- Ade Budi Satria menjelaskan cara mengatur posisi sadel sepeda gunung untuk meningkatkan kenyamanan dan meminimalkan cedera.
- Pesepeda dapat menyesuaikan sudut sadel yang datar atau menukik berdasarkan medan tanjakan maupun turunan yang dilalui.
- Pengaturan ketinggian sadel dan posisi lutut yang tepat dilakukan agar kayuhan pedal menjadi jauh lebih efisien.
Suara.com - Bersepeda gunung bukan hanya soal memilih sepeda dan komponen yang tepat. Posisi sadel juga perlu diperhatikan agar aktivitas gowes terasa nyaman, terutama ketika melewati jalur menanjak maupun turunan. Sadel sepeda yang terlalu tinggi, terlalu rendah, atau memiliki sudut yang kurang tepat bisa membuat posisi tubuh tidak optimal dan kaki lebih cepat lelah.
Dalam video yang dibagikan Ade Budi Satria, ia menjelaskan pentingnya mengatur posisi saddle dan seatpost sebelum bersepeda.
"Karena jika saddle dan seatpost dalam posisi yang benar, akan meningkatkan kenyamanan, lebih efisien saat pedalling, dan meminimalisir cedera saat bersepeda," kata Ade.
Karena itu, pengaturan sadel sebaiknya tidak dilakukan sekadar berdasarkan perkiraan. Ada beberapa hal yang bisa diperiksa, mulai dari sudut sadel hingga ketinggian seatpost. Berikut tips menyetel sadel sepeda gunung berdasarkan penjelasan Ade Budi Satria.
1. Atur Angle Saddle Sesuai Medan Bersepeda
Langkah pertama adalah menentukan sudut atau angle saddle. Pengaturan ini dapat dilakukan menggunakan kunci L pada bagian pengikat sadel dan seatpost.
![Ilustrasi Sepeda MTB Untuk Bapak-bapak [Andi Ahmad S/Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/07/53250-sepeda-mtb.jpg)
Menurut Ade Budi Satria, terdapat tiga pilihan posisi dasar angle saddle, yakni datar, menukik ke depan, atau menukik ke belakang. Posisi yang digunakan dapat disesuaikan dengan jenis sepeda dan medan yang paling sering dilalui.
Bagi pesepeda yang lebih sering melewati jalur uphill, posisi sadel dapat dibuat sedikit menukik ke bawah atau ke depan. Posisi ini dapat membantu menyesuaikan posisi tubuh ketika menghadapi tanjakan.
Sebaliknya, jika lebih sering melakukan downhill, sadel dapat diatur sedikit menukik ke belakang. Namun, sudutnya tetap perlu disesuaikan dengan kenyamanan dan karakter sepeda.
Jangan membuat sudut sadel terlalu ekstrem. Setelah mengubah posisi, pastikan seluruh baut pengikat dikencangkan dengan baik agar sadel tidak bergeser ketika digunakan.
2. Duduk di Saddle untuk Menentukan Ketinggian
Setelah angle saddle sesuai, tahap berikutnya adalah mengatur ketinggian saddle atau seatpost.
Ade Budi Satria menjelaskan bahwa pesepeda dapat terlebih dahulu duduk di atas saddle. Setelah itu, arahkan pedal dan crank ke posisi seperti jarum jam menunjukkan angka 6, atau berada tepat di bagian paling bawah.
Selanjutnya, letakkan tumit kaki di atas pedal dengan posisi kaki tegap lurus.
Jika kaki belum dapat berada dalam posisi lurus, ketinggian saddle dapat dinaikkan sedikit demi sedikit hingga posisi tersebut tercapai.
Cara ini digunakan sebagai titik awal untuk menemukan ketinggian sadel yang sesuai. Setelah mendapat posisi awal, pesepeda tetap perlu mencobanya dengan mengayuh sepeda untuk memastikan posisi tersebut benar-benar nyaman.
3. Perhatikan Apakah Pinggul Masih Goyang
Ada satu tanda penting yang perlu diperhatikan setelah ketinggian saddle dinaikkan.
Jika ketika mengayuh posisi pinggul masih terlihat bergoyang atau tubuh harus bergerak ke kanan dan kiri untuk menjangkau pedal, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa saddle terlalu tinggi.
Dalam kondisi tersebut, turunkan saddle sedikit dan lakukan pengecekan kembali.
Posisi sadel yang terlalu tinggi bukan hanya berpotensi membuat gowesan terasa tidak nyaman, tetapi juga dapat membuat tubuh kehilangan posisi yang stabil ketika mengayuh.
4. Cek Posisi Lutut Saat Mengayuh
Sebaliknya, apabila saat mengayuh kaki dan lutut masih terlalu menekuk, posisi saddle bisa jadi terlalu rendah.
Saddle yang terlalu pendek membuat sudut lutut menjadi lebih kecil ketika pedal berada di posisi bawah. Akibatnya, gerakan mengayuh dapat terasa kurang leluasa.
Karena itu, setelah melakukan pengaturan awal dengan posisi tumit, coba kembali mengayuh sepeda menggunakan posisi kaki normal. Perhatikan apakah lutut terlalu menekuk atau justru kaki terlalu menjangkau pedal.
5. Lakukan Penyesuaian Sedikit Demi Sedikit
Menemukan posisi saddle yang ideal tidak selalu bisa dilakukan hanya dalam satu kali pengaturan. Setelah mendapatkan posisi awal, lakukan percobaan dengan menaikkan atau menurunkan seatpost secara bertahap.
Pengendara juga perlu memperhatikan medan yang biasa dilalui. Posisi yang nyaman untuk bersepeda di jalan datar belum tentu terasa sama ketika digunakan untuk menghadapi tanjakan panjang atau jalur downhill.
Selain itu, pastikan seatpost dan saddle terkunci dengan kuat setelah selesai melakukan penyetelan. Buku panduan pemilik sepeda United, misalnya, juga mengingatkan agar klem saddle dikencangkan sehingga sadel tidak bergerak pada seatpost.
Mengatur tinggi saddle dan seatpost mungkin terlihat seperti hal kecil, tetapi posisinya dapat memengaruhi kenyamanan selama bersepeda. Seperti dijelaskan Ade Budi Satria, posisi saddle dan seatpost yang benar membantu meningkatkan kenyamanan, membuat kayuhan lebih efisien, sekaligus membantu meminimalkan risiko cedera.
Jadi, sebelum berangkat gowes, luangkan waktu beberapa menit untuk mengecek angle saddle, tinggi seatpost, posisi pinggul, dan tekukan lutut. Pengaturan sederhana ini bisa membuat perjalanan dengan sepeda gunung terasa lebih nyaman dan tidak mudah membuat tubuh pegal.