Kemampuan ini dinilai berpotensi digunakan untuk produk seperti wadah makanan yang sulit didaur ulang setelah tercemar sisa makanan.
Namun, kemampuan terurai tersebut tidak berarti produk PHA akan otomatis hilang begitu saja setelah dibuang.
Proses penguraian tetap bergantung pada kondisi lingkungan dan sistem pengelolaan sampah tempat material tersebut berakhir.
Produksi PHA juga dilakukan di Indonesia
Pengembangan material tersebut tidak hanya dilakukan di Amerika Serikat.
CJ Biomaterials, yang merupakan bagian dari konglomerasi Korea Selatan, telah memproduksi PHA di fasilitas manufakturnya di Pasuruan, Jawa Timur, sejak 2022.
Pengembangan PHA dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap penggunaan material alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis bahan bakar fosil.
Namun, bioplastik belum dianggap sebagai pengganti tunggal plastik konvensional.
World Wide Fund for Nature (WWF), misalnya, melihat plastik berbasis hayati sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, bukan satu-satunya solusi persoalan plastik.
Sejumlah kelompok lingkungan juga mengingatkan persoalan lain. Penggunaan bioplastik yang tetap berbentuk produk sekali pakai dinilai dapat mempertahankan pola konsumsi sekali pakai.
Selain itu, sebagian bahan baku bioplastik berasal dari hasil pertanian, seperti jagung dan tebu. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai penggunaan lahan dan persaingannya dengan kebutuhan produksi pangan.
Masih menjadi bagian kecil dari industri plastik
Secara global, penggunaan bioplastik masih relatif kecil dibandingkan plastik konvensional.
Data kelompok industri European Bioplastics menunjukkan plastik berbasis hayati mencakup sekitar 0,5% dari lebih dari 400 juta metrik ton produksi plastik global setiap tahun.
Namun, kelompok industri tersebut memperkirakan kapasitas produksi bioplastik akan meningkat hingga sekitar dua kali lipat pada 2030 seiring dengan pertumbuhan permintaan.
Pertumbuhan tersebut tetap menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah biaya produksi yang masih lebih tinggi dibandingkan plastik konvensional. Infrastruktur pengomposan juga belum tersedia secara merata, sementara tidak semua fasilitas pengolahan sampah menerima produk bioplastik.
Masalah lainnya muncul karena bentuk bioplastik dapat menyerupai plastik konvensional.
Ketika keduanya tercampur dalam sistem pengelolaan sampah, proses pemilahan dan pengolahan dapat menjadi lebih rumit.
Tidak semua bioplastik otomatis terurai
Kemampuan material untuk terurai juga menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian.
5 Gyres Institute pernah menguji 22 produk yang terbuat dari plastik konvensional, material berbasis hayati, dan material yang dapat terurai secara hayati.
Setelah 64 minggu, sejumlah material yang dirancang dapat terurai menunjukkan perubahan seperti menghilang, berlubang, atau retak. Sementara itu, material berbasis bahan bakar fosil yang diuji tidak menunjukkan perubahan serupa.
Peneliti kemudian melakukan pengujian lanjutan untuk melihat perilaku berbagai material tersebut pada akhir masa penggunaannya.
Hasil penelitian menunjukkan material yang dapat terurai secara hayati memiliki perilaku berbeda dibandingkan plastik konvensional. Namun, tingkat penguraiannya tetap bergantung pada kondisi lingkungan dan sistem pengelolaan sampah.
Artinya, label “bioplastik” atau “biodegradable” tidak dengan sendirinya berarti sebuah produk akan terurai di mana pun ia dibuang.
Ketersediaan fasilitas pengomposan, kondisi lingkungan, serta pengelolaan sampah menjadi faktor yang menentukan.
Karena itu, pengembangan plastik berbasis hayati seperti PHA menawarkan salah satu alternatif terhadap plastik konvensional, tetapi masih menghadapi persoalan biaya, infrastruktur, penggunaan bahan baku, hingga pengelolaan setelah produk menjadi sampah.
Dengan kata lain, tantangannya bukan hanya membuat plastik yang dapat terurai, tetapi juga memastikan material tersebut memiliki tempat yang tepat setelah masa pakainya berakhir.
Penulis: Chairunisa