-
Ayu Aulia mengaku kehilangan rahim secara permanen akibat komplikasi aborsi.
-
Secara medis, aborsi ilegal berisiko tinggi menyebabkan infeksi parah atau sepsis.
-
Perdarahan hebat dan rahim robek memaksa dokter melakukan tindakan pengangkatan rahim.
Suara.com - Pengakuan selebgram Ayu Aulia yang pernah menjalin hubungan dengan seorang pejabat publik sampai hamil dan harus kehilangan rahim tengah menggegerkan publik.
Ayu Aulia mengaku dirinya kehilangan rahim akibat terpaksa melakukan aborsi, karena tekanan serta rasa takut.
"Keputusan itu membawa dampak besar dalam hidup saya, termasuk kehilangan rahim saya sendiri," ungkap Ayu dalam unggahan Instagram Story-nya, Senin (11/5/2026).
Lantas secara medis, bagaimana prosedur aborsi bisa menyebabkan seorang wanita kehilangan rahim? Simak ulasan yang dirangkum Suara.com berikut ini.
Apakah Aborsi Normalnya Membuat Rahim Hilang?
Secara medis dilansir dari laman WHO dan NHS, tindakan aborsi, baik melalui obat-obatan (medik) maupun prosedur bedah (kuretase) umumnya dianggap aman jika dilakukan sesuai standar medis.
Pada banyak kasus, aborsi tidak mempengaruhi kesuburan di masa depan. Namun, risiko tetap ada terutama jika aborsi dilakukan secara berulang atau dilakukan dengan cara yang tidak aman.
![Ayu Aulia ditemui di Kemang, Jakarta Selatan pada Jumat, 16 Januari 2026 [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/16/74073-ayu-aulia.jpg)
Risiko kehilangan rahim atau prosedur histerektomi biasanya terjadi karena adanya komplikasi berat yang mengancam nyawa.
3 Penyebab Utama Pengangkatan Rahim Usai Aborsi
Meskipun jarang terjadi pada prosedur yang legal dan steril, ada beberapa kondisi darurat yang memaksa dokter harus mengangkat rahim pasien demi menyelamatkan nyawanya:
1. Infeksi Parah dan Sepsis
Jika alat yang digunakan tidak steril atau jaringan janin tidak keluar sepenuhnya (aborsi tidak tuntas), bakteri dapat berkembang biak.
Infeksi ini bisa menyebar ke radang panggul hingga menyebabkan sepsis (infeksi darah).
Jika jaringan rahim sudah rusak parah akibat infeksi, pengangkatan rahim menjadi jalan terakhir.
2. Perdarahan Hebat (Hemorrhage)
Aborsi yang menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah besar di dinding rahim dapat memicu perdarahan yang tidak bisa berhenti.
Jika tindakan medis biasa gagal menghentikan darah, dokter terpaksa mengambil rahim agar pasien tidak kehilangan nyawa karena kehabisan darah.
3. Perforasi Uterus (Rahim Robek)
Pada aborsi bedah yang tidak dilakukan dengan hati-hati, ada risiko rahim tertusuk atau robek oleh alat tajam.
Jika lubang atau robekan yang terjadi sangat parah dan mengenai organ dalam lainnya, rahim mungkin tidak bisa lagi dijahit atau diperbaiki.
Bahaya Aborsi Tidak Aman
Istilah aborsi tidak aman merujuk pada prosedur yang dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten atau di lingkungan yang tidak memenuhi standar medis.
Menurut standar WHO, aborsi jenis ini sangat berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada saluran kelamin dan organ dalam.
Benda-benda berbahaya atau metode yang tidak sesuai standar yang dimasukkan ke dalam rahim dapat menyebabkan luka parah (jaringan parut) yang membuat seorang wanita sulit hamil kembali atau bahkan kehilangan rahimnya seperti yang dialami Ayu Aulia.
Gejala Komplikasi yang Harus Diwaspadai
Penting bagi wanita untuk mengenali tanda-tanda bahaya setelah melakukan tindakan aborsi atau mengalami keguguran, antara lain:
- Demam tinggi dan menggigil.
- Keluarnya cairan putih berbau busuk dari vagina.
- Perdarahan hebat yang merembes lebih dari dua pembalut dalam satu jam.
- Nyeri perut atau kram yang sangat hebat dan tidak kunjung hilang.