Di fase awal, cowok love bombing akan tampil sangat romantis dan agresif secara emosional. Pesan datang hampir setiap menit, telepon tanpa jeda, pujian berlebihan, hingga pernyataan cinta yang terasa terlalu cepat. Kamu baru saling mengenal, tetapi ia sudah bicara soal masa depan panjang bersama.
2. Membuatmu Merasa Jadi Pusat Dunianya
Ia seolah menggantungkan kebahagiaannya hanya padamu. Kalimat seperti "aku cuma punya kamu" atau "hidupku berubah sejak ada kamu" terdengar romantis, tapi perlahan menanamkan rasa tanggung jawab emosional yang tidak sehat.
3. Menanamkan Ketergantungan Emosional
Perhatian yang terus-menerus membuat korban merasa dicintai sepenuhnya. Tanpa sadar, kamu mulai mengukur kebahagiaan dari seberapa sering ia menghubungi atau memuji. Di titik ini, perhatian bukan lagi bonus, melainkan kebutuhan.
4. Mulai Mengontrol dengan Dalih Cinta
Setelah keterikatan terbentuk, sifat aslinya perlahan muncul. Ia mulai cemburu berlebihan, mengatur aktivitasmu, mempertanyakan teman-temanmu, bahkan merasa berhak menentukan keputusan hidupmu. Semua dibungkus dengan kalimat, “Aku cuma khawatir” atau “Aku sayang kamu.”
5. Perhatian Mendadak Berkurang
Ini fase paling membingungkan. Cowok yang dulu begitu intens tiba-tiba dingin, jarang menghubungi, atau tak lagi sehangat dulu. Kamu pun berusaha keras mengembalikan sikap manisnya, tanpa sadar sedang terjebak dalam siklus manipulasi.
Baca Juga: Gisella Anastasia Ungkap Tanda-tanda Love Scamming: Kalau Sudah Bahas Uang, Wajib Waspada
Bahaya Love Bombing bagi Korban
Love bombing bukan sekadar drama hubungan, tapi bisa berdampak serius. Beberapa bahaya love bombing yang harus diwaspadai adalah sebagai berikut:
- Kerusakan emosional, seperti kecemasan, bingung, dan merasa tidak cukup.
- Kehilangan jati diri, karena terlalu fokus menyenangkan pasangan.
- Isolasi sosial, akibat dijauhkan perlahan dari teman dan keluarga.
- Ketergantungan emosional, yang membuat korban sulit keluar meski sadar hubungan itu tidak sehat.
- Potensi penyalahgunaan, baik secara verbal, emosional, bahkan fisik.
Demikian itu ciri-ciri cowok love bombing. Pengalaman Gisella menjadi pengingat bahwa cinta yang sehat tidak membuatmu kehilangan kendali atas diri sendiri.
Hubungan yang baik tumbuh perlahan, memberi ruang bernapas, dan tidak menuntut ketergantungan ekstrem. Jika sejak awal hatimu merasa tidak nyaman, jangan abaikan perasaan itu.
Seperti pesan Gisella, intuisi sering kali lebih jujur daripada kata-kata manis. Dan dalam urusan cinta, berhati-hati bukan berarti takut, tapi bentuk sayang pada diri sendiri.
Kontributor : Mutaya Saroh