Dari Gula Jadi Plastik Mudah Terurai, Seberapa Jauh Bioplastik Bisa Atasi Polusi?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:15 WIB
Dari Gula Jadi Plastik Mudah Terurai, Seberapa Jauh Bioplastik Bisa Atasi Polusi?
Sedotan dan garpu yang dapat dikomposkan, yang terbuat dari plastik yang berasal dari tumbuhan, dipajang di CJ Biomaterials, Senin, 3 Agustus 2026, di Woburn, Massachusetts. (dok. AP Photo/Charles Krupa)

Kemampuan ini dinilai berpotensi digunakan untuk produk seperti wadah makanan yang sulit didaur ulang setelah tercemar sisa makanan.

Namun, kemampuan terurai tersebut tidak berarti produk PHA akan otomatis hilang begitu saja setelah dibuang.

Proses penguraian tetap bergantung pada kondisi lingkungan dan sistem pengelolaan sampah tempat material tersebut berakhir.

Produksi PHA juga dilakukan di Indonesia

Pengembangan material tersebut tidak hanya dilakukan di Amerika Serikat.

CJ Biomaterials, yang merupakan bagian dari konglomerasi Korea Selatan, telah memproduksi PHA di fasilitas manufakturnya di Pasuruan, Jawa Timur, sejak 2022.

Pengembangan PHA dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap penggunaan material alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis bahan bakar fosil.

Namun, bioplastik belum dianggap sebagai pengganti tunggal plastik konvensional.

World Wide Fund for Nature (WWF), misalnya, melihat plastik berbasis hayati sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, bukan satu-satunya solusi persoalan plastik.

baca juga

Sejumlah kelompok lingkungan juga mengingatkan persoalan lain. Penggunaan bioplastik yang tetap berbentuk produk sekali pakai dinilai dapat mempertahankan pola konsumsi sekali pakai.

Selain itu, sebagian bahan baku bioplastik berasal dari hasil pertanian, seperti jagung dan tebu. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penggunaan lahan dan persaingannya dengan kebutuhan produksi pangan.

Masih menjadi bagian kecil dari industri plastik

Secara global, penggunaan bioplastik masih relatif kecil dibandingkan plastik konvensional.

Data kelompok industri European Bioplastics menunjukkan plastik berbasis hayati mencakup sekitar 0,5% dari lebih dari 400 juta metrik ton produksi plastik global setiap tahun.

Namun, kelompok industri tersebut memperkirakan kapasitas produksi bioplastik akan meningkat hingga sekitar dua kali lipat pada 2030 seiring dengan pertumbuhan permintaan.

Pertumbuhan tersebut tetap menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya adalah biaya produksi yang masih lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional. Infrastruktur pengomposan juga belum tersedia secara merata, sementara tidak semua fasilitas pengolahan sampah menerima produk bioplastik.

Masalah lainnya muncul karena bentuk bioplastik dapat menyerupai plastik konvensional.

Ketika keduanya tercampur dalam sistem pengelolaan sampah, proses pemilahan dan pengolahan dapat menjadi lebih rumit.

Tidak semua bioplastik otomatis terurai
Kemampuan material untuk terurai juga menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian.

5 Gyres Institute pernah menguji 22 produk yang terbuat dari plastik konvensional, material berbasis hayati, dan material yang dapat terurai secara hayati.

Setelah 64 minggu, sejumlah material yang dirancang dapat terurai menunjukkan perubahan seperti menghilang, berlubang, atau retak. Sementara itu, material berbasis bahan bakar fosil yang diuji tidak menunjukkan perubahan serupa.

Peneliti kemudian melakukan pengujian lanjutan untuk melihat perilaku berbagai material tersebut pada akhir masa penggunaannya.

Hasil penelitian menunjukkan material yang dapat terurai secara hayati memiliki perilaku berbeda dibandingkan plastik konvensional. Namun, tingkat penguraiannya tetap bergantung pada kondisi lingkungan dan sistem pengelolaan sampah.

