- Kopi Kenangan merilis laporan ESG 2025 yang berfokus pada penguatan rantai pasok lokal dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Indonesia.
- Perusahaan berhasil mengelola limbah operasional serta mengurangi emisi karbon secara signifikan melalui berbagai program efisiensi ramah lingkungan.
- Kopi Kenangan menciptakan lapangan kerja inklusif bagi penyandang disabilitas melalui program pelatihan barista yang dimulai pada tahun 2026.
Suara.com - Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu keberlanjutan, industri makanan dan minuman dituntut untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Komitmen inilah yang terus diperkuat oleh Kopi Kenangan melalui berbagai inisiatif keberlanjutan yang dirangkum dalam Laporan Environmental, Social, and Governance (ESG) 2025.
Bagi banyak orang, secangkir kopi mungkin hanya menjadi teman memulai hari. Namun di baliknya, ada rantai panjang yang melibatkan petani, pemasok, karyawan, hingga komunitas lokal. Kopi Kenangan mencoba memastikan bahwa setiap mata rantai tersebut mendapatkan manfaat dari pertumbuhan bisnis yang mereka bangun.
Sepanjang 2025, perusahaan mencatat sejumlah capaian yang menunjukkan bagaimana keberlanjutan diterapkan dalam praktik sehari-hari. Salah satunya adalah penggunaan 100 persen bahan baku utama yang dipasok dari supplier lokal. Langkah ini tidak hanya memperkuat rantai pasok dalam negeri, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan industri kopi Indonesia.
Komitmen tersebut turut berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Selama tahun 2025, Kopi Kenangan mempekerjakan lebih dari 7.500 karyawan dengan total pembayaran upah mencapai Rp467 miliar. Angka ini menjadi bagian dari kontribusi perusahaan terhadap perekonomian nasional sekaligus upaya menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas.
Di sisi lingkungan, perusahaan mulai memperkuat langkah menuju operasional yang lebih ramah lingkungan. Melalui berbagai program ekonomi sirkular, lebih dari 50 ton limbah operasional berhasil dialihkan dari tempat pembuangan akhir. Selain itu, Kopi Kenangan juga mulai memetakan jejak karbon operasional dan berhasil mengurangi emisi karbon hingga 81.672 kilogram CO2e melalui berbagai inisiatif efisiensi.
Perjalanan menuju keberlanjutan juga dimulai dari hulu. Bersama Universitas Udayana dan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Kintamani Bali, Kopi Kenangan menjalankan program penguatan ekosistem pertanian kopi. Program ini mencakup edukasi pertanian berkelanjutan bagi puluhan petani, inkubasi bisnis untuk anak-anak petani, hingga dukungan infrastruktur yang diharapkan dapat memperkuat masa depan industri kopi lokal.
Head of Legal & Corporate Affairs Kopi Kenangan, Inneke Lestari, mengatakan perusahaan percaya bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus mampu menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan.
"Kami terus berupaya memastikan bahwa pertumbuhan bisnis Kopi Kenangan berjalan seiring dengan kontribusi positif terhadap lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik," ujarnya.
Tak hanya fokus pada lingkungan dan ekonomi, Kopi Kenangan juga memperluas dampak sosial melalui program Barista Hebat yang diluncurkan pada 2026. Program ini membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas tuli melalui pelatihan barista, pengembangan keterampilan kerja, serta pendampingan profesional sebelum terjun ke industri makanan dan minuman.
Melalui kolaborasi dengan Parakerja, program tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan setara. Inisiatif ini sekaligus menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga tentang membuka akses dan peluang bagi lebih banyak orang untuk berkembang.
Di tengah persaingan industri kopi yang semakin ketat, langkah Kopi Kenangan menunjukkan bahwa bisnis dan keberlanjutan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru, ketika keduanya berjalan beriringan, pertumbuhan yang tercipta dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, lingkungan, dan masa depan industri kopi Indonesia.