- Siswa SMA Mutiara Harapan Islamic School menciptakan Smart Stick berbasis AI untuk membantu aktivitas penyandang tunanetra.
- Tim siswa tersebut berhasil meraih 14 medali emas dan Outstanding Award dalam ajang ORBIT-C 2026 di China.
- Inovasi tongkat pintar karya pelajar Indonesia ini mendapat apresiasi serta ketertarikan dari seorang profesor di China.
Suara.com - Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya dikembangkan oleh perusahaan teknologi atau lembaga riset. Di tangan pelajar, teknologi tersebut juga dapat menjadi solusi untuk membantu masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Hal itu ditunjukkan siswa SMA Mutiara Harapan Islamic School (MHIS) melalui Smart Stick, sebuah tongkat pintar berbasis AI yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra mengenali lingkungan dan mendeteksi berbagai hambatan di sekitarnya.
Inovasi tersebut dibawa tim siswa MHIS dalam ajang Outstanding, Research, Robotic, Innovation & Technology Conference (ORBIT-C) 2026 yang berlangsung di China pada 22–26 Juli 2026.
Dalam kompetisi internasional yang mempertemukan pelajar dari sejumlah negara tersebut, tim MHIS berhasil meraih 14 medali emas dan Outstanding Award.
Namun, Smart Stick tidak hanya menarik perhatian karena penghargaan yang diraih. Inovasi tersebut juga mendapat apresiasi dari salah seorang profesor di China yang melihat potensi pengembangan lebih lanjut dari teknologi karya para siswa tersebut.
Smart Stick Manfaatkan AI untuk Bantu Tunanetra
Smart Stick dikembangkan dengan memanfaatkan sensor dan kecerdasan buatan untuk membantu pengguna mendeteksi objek atau hambatan yang berada di sekitar mereka.
Ketika perangkat mendeteksi adanya halangan, Smart Stick akan memberikan peringatan kepada pengguna melalui suara atau voice assistance serta bunyi notifikasi.
Dengan sistem tersebut, pengguna diharapkan dapat lebih mudah mengetahui kondisi lingkungan di sekitarnya tanpa harus mengandalkan penglihatan.
Konsep ini membuat Smart Stick bukan sekadar perangkat teknologi, tetapi juga sebuah inovasi yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat.
Para siswa mencoba menggabungkan teknologi dengan kebutuhan penyandang tunanetra sehingga perangkat yang dikembangkan memiliki tujuan praktis, yakni membantu pengguna beraktivitas secara lebih aman dan mandiri.
Dilirik Profesor di China
Karya tersebut kemudian mendapat perhatian dari akademisi internasional ketika dipresentasikan dalam ORBIT-C 2026.
Seorang profesor di China memberikan apresiasi terhadap potensi Smart Stick dan menyampaikan ketertarikannya agar inovasi tersebut dapat terus dikembangkan.
Bahkan, Smart Stick dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan hingga dapat dipasarkan di China.
Apresiasi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para siswa MHIS. Pasalnya, karya yang pada awalnya dikembangkan untuk menghadirkan solusi bagi penyandang tunanetra ternyata mendapat respons positif dari akademisi di tingkat internasional.
"Kami sangat bersyukur bisa mewakili Indonesia di ajang internasional ini. Awalnya, kami hanya ingin menciptakan solusi yang benar-benar bermanfaat bagi penyandang tunanetra. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa Smart Stick akan mendapat apresiasi hingga menarik perhatian seorang profesor di China," ujar Andhara, siswi SMA Mutiara Harapan Islamic School.
Menurut Andhara, pengalaman mengikuti kompetisi internasional tersebut menjadi motivasi bagi tim untuk terus mengembangkan inovasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Tak Sekadar Mengejar Medali
Prestasi Smart Stick menjadi bagian dari pencapaian tim MHIS di ORBIT-C 2026. Selain Outstanding Award, tim siswa sekolah tersebut berhasil membawa pulang 14 medali emas.
ORBIT-C merupakan ajang yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara untuk mempresentasikan karya di bidang riset, robotika, inovasi, dan teknologi.
Peserta tidak hanya dinilai berdasarkan kecanggihan teknologi yang dibuat. Aspek inovasi, implementasi, dampak sosial, serta kemampuan mempresentasikan karya di hadapan juri internasional juga menjadi bagian dari penilaian.
Bagi MHIS, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran di sekolah dapat diarahkan untuk menghasilkan karya yang memiliki manfaat di luar ruang kelas.
Kepala SMA Mutiara Harapan Islamic School, Ms Sintala, mengatakan prestasi para siswa menjadi bukti komitmen sekolah dalam membina generasi yang unggul secara akademik, memiliki karakter Islami, dan mampu bersaing di tingkat global.
"Kami sangat bangga atas prestasi para siswa yang telah mewakili Indonesia di ajang internasional ORBIT-C. Pencapaian ini menjadi bukti nyata komitmen SMA Mutiara Harapan Islamic School dalam membina generasi champion yang unggul dalam akademik, berkarakter Islami, serta siap bersaing dan memberikan kontribusi positif di tingkat global," ujarnya.
Smart Stick pada akhirnya menunjukkan bagaimana pendidikan dan teknologi dapat berjalan beriringan. Dari sebuah gagasan yang dikembangkan oleh siswa, lahir inovasi yang tidak hanya memenangkan kompetisi, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi solusi yang lebih luas bagi penyandang tunanetra.
Ketertarikan profesor di China terhadap Smart Stick pun menjadi sinyal bahwa karya inovasi pelajar Indonesia memiliki peluang untuk mendapat perhatian dan dikembangkan di tingkat internasional.