Artinya, label “bioplastik” atau “biodegradable” tidak dengan sendirinya berarti sebuah produk akan terurai di mana pun ia dibuang.

Ketersediaan fasilitas pengomposan, kondisi lingkungan, serta pengelolaan sampah menjadi faktor yang menentukan.

Karena itu, pengembangan plastik berbasis hayati seperti PHA menawarkan salah satu alternatif terhadap plastik konvensional, tetapi masih menghadapi persoalan biaya, infrastruktur, penggunaan bahan baku, hingga pengelolaan setelah produk menjadi sampah.

Dengan kata lain, tantangannya bukan hanya membuat plastik yang dapat terurai, tetapi juga memastikan material tersebut memiliki tempat yang tepat setelah masa pakainya berakhir.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Cuma Konsumen, Mengapa Pelaku Usaha Didesak untuk Turut Kurangi Mikroplastik?

Bukan Cuma Konsumen, Mengapa Pelaku Usaha Didesak untuk Turut Kurangi Mikroplastik?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:39 WIB

Studi Ungkap Dampak Penuaan Mikroplastik terhadap Polutan di Tanah

Studi Ungkap Dampak Penuaan Mikroplastik terhadap Polutan di Tanah

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 17:55 WIB

Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan

Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:10 WIB

Terkini

Mengendus Rekayasa Hukum Lahan Kencana Bogor, Kuasa Hukum Ujang Minta Gelar Perkara Khusus

Mengendus Rekayasa Hukum Lahan Kencana Bogor, Kuasa Hukum Ujang Minta Gelar Perkara Khusus

Jabar | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:16 WIB

Ahmad Doli Tegaskan RUU Masyarakat Adat Tak Akan Lemahkan Otonomi Khusus

Ahmad Doli Tegaskan RUU Masyarakat Adat Tak Akan Lemahkan Otonomi Khusus

DPR | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:15 WIB

Viral Tantangan Hafalan Alquran Berhadiah Miras di The Sounds Project, Newport Bakal Tindak Kru

Viral Tantangan Hafalan Alquran Berhadiah Miras di The Sounds Project, Newport Bakal Tindak Kru

Entertainment | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:15 WIB

Dari Gula Jadi Plastik Mudah Terurai, Seberapa Jauh Bioplastik Bisa Atasi Polusi?

Dari Gula Jadi Plastik Mudah Terurai, Seberapa Jauh Bioplastik Bisa Atasi Polusi?

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:15 WIB

Komisi VIII DPR Desak Polisi Usut Promosi Miras Pakai Ayat Al-Qur'an di Acara Musik

Komisi VIII DPR Desak Polisi Usut Promosi Miras Pakai Ayat Al-Qur'an di Acara Musik

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:13 WIB

Akhirnya Nintendo Resmi Masuk ke Indonesia pada Desember 2026

Akhirnya Nintendo Resmi Masuk ke Indonesia pada Desember 2026

Tekno | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:13 WIB

AHY Soroti Ketahanan Air dalam Pameran Solusi Air, Energi, dan Lingkungan

AHY Soroti Ketahanan Air dalam Pameran Solusi Air, Energi, dan Lingkungan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:12 WIB

Andina Narang Ajak Pelajar Kalteng Bijak dan Cerdas Manfaatkan Teknologi

Andina Narang Ajak Pelajar Kalteng Bijak dan Cerdas Manfaatkan Teknologi

DPR | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:08 WIB

Pramono Anung Kecam Challenge Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Konser Musik

Pramono Anung Kecam Challenge Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Konser Musik

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:04 WIB

Saat Kepercayaan Badminton Lovers Diuji: Ada Apa dengan Bulutangkis Indonesia?

Saat Kepercayaan Badminton Lovers Diuji: Ada Apa dengan Bulutangkis Indonesia?

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:03 WIB

×