Mencari Cukup di Tengah Riuh Kota: Perjalanan Nada Arini Jalani Sustainable Living

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 07 April 2026 | 15:28 WIB
Mencari Cukup di Tengah Riuh Kota: Perjalanan Nada Arini Jalani Sustainable Living
Profil Nada Arini Seorang Ibu yang Menjalani Sustaiable Living (Tiktok/@nada_arini)

Suara.com - Di tengah ritme cepat Jakarta, bekerja keras kerap dianggap sebagai standar hidup. Produktivitas menjadi ukuran, sementara jeda sering dipandang sebagai kemunduran. Dalam lanskap seperti ini, rasa lelah sering kali tak terlihat, bahkan dianggap wajar.

Survei Jobstreet mencatat, meski pekerja di Indonesia tergolong paling bahagia di Asia, sekitar 43 persen tetap mengalami burnout. 

Nada Arini pernah berada di titik yang sama. Perempuan 46 tahun ini mengaku hidup dalam dorongan untuk terus produktif, disertai rasa takut tertinggal dan kekhawatiran finansial yang tak pernah benar-benar hilang.

“Kalau lagi pelan, rasanya seperti tidak berguna,” ujarnya, mengingat masa ketika hidupnya diukur dari seberapa banyak yang bisa dicapai.

Titik Balik dari Pilihan Personal

Perubahan dalam hidupnya tidak datang dari keputusan besar yang direncanakan matang, melainkan dari pilihan yang awalnya sangat personal: menyekolahkan anak melalui homeschooling. Keputusan ini membawanya masuk ke lingkaran komunitas yang memiliki cara pandang berbeda terhadap kehidupan sehari-hari.

Di sana, Nada mulai diperkenalkan pada praktik sederhana seperti memilah sampah, mengurangi konsumsi, hingga mempertanyakan kembali kebiasaan yang selama ini dianggap normal. Awalnya, ia tidak langsung mengubah gaya hidupnya secara drastis. Namun, benih kesadaran itu mulai tumbuh perlahan.

Titik balik yang paling membekas terjadi saat ia mengunjungi TPA Bantar Gebang. Ia datang tanpa masker dan tanpa perlindungan khusus, seperti yang diminta oleh rekannya.

“Datang saja apa adanya,” begitu pesannya.

baca juga

Pengalaman itu membuka realitas yang selama ini terasa jauh. Di tengah gunungan sampah, ia melihat kehidupan yang berjalan seperti biasa. Salah satu momen yang sulit ia lupakan adalah ketika melihat seorang ibu menyuapi anaknya, dengan lalat yang mengerubungi makanan di piring.

“Di situ saya sadar, ini bukan sekadar soal sampah, tapi soal kehidupan yang tidak setara,” katanya. Bagi Nada, pengalaman tersebut menjadi titik di mana isu lingkungan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan persoalan sosial dan kemanusiaan.

Dari Industri Iklan ke Edukasi Lingkungan

Latar belakang Nada di industri periklanan memberinya perspektif lain. Ia menyadari bahwa industri tersebut memiliki peran besar dalam membentuk pola konsumsi masyarakat. Ironisnya, pengalaman itu kini justru ia gunakan untuk arah yang berbeda.

Ia mulai memproduksi konten edukatif tentang gaya hidup berkelanjutan di media sosial. Pengetahuan tentang komunikasi dan strategi pesan yang dulu ia gunakan untuk mendorong konsumsi, kini ia arahkan untuk mengajak orang mengurangi konsumsi.

“Aku pakai cara komunikasi yang dulu, tapi untuk pesan yang berbeda,” ujarnya.

Dalam prosesnya, Nada melihat adanya jurang antara mereka yang sudah menjalani gaya hidup sustainable living dengan mereka yang baru ingin memulai. Di ruang digital, ia kerap menemukan pendekatan yang terkesan ekstrem, bahkan menuntut kesempurnaan.

Menurutnya, hal itu justru membuat banyak orang merasa tidak mampu.

“Ada kesan harus langsung sempurna, padahal itu justru bikin orang mundur,” katanya.

Karena itu, ia memilih mengambil posisi yang berbeda. Alih-alih menghakimi, ia mencoba menjadi jembatan—menghadirkan pendekatan yang lebih ramah, bertahap, dan realistis. Ia ingin orang merasa bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, tanpa tekanan untuk langsung benar sepenuhnya.

