- Industri herbal Indonesia terus tumbuh didorong tren global, meski pelaku usaha menghadapi tantangan perizinan dan persaingan ketat.
- Brand herbal Sanga Sanga merayakan hari jadi kedua di Bali dengan fokus memperkuat kualitas, legalitas, dan distribusi.
- Sanga Sanga sukses menembus pasar internasional, memperoleh izin edar Eropa, serta berpartisipasi dalam forum WIPO di Jenewa.
Suara.com - Di tengah kondisi industri dan ekonomi yang masih penuh tantangan, semakin banyak brand lokal Indonesia yang berupaya bertahan sekaligus memperluas pasar melalui inovasi, penguatan legalitas, dan adaptasi terhadap kebutuhan konsumen yang terus berubah.
Tren produk herbal dan wellness sendiri terus menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.
Kementerian Perindustrian menyebut pergeseran tren konsumen global yang mulai mengarah pada produk alami dan berbasis herbal menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan industri kosmetik dan obat tradisional Indonesia.
Sementara itu, BPOM dalam Indonesia Wellness Festival 2025 menyebut nilai ekonomi industri wellness global telah mencapai sekitar USD 7 triliun.
Namun di balik peluang tersebut, pelaku industri herbal nasional juga menghadapi tantangan yang tidak sedikit.
Mulai dari proses perizinan dan legalitas yang panjang, persaingan pasar yang semakin ketat, edukasi masyarakat, hingga tantangan menembus pasar internasional yang memiliki regulasi berbeda di setiap negara.
Kondisi tersebut juga dirasakan oleh banyak pelaku usaha lokal, termasuk Sanga Sanga, brand herbal asal Bali yang tengah memperingati perayaan 2nd Anniversary Sanga Sanga bersama para mitra dan distributor dari berbagai daerah di Indonesia dengan tema “Berjaya Bersama Sanga Sanga” di Bali, Kamis (14/5).

Perjalanan Sanga Sanga sendiri lahir dari transformasi panjang racikan herbal karya Bambang Pranoto yang telah dikenal masyarakat Indonesia selama lebih dari satu dekade.
Dalam proses pengembangannya, perusahaan menghadapi berbagai fase penyesuaian mulai dari pembaruan legalitas, perizinan BPOM dan Halal, penguatan distribusi, hingga edukasi ulang pasar terhadap identitas brand.
Founder & CEO Sanga Sanga, Riva Effrianti, mengatakan bahwa membangun brand herbal di tengah dinamika industri saat ini membutuhkan konsistensi yang panjang, terutama untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
"Banyak tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha herbal saat ini. Tidak hanya soal pasar, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas, memenuhi regulasi, membangun distribusi, serta terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Kami percaya proses itu harus dijalani secara bertahap dan konsisten," ujar Riva Effrianti dalam perayaan anniversary Sanga Sanga.
Di tengah proses tersebut, perusahaan mulai menunjukkan pertumbuhan pasar yang cukup positif. Selain memperluas jaringan distribusi nasional, produk Sanga Sanga juga telah memperoleh izin CPNP atau izin edar di Eropa, yang menandakan produk telah memenuhi regulasi kosmetik Uni Eropa.
Sanga Sanga juga mencatat langkah penting di level internasional melalui partisipasi sebagai delegasi Indonesia dalam forum WIPO (World Intellectual Property Organization) General Assembly 2025 di Jenewa, Swiss.

Kehadiran tersebut menjadi momentum penting bagi perusahaan dalam membawa brand herbal Indonesia ke panggung global sekaligus memperkuat kesadaran pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual bagi karya dan inovasi anak bangsa.
Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu contoh bagaimana produk herbal lokal mulai mencoba memperluas peluang di pasar internasional.