- Disparekraf DKI Jakarta menggelar Jakarta Ecotourism Festival 2026 di Learning Farm Ecopark Ancol pada Rabu, 12 Agustus 2026.
- Ratusan pelajar dan mahasiswa mengikuti kegiatan outbound edukatif untuk memperkenalkan prinsip pariwisata berkelanjutan sejak usia dini.
- Peserta antusias mengikuti berbagai aktivitas seperti menyiram tanaman, bermain angklung, dan melukis kreatif menggunakan daun kering.
Suara.com - Pariwisata berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang menjaga lingkungan, tetapi juga bagaimana generasi muda memahami bahwa kegiatan wisata dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian alam, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Pemahaman tersebut penting dikenalkan sejak dini agar wisatawan masa depan tidak sekadar datang untuk menikmati destinasi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan dan menghargai kekayaan budaya yang ada.
Semangat itu turut diangkat dalam rangkaian Jakarta Ecotourism Festival 2026 yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta. Salah satu kegiatannya dikemas dalam bentuk outbound yang melibatkan ratusan pelajar dan mahasiswa di Learning Farm, Ecopark Ancol, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai ajang rekreasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai ekowisata dan pentingnya menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan dalam aktivitas wisata.
Sejak pagi, para peserta dijemput dari sekolah dan kampus masing-masing menggunakan bus. Di setiap bus, terdapat pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yang memberikan informasi mengenai ekowisata selama perjalanan.
Peserta berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Bunda Mulia, Universitas Asa Indonesia, dan Universitas Gunadarma. Sementara dari jenjang sekolah menengah, peserta berasal dari SMA 10, SMA 19, SMA 26, SMA 54, SMK 24, SMK 38, SMK 58, SMK 66, SMK Perguruan Cikini, SMK Wisata Indonesia, SMK Bina Dharma, serta SMP 113.
Setibanya di lokasi, peserta terlebih dahulu mengikuti ice breaking. Mereka kemudian diminta membaur dengan peserta dari sekolah dan kampus lain sebelum dibagi secara acak menjadi 24 kelompok.
Kegiatan outbound dibagi menjadi tiga gelombang. Kelompok 1-8 mengikuti permainan menyiram tanaman, kelompok 9-16 belajar memainkan angklung sambil menyanyikan lagu "Hari Merdeka", sedangkan kelompok 17-24 mengikuti aktivitas melukis kreatif menggunakan daun kering dan alat tulis yang telah disiapkan panitia.
Setiap kelompok kemudian bergantian mengikuti seluruh aktivitas tersebut.
Selain mengajak peserta berinteraksi dengan lingkungan, kegiatan juga memperkenalkan unsur budaya dalam pengalaman wisata. Salah satunya melalui permainan angklung yang dipandu Adinda, pimpinan Angklung Interaktif Jakarta.
"Peserta banyak yang baru pertama kali memegang angklung. Mereka senang banget dan ternyata langsung bisa memainkannya secara kompak," kata Adinda.
Menurutnya, kemampuan peserta untuk bermain bersama meski baru saling mengenal menjadi pengalaman positif. Aktivitas tersebut sekaligus memperkenalkan salah satu kekayaan seni tradisional Indonesia kepada generasi muda melalui cara yang menyenangkan.
Hal serupa dirasakan Regina Halim, mahasiswi Fakultas Pariwisata Universitas Bunda Mulia yang dipercaya menjadi pemimpin Kelompok 1. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda karena peserta tidak hanya bermain, tetapi juga bisa berkenalan dengan teman-teman baru.
"Setelah lelah mengikuti permainan, rasanya asik banget memainkan angklung ini bareng teman-teman baru. Kok seru banget ya, sayang hanya sebentar," ujar pemenang Cici Jakarta 2026 tersebut.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan siang dan shalat. Panitia selanjutnya mengumumkan para pemenang sebelum seluruh peserta kembali ke sekolah dan kampus masing-masing.
Melalui kegiatan seperti ini, pengenalan pariwisata berkelanjutan dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda. Edukasi mengenai lingkungan, budaya, hingga pengalaman wisata yang bertanggung jawab pun dapat menjadi bagian dari aktivitas rekreasi.
Jakarta Ecotourism Festival 2026 menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan bahwa masa depan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga oleh bagaimana destinasi tetap terjaga dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.