- Indonesia PR of the Year 2026 menyoroti pentingnya peran PR dalam membangun kepercayaan publik di tengah perkembangan teknologi AI.
- Praktisi komunikasi didorong memadukan kekuatan teknologi dengan sentuhan manusia dalam menghadapi berbagai tantangan komunikasi.
- Ajang Indonesia PR of the Year 2026 mengukur dampak program komunikasi secara komprehensif berdasarkan data digital dan jurnalis.
Suara.com - Di era ketika informasi bergerak begitu cepat, pekerjaan public relations (PR) bukan lagi sekadar membuat siaran pers atau memastikan nama perusahaan muncul di media. Tantangan terbesar praktisi komunikasi kini justru bagaimana membangun dan mempertahankan kepercayaan publik.
Teknologi artificial intelligence (AI) memang membuat pekerjaan komunikasi menjadi lebih cepat. Mulai dari membaca percakapan publik di media sosial, mengolah data, mencari insight, hingga membantu menyusun strategi komunikasi. Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, ada satu hal yang belum bisa digantikan AI: hubungan antarmanusia.
Inilah yang menjadi sorotan dalam gelaran PR & Communications Forum 2026 yang merupakan bagian dari rangkaian penghargaan Indonesia PR of the Year 2026 yang digelar Majalah MIX MarComm (SWA Media Group).
Mengusung tema “Hybrid PR: AI Makes You Faster, Humans Build Trust”, forum yang berlangsung di Auditorium & Performance Hall Prof. Dr Djayusman, LSPR Campus B Jakarta, Selasa (18/8/2026), membahas bagaimana praktisi komunikasi dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusia.
Pemimpin Redaksi Majalah MIX MarComm, Lis Hendriani, menjelaskan bahwa kepercayaan merupakan fondasi utama dalam komunikasi perusahaan.
Tanpa kepercayaan, berbagai informasi yang disampaikan perusahaan, mulai dari rilis media, kampanye pemasaran hingga laporan tahunan, berisiko hanya menjadi informasi yang lewat begitu saja.
Sebaliknya, komunikasi yang kontekstual, kredibel, terukur, beretika, dan memiliki empati dapat membangun reputasi perusahaan dalam jangka panjang.
AI Bikin Kerja PR Lebih Cepat
Perkembangan AI membawa perubahan besar dalam dunia komunikasi. Praktisi PR kini memiliki berbagai perangkat yang dapat membantu membaca sentimen publik, memantau percakapan digital hingga mengukur efektivitas sebuah kampanye.
Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia untuk menerjemahkan data menjadi strategi komunikasi yang tepat.
Hal ini turut dibahas oleh Dr. Aqsath Rasyid Naradhipa, CEO NoLimit, yang mengangkat isu “Trust Tidak Tergantikan AI”. Sementara Elga Yulwardian, CEO Ivosights, membahas bagaimana AI dapat membantu proses komunikasi perusahaan.
Menurut konsep yang diangkat dalam forum tersebut, masa depan PR bukanlah tentang memilih antara manusia atau teknologi. Justru, keduanya perlu berjalan beriringan.
AI membantu praktisi bekerja lebih cepat dan mengambil keputusan berdasarkan data. Sementara manusia tetap memegang peranan penting dalam membangun relasi, memahami emosi, membaca konteks, serta menciptakan komunikasi yang terasa autentik.
Ketika Krisis Berubah Jadi Kampanye Positif
Salah satu contoh menarik datang dari PT MRT Jakarta (Perseroda) melalui kampanye #JagaJakarta.
Kampanye tersebut diluncurkan ketika demonstrasi massa berpotensi mengganggu operasional transportasi publik. Alih-alih hanya berkomunikasi mengenai kondisi layanan, tim komunikasi MRT Jakarta mengubah situasi tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat ikut menjaga fasilitas publik.
Kampanye itu kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif yang membawa pesan bahwa menjaga fasilitas publik berarti ikut menjaga Jakarta.
Rendy Primartantyo, Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda), membagikan pengalaman tersebut dalam forum dengan topik “Hybrid PR Dalam Kampanye #JagaJakarta”.
Pendekatan komunikasi tersebut juga mengantarkan kampanye #JagaJakarta menjadi salah satu pemenang PR of the Year 2026 dengan predikat Excellent.
Kampanye ini menjadi gambaran bagaimana PR modern tidak hanya dituntut bergerak cepat saat krisis, tetapi juga mampu mengubah situasi yang penuh tantangan menjadi komunikasi yang relevan dan mengajak publik terlibat.
PR of the Year Ukur Dampak, Bukan Sekadar Eksposur
Memasuki penyelenggaraan ke-19, Indonesia PR of the Year 2026 memberikan apresiasi terhadap program komunikasi korporat sekaligus para praktisi PR di Indonesia.
Tahun ini terdapat 174 entries, yang terdiri dari 40 program Public Relations, 43 tim Corporate Communication, 10 agensi PR atau Corcomm, 35 spokesperson, 24 senior practitioners, 17 junior practitioners, serta lima instansi pemerintah atau lembaga negara.
Menariknya, penilaian tidak hanya melihat kualitas program dari perspektif para ahli. MIX MarComm juga menggunakan pengukuran kuantitatif melalui engagement rate di kanal digital serta validasi dari para jurnalis yang aktif meliput dunia bisnis.
Pengukuran tersebut mencakup tiga aspek, yakni output, berupa pemberitaan program; outcome dan impact, melalui diskusi serta wawancara dengan pemilik program; dan outtakes, melalui data crawling menggunakan Ripple10 Digital Listening Tools dari Ivosights.
Dengan pendekatan tersebut, sebuah program PR tidak hanya dinilai dari seberapa banyak pemberitaan yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana program tersebut diterima, dibicarakan, dan memberikan dampak kepada publik.