- Data OJK tahun 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan di Indonesia meningkat lebih cepat daripada tingkat literasi keuangan.
- Kesenjangan literasi finansial terjadi pada generasi muda serta penyandang disabilitas yang akses perbankannya masih relatif rendah.
- HSBC Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia meluncurkan program edukasi keuangan berbasis pengalaman bagi 1.700 pelajar dan disabilitas.
Perwakilan OJK, Chandra Shadiq Faritzi, menegaskan pentingnya kesetaraan dalam literasi keuangan, termasuk bagi penyandang disabilitas.
“Peningkatan akses keuangan harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi keuangan yang setara bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa OJK telah menghadirkan pedoman inklusi disabilitas serta panduan literasi keuangan khusus untuk mendukung ekosistem yang lebih inklusif.
Selain program untuk siswa sekolah, inisiatif ini juga menyasar pelajar SMP melalui pembelajaran kewirausahaan dan pengelolaan uang berbasis praktik, serta mahasiswa melalui tantangan inovasi finansial yang mendorong pemecahan masalah keuangan nyata.
Sejak 2008, kolaborasi edukasi finansial ini telah menjangkau puluhan ribu pelajar di Indonesia. Namun fokus utamanya tetap sama: membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini melalui pendekatan yang relevan, inklusif, dan berbasis pengalaman.
Pada akhirnya, peningkatan akses keuangan tidak akan bermakna penuh tanpa kemampuan masyarakat untuk mengelolanya dengan bijak.
Literasi keuangan yang setara menjadi kunci agar seluruh kelompok, termasuk generasi muda dan penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk membangun masa depan finansial yang lebih aman dan berkelanjutan.