alexametrics

Merintis Startup Hingga Jadi Unicorn? Simak Tips Berikut!

Vania Rossa
Merintis Startup Hingga Jadi Unicorn? Simak Tips Berikut!
startup (shutterstock)

Ini tips bagi para pemula yang akan merintis startup agar bisa mencapai predikat unicorn.

Suara.com - Merintis startup kini menjadi salah satu upaya yang banyak dilakukan generasi muda. Dan semua bermimpi bisa menjadikan startup tersebut menjadi unicorn. Tapi, mungkinkah?

Founder sekaligus COO dari startup Xendit, Tessa Wijaya, yang kini fokus pada usaha payment gateway, membagikan beberapa tipsnya bagi para pemula yang akan merintis startup agar bisa mencapai predikat unicorn.

Hal pertama yang harus dimiliki adalah berani melangkah. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak memandang gender.

"Bahwa ada anggapan bidang matematika, science, tech itu didominasi laki-laki. Janganlah wanita takut. Kita itu semua sama. Jadi jalanin dulu saja, jangan takut. Kalau tidak berani maju, bagaimana bisa membuat hasil yang bagus?," kata Tessa dalam konferensi pers virtual Gerakan Nasional "Ignition 1000 Startup Digital", Sabtu (25/9/2021), seperti dikutip dari Antara.

Baca Juga: Deliveree Luncurkan Layanan Baru Supaya Biaya Pengiriman Tetap Murah

Selanjutnya sebagai pemula yang merintis usaha startup, Anda harus bisa memiliki ketahanan dan kemampuan beradaptasi yang baik.

Saat mengalami kegagalan, sebagai perintis usaha startup digital, Anda harus menjadikan kegagalan itu sebagai pembelajaran.

Anggapan kegagalan adalah akhir tidak lagi berlaku. Tessa menceritakan butuh pivot hingga lebih dari dua kali untuk akhirnya jenis layanan yang ia kembangkan bisa berhasil dan mencetak perusahaannya, Xendit, menjadi unicorn seperti saat ini.

Startup tentunya harus hadir membawa solusi yang nyata dan bisa digunakan oleh banyak masyarakat sebagai tolak ukur persiapan bisnisnya matang.

Pada saat masa uji coba, tidak perlu berlama-lama mengembangkan produk. Cukup beri produk atau layanan dengan standar minimum atau disebut Tessa sebagai Minimum Valueable Product (MVP).

Baca Juga: Jumlah Start-up Unicorn di Indonesia Kalah Jauh dari AS dan China, Apa Penyebabnya?

"Saat founder startup membuat produk uji coba memakan waktu 6-8 bulan. Bisa-bisa dia keburu telat karena ternyata akhirnya sudah banyak solusi yang sama. Jadi setidaknya paling lama produk itu 1 bulan harus sudah jadi," kata Tessa.

Ketika MVP sudah diujicobakan, Anda bisa lebih cepat mengetahui kekurangan dan kelebihan produk dari masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam proses uji coba itu.

Ia menitikberatkan agar pendiri startup tidak bosan mencari dan mendengarkan masyarakat yang nantinya akan menjadi konsumen yang menggunakan produk startup.

"Tidak ada yang bisa mengganti peran dari mendengarkan dan berbicara ke pelanggan. Pasti akan menemukan banyak masalah dan tantangan. Tapi agar produk bisa sukses, itu perlu terus ditanya ulang agar produknya diterima baik pelanggan. Ini hal paling penting untuk startup," kata Tessa.

Komentar