- Ziarah kubur sebelum Ramadan adalah tradisi masyarakat Nusantara mengunjungi makam untuk mendoakan arwah.
- Tradisi ini memiliki beragam sebutan lokal dan merupakan persiapan spiritual.
- Menurut ulama, hukum ziarah kubur sebelum puasa adalah sunnah, bukan kewajiban, sebagai pengingat akan akhirat dan penghormatan leluhur.
Suara.com - Menjelang bulan Ramadan, tradisi ziarah kubur sebelum puasa kembali ramai dilakukan masyarakat di berbagai daerah. Namun, ziarah kubur sebelum puasa namanya apa? Ternyata, setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan dan cara pelaksanaan yang berbeda.
Tujuan ziarah kubur di berbagai daerah ini sama-sama mendoakan keluarga yang telah meninggal sekaligus menyambut bulan suci dengan hati yang bersih.
Tradisi ini sudah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Muslim Nusantara dan menjadi bagian dari rangkaian persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Secara umum, ziarah kubur sebelum puasa adalah kegiatan mengunjungi makam keluarga atau kerabat untuk mendoakan arwah mereka menjelang datangnya bulan Ramadan. Biasanya dilakukan pada akhir bulan Syaban.
Dalam praktiknya, keluarga akan membersihkan makam, menabur bunga, serta membaca doa dan ayat-ayat Al-Qur’an. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tradisi ini juga menjadi momen refleksi diri sebelum menjalankan ibadah puasa.
![Sejumlah warga mengarak ingkung dan tumpeng dalam prosesi Upacara Nyadran Punggawa Raja menjelang bulan suci Ramadan di sepanjang Jalan Mataram, Kelurahan Suryatmajan, Kemantren Danurejan, Kota Jogja, Sabtu (18/3/2022). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/03/19/91589-nyadran-jelang-ramadan-di-danurejan.jpg)
Sebutan Ziarah Kubur Sebelum Puasa di Berbagai Daerah
Berikut beberapa nama tradisi ziarah kubur sebelum puasa di sejumlah daerah di Indonesia:
1. Nyadran (Jawa Tengah dan DIY)
Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa menjelang Ramadan yang dilakukan pada bulan Ruwah (Syaban dalam kalender Hijriah). Selain ziarah kubur, Nyadran juga diisi dengan doa bersama dan kenduri atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
2. Ruwahan (Jawa)
Ruwahan berasal dari kata “arwah” dan dilakukan sepanjang bulan Syaban. Kegiatan ini identik dengan ziarah makam keluarga, pembacaan tahlil, serta doa bersama. Tradisi ini bertujuan mengirim doa kepada leluhur sekaligus mengingatkan diri akan kematian.
Baca Juga: Kapan Sidang Isbat Puasa 2026? Ini Jadwalnya
3. Munggahan (Jawa Barat)
Munggahan lebih dikenal sebagai tradisi makan bersama keluarga atau kerabat sebelum Ramadan. Namun, sebagian masyarakat juga mengisinya dengan ziarah kubur. Maknanya adalah “naik” ke bulan yang lebih suci, yakni Ramadan.
4. Megengan (Jawa Timur)
Megengan biasanya dilakukan menjelang awal Ramadan. Tradisi ini identik dengan pembagian kue apem sebagai simbol permohonan maaf. Sebagian masyarakat juga menyempatkan ziarah kubur sebagai bagian dari persiapan spiritual.
5.Balimau dan Ziarah Kubur (Sumatera Barat dan Riau)
Di Sumatera Barat dan Riau, tradisi menyambut Ramadan dikenal dengan Balimau, yakni mandi menggunakan air jeruk nipis sebagai simbol penyucian diri. Selain itu, masyarakat juga melakukan ziarah kubur sebelum puasa untuk mendoakan keluarga yang telah wafat.
6. Mattunu Solong dan Ziarah (Sulawesi Selatan)
Di beberapa daerah Sulawesi Selatan, masyarakat melakukan tradisi penyambutan Ramadan yang disertai ziarah makam keluarga. Meski namanya berbeda, esensinya tetap sama, yakni mempersiapkan diri secara lahir dan batin.
Apakah Ziarah Kubur Sebelum Puasa Wajib? Ini Hukumnya Menurut Ulama
Banyak yang bertanya, apakah ziarah kubur sebelum puasa wajib dilakukan oleh umat Islam? Jawabannya, ziarah kubur sebelum Ramadan tidak bersifat wajib.
Dalam pandangan ulama, ziarah kubur hukumnya sunnah, baik dilakukan menjelang puasa maupun di waktu lainnya. Hal ini merujuk pada hadis Rasulullah SAW:
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Muslim)
Artinya, Islam menganjurkan ziarah kubur sebagai sarana mengingat kematian dan memperkuat keimanan, bukan sebagai kewajiban yang terikat waktu tertentu, termasuk sebelum Ramadan.
Ulama juga menegaskan bahwa tradisi ziarah kubur sebelum puasa yang berkembang di masyarakat seperti Nyadran, Ruwahan, atau Munggahan termasuk adat atau budaya lokal yang boleh dilakukan selama tidak mengandung unsur syirik, khurafat, atau perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Dengan demikian, ziarah kubur menjelang Ramadan boleh dilakukan sebagai amalan sunnah dan bentuk penghormatan kepada orang tua atau leluhur, namun tidak berdosa jika tidak dilakukan. Yang terpenting adalah menjaga niat, tata cara, serta doa yang dipanjatkan tetap sesuai dengan tuntunan syariat.