Belajar Cukup di Tengah Dunia yang Menuntut Lebih

Perubahan gaya hidup ini perlahan mengubah cara Nada memaknai hidup. Dari yang sebelumnya dipenuhi kecemasan dan dorongan untuk terus mengejar, kini ia mengaku lebih tenang dan mampu menerima ritme yang lebih lambat.

“Sekarang lebih berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar kejar target,” ujarnya.

Perubahan itu juga tercermin dalam pilihan-pilihan yang ia ambil. Aktivitas seperti edutrip ke Bantar Gebang, yang secara materi tidak selalu menguntungkan, tetap ia jalankan karena memberikan dampak yang lebih luas bagi orang lain.

Di akhir percakapan, Nada merangkum perjalanannya dalam satu kalimat sederhana:

“Sedikit-sedikit supaya tidak sulit.”

Di tengah dunia yang terus mendorong untuk lebih cepat, lebih banyak, dan lebih produktif, pilihan untuk berjalan perlahan dan merasa cukup mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Nada, di situlah letak perubahan paling mendasar, sebuah cara untuk kembali memaknai hidup, tanpa harus selalu merasa kurang.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Styrofoam Jadi Sahabat UMKM, tapi Musuh Besar Buat Bumi dan Lingkungan

Styrofoam Jadi Sahabat UMKM, tapi Musuh Besar Buat Bumi dan Lingkungan

Your Say | Senin, 06 April 2026 | 15:36 WIB

Ekowisata dan Komitmen Destinasi Berkelanjutan, Sejauh Mana?

Ekowisata dan Komitmen Destinasi Berkelanjutan, Sejauh Mana?

Your Say | Minggu, 05 April 2026 | 17:20 WIB

Suara dari Sungai Ciliwung: Ketika Warga Menggantikan Peran Negara

Suara dari Sungai Ciliwung: Ketika Warga Menggantikan Peran Negara

Your Say | Jum'at, 03 April 2026 | 19:15 WIB

Terkini

Dua Kernet Bus Ditangkap Usai Diduga Keroyok dan Tusuk Calon Penumpang di Serang

Dua Kernet Bus Ditangkap Usai Diduga Keroyok dan Tusuk Calon Penumpang di Serang

Banten | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:52 WIB

Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda

Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:50 WIB

Rumah di Kompleks TNI AD Cijantung Ternyata Jadi Sarang Judi Online, 11 Orang Diseret

Rumah di Kompleks TNI AD Cijantung Ternyata Jadi Sarang Judi Online, 11 Orang Diseret

Bekaci | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:50 WIB

Nusron Dapat Peringatan dari KPK: Sebagai Pejabat Hendaknya Menjadi Teladan dalam Bernegara

Nusron Dapat Peringatan dari KPK: Sebagai Pejabat Hendaknya Menjadi Teladan dalam Bernegara

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:49 WIB

Vietnam Gagal Total di FIFA ASEAN Cup 2026, Kim Sang-sik Pasang Badan

Vietnam Gagal Total di FIFA ASEAN Cup 2026, Kim Sang-sik Pasang Badan

Bola | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:48 WIB

Musim Hujan Banten Diprediksi Mundur hingga November 2026

Musim Hujan Banten Diprediksi Mundur hingga November 2026

Banten | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Intip Sinopsis Street Fighter, Tayang 14 Oktober di Bioskop Indonesia

Intip Sinopsis Street Fighter, Tayang 14 Oktober di Bioskop Indonesia

Your Say | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Daftar Harga Mobil Listrik Terbaru yang DIpasarkan di Indonesia

Daftar Harga Mobil Listrik Terbaru yang DIpasarkan di Indonesia

Otomotif | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Cara Memperbaiki Gagang Mug yang Rusak Sesuai Jenis Materialnya

Cara Memperbaiki Gagang Mug yang Rusak Sesuai Jenis Materialnya

Lifestyle | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:42 WIB

Dedie Rachim: Leuweung Batutulis Tak Bisa Sepenuhnya Jadi Hutan Kota

Dedie Rachim: Leuweung Batutulis Tak Bisa Sepenuhnya Jadi Hutan Kota

Bogor | Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:39 WIB

×