facebook

Mengenal Kardinah dan Roekmini, Pejuang dan Adik R.A Kartini yang Nyaris Dilupakan

Risna Halidi | Dini Afrianti Efendi
Mengenal Kardinah dan Roekmini, Pejuang dan Adik R.A Kartini yang Nyaris Dilupakan
Kartini dan dua adiknya Kardinah serta Roekmini (Sumber foto: UGM/Wikimedia Commons)

Dua nama ini adalah pahlawan perempuan Indonesia yang nyaris dilupakan sejarah.

Suara.com - Mayoritas masyarakat lebih mengenal R.A Kartini sebagai pahlawan perempuan Indonesia, tapi sedikit yang mengenal nama Kardinah dan Roekmini.

Dua nama ini adalah pahlawan perempuan Indonesia yang nyaris terlupakan, padahal keduanya ikut berjuang bersama Kartini meningkatkan derajat kaum perempuan Indonesia.

Mengutip Ruang Guru, Kamis (30/9/2021) RA. Kardinah dan RA. Roekmini adalah adik perempuan dari Kartini.

Berkat kekompakan tiga perempuan bersaudara ini, kerap dijuluki Het Klaverblad dalam bahasa Belanda, yang berarti Daun Semanggi.

Baca Juga: Anies Utang Janji Kasih Bantuan ke Cicit Kartini, Tapi Belum Ditepati

RA. Kardinah
Berkat jasanya, nama RA. Kardinah diabadikan sebagai nama sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Tegal.

Pendirian rumah sakit ini, bermula pada tahun 1927, Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan Kardinah Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kardinah.

Latar belakang pendirian rumah sakit itu karena rasa simpatinya pada kesehatan masyarakat miskin di Tegal. Dana pembangunan rumah sakit ini pun dari royalti penjualan buku-bukunya dan ditambah dari hasil penjualan kerajinan tangan murid-murid Wisma Pranowo.

Berbeda dengan kakaknya Kartini, Kardinah lebih memusatkan perjuangannya di kota Tegal daripada Jepara.

RSUD Kardinah Tegal. [Ayotegal.com/Lilisnawati]
RSUD Kardinah Tegal. [Ayotegal.com/Lilisnawati]

Setelah menikah dengan Bupati Tegal, Ario Reksonegoro X, Kardinah harus mengikuti suaminya pindah. Di sanalah mendirikan sebuah sekolah untuk masyarakat pribumi.

Baca Juga: Terungkap Kehidupan Keturunan RA Kartini, Hidup Sederhana Jadi Tukang Ojek

Hal ini karena Kardinah tidak merasa puas dengan pemerintah Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi. Mengingat saat itu pendidikan hanya untuk kalangan atas, terutama laki-laki, yang boleh bersekolah tinggi.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar