Tercatat Ada 3 Kasus Bunuh Diri Terkait Covid-19, Psikolog Ungkap Sebabnya

Risna Halidi | Dini Afrianti Efendi
Tercatat Ada 3 Kasus Bunuh Diri Terkait Covid-19, Psikolog Ungkap Sebabnya
Ilustrasi seseorang akan bunuh diri [Shutterstock]

Apa hubungannya wabah Corona Covid-19 dengan bunuh diri?

Suara.com - Wabah virus corona Covid-19 yang kini telah ditetapkan sebagai pandemi global telah meningkatkan rasa cemas di kalangan masyarakat dunia.

Bukan hanya cemas, wabah virus corona jenis baru ini juga terbukti meningkatkan depresi dan bahkan bisa memicu tindakan bunuh diri.

Psikiater Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ atau yang lebih akrab disapa Noriyu menyoroti setidaknya ada tiga kasus bunuh diri terkait Covid-19.

Ketiga diketahui memilih mengakhiri nyawanya karena tak kuasa menghadapi virus yang telah merenggut lebih dari 34 ribu nyawa ini.

"Warning dari terjadinya kasus-kasus bunuh diri akibat COVID-19 adalah Werther Effect atau Copycat Syndrome atau imitasi. Puncak dari imitasi menurut International Association of Suicide Prevention 2012 adalah terjadi pada 3 hari pertama dan kemudian menurun setelah 2 minggu walau ada kalanya bertahan lebih lama," ujar Noriyu dalam keterangannya kepada Suara.com, Senin (30/3/2020).

Werther Effect atau Copycat Syndrome adalah kasus bunuh diri hampir bersamaan, yang terjadi karena melihat kejadian bunuh diri yang dilakukan pada publik figur.

Berikut adalah daftar kejadian bunuh diri terkait Corona Covid-19 yang terjadi di tiga belahan dunia berbeda.

1. Perawat Italia
Daniela Trezzi adalah seorang perawat Italia berumur 34 tahun yang memutuskan mengakhiri hidupnya karena dinyatakan terinfeksi virus Corona Covid-19 dan takut menularkan virus tersebut kepada orang lain.

2. Menteri Keuangan Jerman
Menteri Keuangan Jerman, Hesse Thomas Schaefer merupakan seorang menteri berusia 54 tahun. Ia ditemukan tergeletak di dekat rel kereta api pada Minggu, 29 Maret 2020.

Thomas memilih mengakhiri hidupnya karena sangat takut dan bingung menangani dampak ekonomi akibat Corona Covid-19.

"Literatur ilmiah mengatakan ada hubungan antara pengangguran dan angka bunuh diri yang lebih tinggi.Studi di University of Technology, Taiwan, menemukan bahwa resesi meningkatkan angka bunuh diri pada kelompok umur lebih tua," jelas Noriyu.

3. Remaja Inggris
Emily Owen adalah seorang remaja asal Inggris berusia 18 tahun dan bekerja sebagai pelayan.

Ia meninggal karena bunuh diri dan tertekan selama menjalani masa isolasi dan pembatasan aktivitas fisik demi mencegah penularan infeksi virus Corona Covid-19. Beberapa hari sebelumnya Owen sudah memperingatkan keluarga bahwa dia tidak tahan dengan dunia yang sempit, rencana-rencana gagal, dan terjebak di dalam rumah.

Selain tiga kasus tersebut, masih segar dalam ingatan tentang seorang WNA asal Korea Selatan yang memilih menggantung dirinya di sebuah kamar hotel di Solo pada akhir Februari 2020.

Ia nekat melakukan bunuh diri karena merasa terpapar virus Corona Covid-19 setelah pulang bepergian dari negara-negara terjangkin Covid-19 seperti China dan Korea Selatan. Hasil tes menunjukkan bahwa WNA tersebut dinyatakan negatif virus Corona Covid-19.

Catatan Redaksi:  

Hidup seringkali sangat sulit dan membuat stres, tetapi kematian tidak pernah menjadi jawabannya. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan berkecenderungan bunuh diri, sila hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah sakit terdekat. Bisa juga Anda menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com dan telepon di 021 9696 9293. Ada pula nomor hotline Halo Kemkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan, 24 jam.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS