari penyakit.

Komoditas tertinggi tahun ini yang sangat dicari adalah masker, mengingat persediaannya terbatas dan membuat antrian mengular panjang di luar apotek menanti pengiriman baru.

Bahkan, sepertiga pengguna layanan perjodohan lokal, Hongkong Romance Dating, menyebutkan masker bedah dan pembersih tangan atau hand sanitizer adalah hadiah valentine yang sangat dinantikan.

Buket masker untuk merayakan Hari Valentine viral di media sosial. (Dok. Twitter)
Buket masker untuk merayakan Hari Valentine viral di media sosial. (Dok. Twitter)

Seorang pemilik toko bunga di distrik Mong Kok mengatakan biasanya seminggu menjelang hari valentine, pesanan bunga akan sangat membludak. Namun tahun ini sangatlah berbeda. Akibat khawatir terserang virus Corona Covid-19 penurunan penjualan mencapai 40 persen.

"Pasokan bunga juga turun, karena banyak pemasok asli kami daei daratan China, dan ditutup karena Coronavirus," tuturnya.

Akibatnya pedagang harus mengimpor bunga dari Belanda dan Taiwan sebagai gantinya. Penjual lain, Joyce, harus mengurangi pasokan bunga karena menurunnya daya beli.

"Bunga segar hanya bisa disimpan selama lima hingga tujuh hari. Kami tidak ingin membeli terlalu banyak berjaga-jaga kita tidak bisa menjualnya," ungkap Joyce.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS