alexametrics

Kekerasan Berbasis Gender: Mengapa Perempuan Sering Menjadi Korban?

Risna Halidi | Aflaha Rizal Bahtiar
Kekerasan Berbasis Gender: Mengapa Perempuan Sering Menjadi Korban?
Ilustrasi perempuan korban kekerasan.(Pexels.com)

Perempuan kerap menjadi sasaran empuk kekerasan berbasis gender di media sosial.

Suara.com - Perempuan kerap menjadi sasaran empuk kekerasan berbasis gender di media sosial.

Hal ini diungkap oleh Ellen Kusuma, Digital At-Risk Subdivion SAFEnet, pada acara Kekerasan Seksual Digital, Kenali dan Waspadai, Jumat (23/7/2021).

Kata Ellen, perempuan memiliki risiko tinggi mengalami kekerasan gender berbasis online.

“Sebenarnya kekerasan gender secara online tidak hanya perempuan saja, lelaki juga bisa. Tapi karena kita hidup di masyarakat yang masih patriarki, perempuan yang sering mendapat kekerasan gender online,” ungkapnya.

Baca Juga: Viral Warganet Pertanyakan Fungsi e-KTP saat Tetap Diminta Fotokopi

Ia mengatakan, ada tiga unsur utama mengapa sesuatu disebut kekerasan gender online yaitu adanya kekerasan, gender, dan dilakukan secara online.

Kekerasan, kata Ellen, merupakan bentuk atau tindakan yang melanggar hak seseorang, sehingga tindakan tersebut membuat korban merasa tidak nyaman.

Tindakan kekerasan ini bisa membuat orang lain menderita dan rugi, baik secara material maupun imaterial.

“Jadi kalau udah sampai di sini, ada kekerasan yang sedang kita hadapi dan kita alami,” ungkapnya lebih lanjut.

Kekerasan sendiri tidak hanya dilakukan lewat fisik melainkan juga bisa dilakukan secara mental sehingga berdampak pada mental seseorang.

Baca Juga: Mengawal Konten Media Sosial

Sementara itu kekerasan berbasis gender terjadi ketika ada ketidakadilan atau kekerasan tentang tubuh seseorang. Tindakan ini tidak hanya terjadi pada jenis kelamin saja tetapi juga seksualitas seseorang.