Suara.com - Volatilitas adalah faktor yang mengubah hari perdagangan normal menjadi sesi yang bergerak cepat di mana harga bergerak jauh melampaui apa yang diharapkan sebagian besar pedagang. Volatilitas memengaruhi seberapa cepat kerugian dapat bertambah, seberapa sering stop loss diuji, dan apakah strategi berjalan lancar atau gagal saat menghadapi tekanan. Manajemen risiko yang efektif dimulai dengan memperlakukan volatilitas sebagai kondisi utama yang menentukan seberapa agresif atau defensif Anda seharusnya bertindak.
Di Indonesia, partisipasi pasar forex sering meningkat ketika rupiah bereaksi terhadap pergeseran selera risiko global, siklus harga komoditas, dan perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat. Karena kekuatan-kekuatan ini dapat memperluas atau mempersempit rentang harian dengan cepat, para trader Indonesia mendapat manfaat dari pendekatan yang mengutamakan volatilitas, yang menyesuaikan ukuran posisi, penempatan stop loss, dan batasan eksposur dengan lingkungan saat ini.
Mengapa Manajemen Risiko Berbasis Volatilitas Berhasil?
Pendekatan tetap terhadap risiko mengasumsikan pasar berperilaku konsisten. Pasar nyata tidak demikian. Selama periode tenang, rentang yang sempit memungkinkan stop loss yang lebih ketat dan ukuran posisi yang lebih besar. Selama periode turbulen, ukuran posisi yang sama dapat berbahaya karena harga dapat berayun secara luas dan memicu stop loss bahkan ketika ide secara keseluruhan benar. Manajemen risiko berbasis volatilitas bertujuan untuk menjaga dampak setiap perdagangan tetap stabil di akun Anda dengan menyesuaikan parameter perdagangan ketika rentang pasar berubah.
Pemicu Volatilitas Spesifik Indonesia
Indonesia menghadapi perpaduan katalis domestik dan eksternal yang dapat menyebabkan pergeseran rezim dengan cepat.
Pengemudi Domestik
Pedoman kebijakan bank, pembaruan inflasi, dan data neraca perdagangan dapat mengubah ekspektasi terhadap rupiah. Berita lokal juga dapat meningkatkan ketidakpastian dalam jangka pendek, menciptakan lonjakan tajam yang merugikan para trader yang melakukan transaksi dengan ukuran terlalu besar.
Driver Eksternal
Baca Juga: Filosofi Baju Bekas Kakak: Warisan Kasih yang Tak Pernah Luntur
Pergerakan komoditas, terutama energi dan input industri, dapat memengaruhi ekspektasi inflasi. Arus portofolio global masuk dan keluar dari pasar negara berkembang juga dapat berubah dengan cepat ketika dolar menguat atau ketika imbal hasil global mengalami penyesuaian harga.
Prinsip Pertama: Risiko Harus Didefinisikan dalam Bentuk Uang Terlebih Dahulu
Para trader sering berpikir dalam satuan pip, tetapi nilai akun naik dan turun seiring dengan nilai mata uang. Prinsip pertama adalah menentukan risiko per perdagangan sebagai jumlah tetap atau persentase tetap dari ekuitas. Setelah itu ditetapkan, Anda menyesuaikan ukuran posisi sehingga stop loss yang lebih lebar tidak meningkatkan jumlah uang yang dapat Anda rugikan.
Contoh praktisnya sederhana. Jika volatilitas berlipat ganda dan stop loss Anda perlu dua kali lebih lebar, ukuran posisi Anda seharusnya sekitar setengahnya, sehingga uang yang berisiko tetap konsisten.
Prinsip Kedua: Pemberhentian Harus Mencerminkan Kondisi Jangkauan Saat Ini
Penempatan stop loss harus sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi di pasar, bukan apa yang Anda harapkan. Dalam perdagangan yang berpusat di Indonesia, volatilitas dapat meningkat tiba-tiba selama berita berdampak tinggi atau peristiwa risiko global. Stop loss yang efektif kemarin mungkin terlalu ketat hari ini.