Suara.com - Tangan Fadhl bergerak di depan dada. Tubuhnya mengikuti, wajahnya berubah-ubah, sementara mulutnya tetap diam. Di tengah ramainya Taman Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu sore itu, sekelompok orang tampak sibuk memperagakan sesuatu. Ada yang berjalan, berhenti, lalu menggerakkan tubuh dengan ekspresi yang membuat saya penasaran.
Saya menghampiri mereka. Kebetulan, sore itu saya memang punya janji dengan seorang pegiat pantomim. Salah seorang dari mereka kemudian memperkenalkan diri sebagai Fadhl.
“Ini kalau mau tahu tentang Remime, nanti ada teman saya, namanya Bagas sama Angga. Mereka lebih paham soalnya. Bentar lagi orangnya datang,” kata Fadhl.
Tak lama kemudian, Bagas dan Angga datang. Kami akhirnya duduk di atas rerumputan. Di tengah suara orang bermain bola dan aktivitas pengunjung taman lainnya, obrolan tentang pantomim dimulai.
Bagi sebagian orang, pantomim mungkin masih identik dengan wajah yang dicat putih, pakaian bergaris, serta gerakan seolah-olah sedang menyentuh tembok yang tidak terlihat.
Namun bagi Muhammad Angga Nurohman, pegiat komunitas Remime, pantomim jauh lebih dari sekadar pertunjukan tanpa suara.
Ia justru melihat ketiadaan suara sebagai kekuatan.
Ketika kata-kata tidak lagi diperlukan
Angga pernah merasakan sendiri bagaimana gerakan tubuh dapat menggantikan bahasa verbal. Pengalaman itu terjadi ketika ia mengajar pantomim di sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB), termasuk bertemu dengan siswa penyandang tuli.
Pada awalnya, Angga kebingungan. Ia tidak cukup menguasai bahasa isyarat. Sementara itu, siswa yang dia hadapi memiliki keterbatasan dalam mendengar dan berbicara.
Ada jarak komunikasi yang harus dijembatani. Namun pantomim justru memberikan jalan keluar.
“Mereka ini tuli, gak bisa dengar dan bicara. Awalnya bingung, gimana ini komunikasinya. Tapi, inget kalau pantomim kan juga gak ngomong, ya. Akhirnya diakalin pakai gerakan sama ekspresi,” kata Angga.
Gerakan tangan, perubahan ekspresi wajah, dan bahasa tubuh yang selama ini menjadi bagian dari pertunjukan pantomim berubah menjadi alat komunikasi.
Tidak ada kalimat yang perlu diterjemahkan. Tidak ada bahasa yang harus disamakan. Tubuh menjadi bahasanya.
Pengalaman serupa terjadi ketika Angga bertemu dengan seniman pantomim asal Jepang, Naoki Nagai. Mereka tidak berbicara dalam bahasa ibu yang sama. Komunikasi verbal pun akhirnya terputus.