7. Syukur adalah bentuk meditasi yang menghubungkan kita dengan saat ini.
8. Ketika kita bersyukur, kita melepaskan penderitaan yang lahir dari keinginan.
9. Ketenangan datang dari menerima dan bersyukur, bukan dari memiliki lebih.
10. Dengan menyadari bahwa tidak ada yang kekal, kita belajar bersyukur atas setiap detik.
11. Jangan anggap kecil satu perbuatan baik, bahkan sekadar senyum bisa menjadi berkah.
12. Bersyukur adalah bentuk welas asih kepada diri sendiri dan orang lain.
13. Setiap momen adalah guru. Bersyukurlah, bahkan pada yang menyakitkan.
14. Bersyukur bukanlah pasrah, melainkan penerimaan dengan kesadaran penuh.
15. Saat kita berhenti mengeluh, kita mulai bersyukur.
16. Bersyukur membuat kita sadar bahwa saat ini sudah cukup.
17. Keajaiban hidup tidak selalu datang dari hal besar, tapi dari kesadaran akan hal kecil.
18. Syukur dan kesadaran berjalan berdampingan dalam jalan kebijaksanaan.
19. Dengan bersyukur, kita memelihara pikiran yang damai dan hati yang ringan.
20. Melatih diri untuk bersyukur adalah bentuk latihan spiritual yang halus.
21. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada hati yang penuh terima kasih.
22. Bersyukurlah bukan karena semuanya baik, tapi karena kamu mampu melihat kebaikan di dalamnya.
23. Rasa cukup adalah akar dari syukur dan kebebasan dari penderitaan.
24. Pikiran yang penuh syukur tidak punya ruang untuk amarah atau iri hati.
25. Bersyukur adalah langkah awal menuju kebijaksanaan dan pencerahan.
26. Hidup ini bukan tentang memiliki lebih, tapi tentang menyadari bahwa yang kita miliki sudah cukup.
27. Syukur adalah pupuk batin; dengannya, kebahagiaan tumbuh dalam kesunyian.
28. Ketika hati penuh rasa syukur, tidak ada tempat bagi penderitaan untuk berdiam lama.
29. Melihat terang dalam kegelapan adalah bentuk tertinggi dari syukur.
30. Bersyukur adalah bentuk kasih sayang kepada hidup itu sendiri.
Itulah 30 kata-kata bijak Buddha tentang bersyukur. Semoga kutipan di atas mampu menyentuh hati, membukakan kesadaran baru, dan menuntun kita untuk lebih menghargai momen-momen kecil yang sering terlewatkan.
Kontributor : Dini Sukmaningtyas