Suara.com - Mendekati Tahun Baru Imlek 2026, istilah cheongsam dan qipao kembali ramai dibicarakan. Dua nama ini merujuk pada busana tradisional Tiongkok yang identik dengan perayaan Imlek, acara formal, hingga pernikahan adat. Pakaian tradisional itu disebut cheongsam atau qipao.
Nah, masih banyak yang belum tahu perbedaan antara cheongsam dan qipao. Jika perempuan memakai cheongsam atau qipao, bagaimana dengan pria? Cheongsam untuk cowok namanya apa?
Secara umum, qipao adalah istilah dalam bahasa Mandarin, sedangkan cheongsam berasal dari dialek Kanton (Cantonese). Keduanya sering digunakan untuk menyebut gaun tradisional perempuan Tiongkok yang memiliki ciri khas kerah tinggi dan siluet ramping.
Kata qipao () berasal dari bahasa Manchu, yaitu “chipao,” yang berarti pakaian panjang atau jubah. Pada masa Dinasti Qing (1644–1912), suku Manchu, yang juga disebut sebagai “Qi people” atau kaum panji, memakai jubah panjang sebagai busana resmi. Dari sinilah istilah qipao muncul.
Sementara itu, cheongsam () dalam dialek Kanton berarti “baju panjang”. Di Hong Kong dan wilayah berbahasa Kanton lainnya, istilah cheongsam lebih populer digunakan. Bahkan di Hong Kong, cheongsam pernah dijadikan seragam sekolah formal bagi siswi.
Jadi, jika merujuk pada busana perempuan, qipao dan cheongsam pada dasarnya adalah sebutan berbeda untuk model pakaian yang sama, hanya berbeda bahasa dan konteks wilayah penggunaannya.
Cheongsam untuk Cowok
Untuk pria, busana tradisional yang setara disebut changshan dalam bahasa Mandarin. Secara harfiah, changshan berarti “kemeja panjang” atau “jubah panjang”. Dalam dialek Kanton, busana pria ini juga kadang tetap disebut cheongsam, tetapi untuk membedakan dengan versi perempuan, istilah changshan lebih tepat digunakan.
Changshan memiliki bentuk panjang hingga betis atau mata kaki, potongannya lurus dan longgar, serta biasanya dipadukan dengan celana panjang longgar. Berbeda dengan cheongsam perempuan yang dirancang menonjolkan lekuk tubuh, changshan cenderung sederhana dan maskulin.
Baca Juga: Refleksi Imlek: Membedah Pemikiran Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran
Pada masa Dinasti Qing, para pejabat dan cendekiawan diwajibkan mengenakan qipao versi pria yakni changshan ini sebagai busana resmi harian. Jadi, jika Anda melihat pria mengenakan pakaian panjang tradisional khas Tiongkok saat Imlek, kemungkinan besar itu adalah changshan.
Penyebutan busana tradisional ini cukup menarik. Jika Anda seorang perempuan, istilah qipao dan cheongsam bisa digunakan secara bergantian. Namun, jika Anda seorang pria dan ingin mengenakan busana tradisional saat Imlek, nama yang tepat adalah changshan.
Perbedaan dari Segi Desain dan Detail
Jika dilihat dari detailnya, cheongsam perempuan memiliki beberapa elemen khas, di antaranya:
- Kerah Mandarin (mandarin collar) setinggi 4–6 cm
- Kancing simpul khas Tiongkok yang disebut pankou
- Belahan samping di bagian paha
- Potongan ramping mengikuti bentuk tubuh
Qipao modern biasanya memiliki sekitar lima kancing pankou, dua di bagian leher dan tiga di sisi dada. Selain itu, terdapat enam elemen utama dalam desain qipao: kerah Mandarin, pankou, bagian depan besar (large front), edging atau lis tepi, lengan, serta panjang dan belahan samping.
Pada era Republik Tiongkok (1912–1949), qipao mengalami modernisasi. Potongannya menjadi lebih ramping, pas badan, dan memiliki belahan lebih tinggi.
Gaya Shanghai menjadi sangat populer karena dianggap elegan dan mampu menonjolkan siluet tubuh perempuan. Bahkan pada tahun 1930-an, qipao menjadi simbol mode kalangan perempuan kelas atas.
Sementara itu, changshan untuk pria memiliki desain yang lebih longgar dan tertutup. Tidak ada belahan tinggi seperti pada qipao perempuan. Warnanya cenderung netral atau gelap, meskipun untuk acara perayaan seperti Imlek, warna merah dan emas juga kerap dipilih sebagai simbol keberuntungan.
Perkembangan Sejarahnya
Sejarah cheongsam dan qipao bisa ditelusuri hingga Dinasti Qing. Awalnya, qipao merupakan busana resmi suku Manchu dan dipakai baik oleh pria maupun wanita. Pada masa itu, bentuknya longgar, panjang, dan tidak terlalu membentuk tubuh.
Memasuki era Republik Tiongkok, qipao mengalami transformasi besar. Modelnya menjadi lebih modern dan feminin, khususnya di kota-kota besar seperti Shanghai dan Beijing. Masa ini sering disebut sebagai “zaman keemasan cheongsam”, karena busana ini dipakai oleh berbagai kalangan perempuan tanpa memandang usia atau status sosial.
Pada 1940-an, perempuan mulai memadukan qipao dengan stoking dan sepatu hak tinggi, menggantikan celana panjang yang sebelumnya dikenakan bersama qipao.
Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, popularitas cheongsam sempat meredup. Bahkan pada masa awal pemerintahan komunis, cheongsam dianggap terlalu identik dengan budaya lama dan pengaruh Barat. Namun di Hong Kong, busana ini tetap bertahan dan berkembang.
Seiring kemajuan industri film dan fashion, cheongsam kembali populer di era modern. Kini, busana ini sering tampil dalam film, peragaan busana, acara resmi kenegaraan, hingga festival budaya. Banyak diplomat perempuan dan perwakilan pemerintah mengenakan qipao dalam acara formal sebagai simbol identitas budaya Tiongkok.
Demikian itu informasi cheongsam untuk cowok. Memahami perbedaan istilah, desain, dan sejarahnya bukan hanya soal gaya, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap budaya yang sudah berusia ratusan tahun.
Dengan mengetahui bahwa cheongsam untuk cowok disebut changshan, Anda tidak hanya tampil stylish saat Imlek, tetapi juga lebih paham makna di balik busana yang dikenakan.
Kontributor : Mutaya Saroh