Selain Wexner dan Black, Epstein juga bekerja dengan sejumlah individu superkaya lain, termasuk pewaris Johnson & Johnson serta pengelola hedge fund ternama.
Ia memposisikan diri sebagai penasihat eksklusif yang hanya melayani klien dengan kekayaan minimal satu miliar dolar AS.
Dari dua perusahaan utamanya saja, Epstein mengumpulkan ratusan juta dolar dalam bentuk fee dan dividen selama hampir dua dekade.
Model bisnisnya sederhana, yaitu jasa keuangan privat berbiaya tinggi, namun dengan klien yang sangat terbatas.
4. Fasilitas Pajak Besar-besaran di Kepulauan Virgin AS
Salah satu kunci Epstein menumpuk kekayaan adalah skema pajak di Kepulauan Virgin Amerika Serikat. Ia memindahkan domisili ke wilayah tersebut sejak pertengahan 1990-an dan mendirikan perusahaan konsultasi keuangan di sana.
Lewat program pengembangan ekonomi setempat, perusahaannya mendapat potongan pajak hingga 90 persen untuk pajak penghasilan dan pembebasan penuh untuk beberapa jenis pajak lain.
Dalam periode 1999-2018, Epstein diperkirakan hanya membayar sekitar 4 persen pajak rata-rata. Skema ini menghemat sekitar 300 juta dolar AS, menjadikannya salah satu pemasukan terbesar Epstein.
5. Jaringan Perbankan Internasional dan Ribuan Transaksi Mencurigakan
Baca Juga: Kekayaan Jokowi dan Sri Mulyani yang Namanya Muncul di Epstein Files
Epstein tercatat sebagai klien utama JPMorgan Chase selama bertahun-tahun sebelum berpindah ke Deutsche Bank.
Dokumen yang kemudian dibuka ke publik menunjukkan adanya lebih dari 4.700 transaksi lintas bank dengan total nilai sekitar 1,9 miliar dolar AS.
Beberapa bank besar akhirnya terseret gugatan karena diduga memfasilitasi aktivitas keuangan Epstein.
JPMorgan dan Deutsche Bank masing-masing sepakat membayar puluhan hingga ratusan juta dolar untuk menyelaskan perkara hukum terkait hubungan mereka dengannya.
Jejak transaksi inilah yang kini menjadi tulang punggung investigasi lanjutan Epstein Files.
6. Aset dan Properti Mewah